Mohon tunggu...
SATRIA KUSUMA DIYUDA
SATRIA KUSUMA DIYUDA Mohon Tunggu... Wiraswasta - ya begitu deh...

Menulis di waktu senggang saja...

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Kesejahteraan Berkesinambungan dan Ideologi Bangsa

14 Mei 2019   16:28 Diperbarui: 14 Mei 2019   16:47 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Dalam jangka pendek, sektor moneter hanya dapat mempengaruhi konsumsi dimasyarakat. Artinya jika harga-harga mengalami perubahan cepat, sektor moneter akan mengurangi jumlah uang beredar didalam perekonomian, sehingga dapat mengurangi laju konsumsi masyarakat akibat kurangnya uang sebagai alat transaksi.

Disisi satu lagi, kelompok Keynesian berargumen bahwa uang memilik peran penting untuk melakukan intervensi kebijakan ekonomi, baik produksi maupun konsumsi. Makanya ketika resesi beberapa pemerintahan (sisi fiskal) akan meningkatkan belanja pemerintahannya untuk menjaga sisi permintaan dalam negerinya. 

Pemerintah akan meminta pencetakan uang ke Bank Sentral untuk membiayai belanja pembangunannya, seterusnya dalam jangka pendek akan menjaga sisi permintaan penduduk (multiplier dari peningkatan konsumsi pemerintah). namun dalam jangka pendek seperti ini, sektor swasta tentu tidak akan dapat memenuhi permintaan, namun sektor swasta akan terdorong untuk menjaga produksinya sehingga menjaga perekonomian jatuh kedalam keadaan resesi yang dalam.

Dari sini kita dapat melihat bahwa moneteris beranggapan menjaga harga stabil lebih penting untuk menjaga permintaan, namun disisi lain Keynesian melihat, menjaga jumlah barang yang dikonsumsi masyaraka penting untuk menjaga permintaan dalam perekonomian.

Membagi Faktor Produksi dan Amanat Pancasila

Lalu manakah resep yang tepat? Tidak ada resep yang tepat, pengambil kebijakan ekonomi layaknya seorang dokter yang sedang mengobati ataupun seorang ahli gizi yang menjaga kesehatan pasiennya untuk tetap sehat dan bugar. Kondisi sang pasien tidak selamanya sehat dan bugar, atau bahkan karena terlalu bugar sang pasien sangat rentan terhadap perubahan, yang mungkin dapat menyebabkan pasien sakit kembali. Dari sini tidak ada sesuatu yang pasti, perubahan dalam ekonomi terus berlanjut naik atau turun. Namun ilmu ekonomi melihat seberapa cepat perubahan itu terjadi dan apa yang yang harus dilakukan untuk menghadapi perubahan tersebut.

Dari sini dapat dilihat, ternyata harga hanyalah sebagai sebuah instrumen saja, kebijakan terhadap harga, tidak serta merta mampu memperbaiki ataupun menjaga kesejahteraan dalam ekonomi.

Lalu apa yang dapat menjaga kesejahteraan masyarakat setidaknya dirasakan dan tidak berubah cepat? Sebenarnya perbedaan kepemilikan alat faktor produksi menjadi hal utama dalam kesejahteraan. Bianya penduduk yang tidak memiliki faktor produksi yang memiliki nilai besar akan mengalami perubahan cepat dalam kesejahteraan. Namun penduduk yang memiliki faktor produksi besar dan jarang akan menikmati nilai lebih dari kesejahteraan dalam perekonomian. 

Namun sekali lagi, kepemilikan faktor produksi pun memiliki pasarnya sendiri yang juga berubah dari waktu ke waktu. Jika teori klasik seperti Karl Marx menyebutkan kesejahteraan hanya bisa dicapai jika buruh mampu merebut alat-alat produksi dari para pemiliknya. Bagi saya ini adalah pertarungan antara pemilik faktor produksi, dimana buruh sebagai pemilik faktor produksi tenaga kerja melawan pemilik faktor produksi seperti pemilik tanah, pabrik ataupun pemilik faktor produksi lain yang memiliki nilai lebih di pasar.

Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri? Sebenarnya Indonesia sudah memilik fundamentalnya sendiri terkait sharing faktor produksi. Jika kita menelaah pidato Bung Karno di depan BPUPKI ketika merumuskan Pancasila, kita melihat bagaimana Pancasila di peras menjadi Trisila yaitu Ketuhanan; Demokrasi Ekonomi; dan Demokrasi Politik. 

Bung Karno mengajak kepada pemilik kuasa atas faktor produksi dan pemilik kuasa terhadap politik untuk melakukan amal bersama atas nama Tuhan. Tidak seperti Marx yang menganjurkan revolusi buruh untuk merebut paksa faktor produksi, Bung Karno menyadarkan para orang kaya dan penguasa (bangsawan) untuk mau berbagi kepemilikannya kepada para Marhaen. Bung Karno pun berkelakar, si Marhaen yang hanya memiliki sedikit harta berani untuk menikah dibanding seorang kaya yang harus menunggu-nunggu hingga memiliki sesuatu yang banyak lalu berani menikah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun