Mohon tunggu...
Kang marakara
Kang marakara Mohon Tunggu... Wiraswasta

Belajar dan mengamalkan.hinalah aku,bila itu membuatmu bahagia.aku tidak hidup dari puja pujimu

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi: Durhakalah Air Mata Telah Menjelma Batu

29 Mei 2020   08:13 Diperbarui: 29 Mei 2020   08:10 73 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi: Durhakalah Air Mata Telah Menjelma Batu
pixabay.com

Menangislah alam. Tatkalah gerimis menikam awan, mendung tempat ia bersemayam dan di lahirkan, tempat pelukan penuh kasih sayang di labuhkan, tempat segala keluhan gunda-gulana di sandarkan. Tercabik-cabik hingga tampak hati berdarah memikul pedih, tercerai-berai tali kasih semenjak lahir tertanam dalam sanubari. Patah dalam bilangan sedih tak terhitung lagi, luka berdarah tersiram kedurhakaan yang seharusnya tak terjadi.

Air susu yang mengalir dalam urat nadi, pucuk cinta yang di tanam semenjak bayi, nutrisi buah keringat dan penderitaan yang tak terperih, lelah dan sakit bukan di anggap penghalang kasih, air mata tak di pedulikan telah menetes sepanjang detak waktu silih berganti.

Menangislah sejadi-jadinya, meraunglah sekuat tenaga, meratap menyesali nasip penuh durhaka, pada edaran siang dan malam yang selama ini terlupa, pada setiap tarikan dan hembusan napas tersia-sia.

"Emak, ampunkan beta."

"Emak, maafkan segala salah."

"Emak, sesal beta telah mencampakan kasih sayangmu."

"Sesal beta telah terbujuk manis dunia yang menipu."

Air mata telah menjadi batu, kutukan terlontar tersebab dalamnya pilu. Bukan tak tersiksa hati yang mencintai mengucap sumpah, bukan tak menderita jiwa penuh kasih mesti mengutuk diri.

Meraunglah dalam tersiksa, menangislah hingga akhir dunia.

Bagan batu, mei 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x