Mohon tunggu...
Kaha Anwar
Kaha Anwar Mohon Tunggu...

MJS Press

Selanjutnya

Tutup

Media

Ingat Mereka, Ingat Bung Karno

8 Juni 2015   07:23 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:17 0 0 0 Mohon Tunggu...

Bung Karno, Sang Proklamator itu memang bak referensi yang tak habis untuk ditulis dalam bentuk apa saja. Laku hidupnya memang unik. Sosoknya yang karismatik membuat banyak orang akan selalu mengenangnya. Ia pawai berorasi, membakar semangat juang bagi siapa saja yang mendengarkan khotbahnya. Boleh jadi, hanya ia yang mampu memulangkan berjibun massa yang memadati Lapangangan Ikada (Lapangan Monumen Nasional, sekarang) tanpa letusan senjata.

Namun, bukan berarti Bung Karno lepas dari catatan hitam. Bapak Revolusi itu tetaplah seorang manusia seperti pada umumnya. Bahkan, di akhir kepemimpinan banyak catatan hitam tentangnya. Baik yang berkaitan dengan gaya kepemimpinan maupun tentang sosok pribadinya. Dalam Catatan Pinggir-nya (edisi 12 Oktober 1985), Goenawan Mohamad menulis, “Saya teringat cerita Pak Said dari Taman Siswa…ia mengungkapkan mengenai sosok Bapak Besar Revolusi, ‘ Saya tak bisa, Bung Karnolah yang dulu, ketika saya seusia kalian, membangkitkan hasrat saya untuk tanah air yang merdeka, Itulah Bung Karno saya. Bahwa Bung Karno yang kalian lihat sekarang adalah Bung Karno yang suka kesenangan dan perempuan—itu adalah Bung Karno kalian. Saya juga tak bisa menuntut kalian bersikap seperti saya.”

Terlepas dari sisi negatifnya, Bung Karno tetap sosok yang mengagumkan bagi bangsa Indonesia. Kita memerlukan manusia seperti beliau: orang yang punya nyali untuk menyalakan api kebenaran, ketegasan, gagasan nasional, dan mengangkat jati diri bangsa ke panggung dunia. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi ladang penjualan sekaligus ladang pengerukan bagi negara-negara lain.

Para Penjaga Terakhir Soekarnoisme

Di akhir-akhir kekuasaannya, Bung Karno mendapat serangan, hujatan, dan beragam penyudutan. Namun, bila kita tilik sejarah pemimpin bangsa ini, tak ada presiden yang disanjung-sanjung hingga akhir masa jabatannya. Ada saja kasus yang dijadikan alasan untuk menyingkirkan presiden. Begitu pula dengan Bung Karno, sebagai orang yang banyak jasanya terhadap bangsa ini, beliau tidak lepas dari beragam fitnah. Bahkan, pengasingan ideologinya pun berlangsung hingga akhir pemerintahan Orde Baru.

Beragam penyudutan dan pengasingan itu tidak lantas beliau menjadi orang yang kesepian, ditinggalkan teman-teman dekatnya. Tidak sedikit teman-teman dekatnya berusaha meluruskan sejarah yang bengkok tentangnya. Nah, buku ini menyajikan tentang sosok-sosok dekat Bung Karno. Mereka terdiri atas orang-orang yang setia dan loyal dalam menjaga Bung Karno, baik fisik maupun nonfisik, bahkan hingga masa-masa kritis. Tentu, banyak hal yang mereka ungkapkan dalam konteks “pelurusan” sejarah bangsa kita, yang mencakup rangkaian kejadian masa lampau.

Orang yang paling dekat dengan Bung Karno adalah Bung Hatta. Beliau bisa diibaratkan sebagai dua sisi mata uang: saling melengkapi dan memberi nilai. Bung Hatta dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902.  Beliau merupakan salah satu orang Indonesia yang berkesempatan mengeyam pendidikan di Belanda. Saat di Belanda, beliau banyak terlibat diskusi dengan para pelajar Indonesia lainnya. Selain itu, beliau kerap menancapkan bendera Indoneseia di dinding Flat Subardjo, kota Leiden.

Pemikiran Bung Hatta tentang demokrasi, tak diragukan lagi. Menurutnya, demokrasi cocok dengan alam kehidupan bangsa Indonesia. Sebab, sejak dahulu bangsa-bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan penyelesaian masalah dengan cara bermusyawarah dan gotong royong. Begitu pula dari segi ajaran Islam, sebagai agama mayoritas, demokrasi tidak bertentangan dengan demokrasi. Karena, Islam pun menghendaki kehidupan masyarakat yang egaliter, dan menjunjung keadilan.

Bung Hatta, pertama kali bertemu dengan Bung Karno ketika mereka berada di Bandung, sekitar tahun 1933. Secara pemikiran, mereka memang mempunyai beberapa perbedaan; Bung Karno adalah tokoh nasionalis yang cenderung ke kiri, sedangkan Bung Hatta merupakan tokoh nasionalis yang cenderung ke kanan. Meski begitu, kedua saling mengisi, saling melengkapi.

Ketika Bung Karno terbaring sakit, pascalengser kekuasaannya, Bung Hatta menjenguknya. Inilah masa-masa mengharukan, seperti yang ditulis Muetia Hatta dalam Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan.

“Hatta, kau di sini?” sapa Bung Karno, begitu lirih.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?” jawab Bung Hatta sambil menahan rasa sedih yang menggunjang jiwanya.

Hoe at het met jou? (bagaimana keadaanmu)” tanya bung karno dalam bahasa Belanda.

Bung Hatta tak menjawab, beliau sudah tak kuat menahan kesedihan melihat sahabatnya yang dahulu hebat itu kini terkulai tak berdaya. Dan ternyata, pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir antara Dwitunggal tersebut. Ya, meski mereka pernah renggang karena perbedaan pandangan dalam masalah mengurus negara, tetapi batin mereka selalu terjalin. Mereka tetap Dwitunggal-nya bangsa Indonesia.

Penjaga terakhir lainnya adalah Njoto. Namanya unik. Dalam sejarah versi Orde Baru ia adalah gembong PKI, partai yang hingga saat ini diharamkan di Indonesia. Njoto adalah “peniup saksofon di tengah prahara”, begitu Tempo menulis tentangnya. Masih menurut versi sejarah Orde Baru, ia adalah salah satu pentolan yang mengobarkan Gestapu. Namun, hingga kini penelusuran sejarah tentang keterkaitannya tak pernah terbukti. Ia memang tokoh PKI, tetapi ia juga tak setuju dengan gagasan partainya untuk “membunuh kapitalis”.

Njoto Lahir dari kalangan pengusaha kaya, dan mempunyai tiga saudara. Oleh Bung Karno, ia  dianggap adik angkat. Kedekatannya dengan Bung Karno membuat Aidit iri. Akhirnya ia dipecat dari Partai Komunis.

Sejak kecil,Njoto bercita-cita menjadi jurnalis. Tak heran, bila ia bertekad mempelajari beragam bahasa asing. Cita-citanya kesampaian. Di Harian Rakjat, ia banyak menulis tentang nasib rakyat, baik yang berupa opini, kolom, ataupun esai. Nama penanya adalah Iramani. Pada 11 Maret 1966, ia diculik oleh segerombolan orang yang tak jelas identitasnya. Kawan-kawannya pernah melihatnya di Rutan Salemba. Namun, setelah itu Njoto tak terlihat lagi. Disinyalir, ia sudah dieksekusi di Kepulauan Seribu.

Dalam pandangan politiknya, Njoto orang yang getol memperjuangkan dan menempatkan politik dalam kehidupannya sebagai sesuatu yang penting. Seperti yang ditulis dalam Harian Rakjat, edisi 4 Maret 1964: “Barang siapa yang masih berkata djuga ‘non-politik’, sesungguhnja dia itu reaksioner.” Bahkan, bagi Njoto, olahraga pun tak bisa menghindar dari politik, apalagi seni. Jika seni bebas dari politik maka W.R Supratman tak akan menciptakan lagu Indonesia Raya. Ia juga mengungkapkan, bahwa kita tak bisa menghindari politik. Siapa yang menghindarinya maka akan digilas olehnya. Politik harus menjadi penuntun bagi kehidupan berbangsa, agar nadi rakyat terus berdetak.

Selain dua orang tersebut masih ada 20 orang yang tercatat sebagai penjaga terakhir Bung Karno. Tidak hanya laki-laki, tetapi dari kaum hawa pun ada, misalnya Supeni dan Ni Luh Putu Sugianitri.

Tidak hanya menyajikan kisah-kisah tentang penjagaan fisik, buku ini juga memuat biografi dari perjuangan hidup orang-orang terdekat Bung Karno dalam membela dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan dan gangguan yang datang dari dalam negeri maupun asing. Bahkan, sebagian lainnya disuguhkan pula biografinya dan pemikiran orang-orang yang setia dan pernah belajar kepada Bung Karno. Lalu, mereka meneruskan visi dan perjuangan Bung Karno dalam berbagai bidang, baik di dalam maupun di luar pemerintahan.

Khoirul Anwar

@KahaAnwar

KONTEN MENARIK LAINNYA
x