Mohon tunggu...
ARES REVA
ARES REVA Mohon Tunggu... Administrasi - Bookish

Hi, visit me ya di Ceritaaresreva.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Panduan Memahami Induk Kebutuhan Air ketika Hidup di Ban Berjalan

12 September 2019   23:30 Diperbarui: 14 September 2019   15:13 44
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar Diambil Dari Sumber ceknricek.com

"Kalau kata orang, penghasilan bertambah, kebutuhan ikut bertambah. Celakanya, kebutuhan itu lebih nyaman berada di dalam ban kendaraan, yang semakin lama semakin ingin berjalan. Lebih-lebih lagi, ban berjalan begitu cepat, menyetir induk kebutuhan semakin meningkat, sampai lupa hidup itu sekadar mangkat. 

Perumpamaan ban berjalan sebagai perubahan menjadi alasan saya karena kita yang awalnya mencoba ingin mendapatkan satu hal, kali ini mengejar banyak hal. Hakekatnya kita tengah berada di ketidakpastian.

Perangkap Kemewahan Di Induk Kebutuhan. 

Dahulu pasar energi manusia nyaris sepenuhnya bergantung kepada tumbuhan. Orang-orang hidup berdampingan dengan penampungan energi hijau membawa 3000 eksajoule setiap tahun, dan mencoba menyerap sebanyak mungkin energinya. Tuntutan itu membawa kita menggunakan energi untuk memuaskan induk kebutuhan yang terperangkap kemewahan.

Maka tidak ayal manusia yang superior kali ini ditaklukan oleh perubahan. Bukan bermaksud menakuti, tetapi perubahan memang sering sekali menuntut dan tanpa meminta persetujuan kita dengan melakukannya tanpa henti. Perubahan adalah perjanjian yang sudah kita bawa sejak lahir. Tuntutan membawa kita menggunakan energi untuk memuaskan induk kebutuhan yang terperangkap kemewahan.

Siapapun Kehilangan Kendali Di Dalam Ban Berjalan. 

Sumber daya yang hanya bahan baku dan energi, suatu saat akan ikut kehilangan kendali, lantas menjadi ingatan kepunahan. Bahan baku yang paling krusial dan mutlak penting adalah bahan baku air. Hakekat air berperan sebagai sumber kehidupan dan tanda adanya kehidupan di bumi. Sumber kehidupan yang selalu menjadi acuan kita untuk menjalani kebutuhan agar mampu bertahan hidup. Seberapa lama kita hidup, seberapa besarnya induk kebutuhan kita meningkat.

Kita berada di dalamnya. Berjalan dahsyat sampai melupakan bahwa sumber daya telah kita kuras habis. Ada satu data yang saya ambil dari penelitian tiga orang mengenai KAJIAN KUALITAS AIR DAN PENGGUNAAN SUMUR GALI OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR SUNGAI KALIYASA KABUPATEN CILACAP dalam syarat kelulusan program pascasarjana universitas dipenogoro. 

Menyadur dari penilitian mereka, saya menemukan satu fakta bahwa kebutuhan air dalam perhari 60 Liter per orang. Penelitian itu diterbitkan pada tahun 2014, di mana saat itu penduduk Indonesia berjumlah 242 juta jiwa, yang lantas jumlah itu dikalikan dengan 60 liter, maka bahan baku air yang telah kita habiskan sebanyak 14.532 juta liter dalam sehari.

Apa yang akan terjadi terhadap pertanian atau kegiatan lain yang memerlukan pengairan lebih dari 60L? Kenyataannya pertanian sendiri memerlukan ±1.307 l/detik hanya untuk pengairan terhadap ladang mereka. Akan tetapi pengairan tersebut harus tepat sasaran sehinggamenghasilkan bibit unggul di masa produksi nanti. 

Pasalnya para petani harus selalu mengingat masa depan. Sebab ekonomi petani juga ikut andil dalam ekonomi negara. Sedangkan ekonomi pertanian justru didasari siklus musiman produksi.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun