Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi: Kembali Ketika Hampa Menyambut Salinan Makna

11 Desember 2020   06:44 Diperbarui: 15 Desember 2020   19:36 151 32 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi: Kembali Ketika Hampa Menyambut Salinan Makna
Pixabay.com

Entahlah. Entah sudah berapa lama kaki membatu di luar sana. Tanah tempat berpijak bagai adonan bara. 

Burung, dan bunga kamboja berbisik dengan nada curiga. Tak lagi mengenaliku sebagai tuan dari tanah subur beraroma syurga, atau mereka curiga dengan jenggot panjang dan celana cingkrang yang ku kenakan.

Ku lihat sepintas di hiasan gerbang penyambutan, orang-orang berperangai asing sibuk mondar-mandir. Kulit agak gelap kecoklatan, hidung agak pesek dengan perawakan biasa. Berbicara dengan bahasa ibu, tapi sulit kufahami maknanya.

Bau tubuh itu, sama seperti diriku. Aroma tanah bercampur lumpur menguar saling menyapa, otot menonjol menandakan aku dan mereka sama-sama pencari nafkah. Rakyat biasa, manusia biasa.

Tapi suasana kota ini bukan tanah kelahiranku yang lama. Mereka tak lagi menjemur senyum di beranda rumah, tak ada lagi tawaran canda-ceria melalui tegur sapa. Mata mereka merah, hampa dari kebeningan bersaudara, berbicara hanya bila dahan pohon menimpah atap rumah.

Benarkah ini kota kelahiranku. Baru kemarin aku pergi tidur menunggu matahari baru, terbangun di tanah luas penuh coretan. RASIS, SARA, INTOLERAN. Bahasa baru yang tak pernah diajarkan ibu.

Aku asing di tanah air yang melahirkanku.

*****

Baganbatu, desember 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x