Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Lebaran, Ritual, Kultural, dan Kenangan

11 Mei 2021   05:33 Diperbarui: 11 Mei 2021   21:34 158 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lebaran, Ritual, Kultural, dan Kenangan
Sewaktu hunting artis Poppy Sovia pada 7 September 2010 (1431 H) untuk cover sebuah tabloid telekomunikasi.-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Merayakan Lebaran di mata saya seperti dalam sebuah lagu anak-anakyang dibawakan Dhea Ananda tahun 1990-an yang liriknya seperti ini, Baju baru, Alhamdullilah, untuk dipakai di Hari Raya/Tak punya pun tak apa-apa/ masih ada baju yang lama/oh, ya.  Sepatu baru Alhamdullilah/untuk dipakai di hari raya/tak punya pun tak apa-apa/masih ada sepatu yang lama, oh,...

Refrain lagu itu dengan ceria mengungkapkan apa makna Lebaran, Hari Raya Idul Fitri/Bukan untuk Berpesta-pesta/yang penting maaf lahir batinnya/ Untuk apa berpesta-pesta/kalau kalah puasanya/ malu kita kepada Allah yang Esa.  Lagu ini adalah salah satu lagu anak-anak favorit saya.

Jelas dan gamblang. Bahwa Hari Raya Idul Fitri esensinya adalah kemenangan menuaikan ibadah puasa dan kembali kepada fitri dan agar lebih tuntas silaturahmi dan saling memaafkan.  Sisanya adalah kultural, tepatnya menjadi bagian kebudayaan populer.

Seorang aktivis sekaligus politisi Masyumi Kota Bandung  Hadijah Salim menulis sebuah artikel  di Pikiran Rakjat, 3 Mei 1957 bertajuk "Wanita dalam Lebaran", yang mengkritik sifat konsumtif menjelang dan pada Hari Raya yang sebetulnya bertentangan dengan tujuan Puasa mengekang hawa nafsu.

"Dalam keistimewaan menghadapi hari raja terasa benar kehendak nafsu berhadjat, kepada bermatjam-matjam keperluan. Orang2 kaja tidak tjukup berbelandja dengan wang ratusan rupiah sadja (pada waktu itu sudah besar), pakaiannja, perhiasan rumah tangganja serba lux dan kuwenja bermatjam-matjam rupa karena untuk ber-hari raja.."

Hadijah menyorot bahwa perempuan terutama menjalankan peri laku konsumtif itu, kalau persekt atau hadiah lebaran (THR) masa itu yang diberikan suaminya habis untuk kebutuhan itu, maka dia akan meminta tambah lagi pada suaminya.  Akhirnya bisa membuat suami bingung dan mendorong kepada tindakan korupsi.

Aktivis ini kemudian menutup tulisannya dengan mengutip hadis Nabi: Bukankah dinamakan orang kaja jang banjak simpanan harta bendanja, tetapi jang dinamakan kaja adalah kaja diri (djiwa).

Esensi tulisan itu sebetulnya sama dengan lagu yang dilantunkan Dhea Andanda bahwa berburu baju baru, sepatu baru, bukan esensi Hari Raya, tetapi hanya melengkapi agar lebih meriah.   

Kalau saya sendiri membeli baju, celana, hingga sepatu menjelang hari raya, lebih karena pada waktu itulah ada uang lebih dari THR, itu kalau keperluan sandang itu  banyak yang sudah usang dan harus diganti. 

Tidak banyak yang berubah sebetulnya perayaan lebaran dilhat dari kebudayaan populer dari masa ke masa. Pada masa waktu Indonesia baru merdeka 1950-an, dunia bisnis memanfaatkan hari raya untuk meningkatkan omzetnya.

Iklan Korting Lebarn di Pikiran Rakjat 11 Juni 1952-Foto: Dokumentasi Pribadi/Repro Koleksi Perpustakaan Nasional Salemba.
Iklan Korting Lebarn di Pikiran Rakjat 11 Juni 1952-Foto: Dokumentasi Pribadi/Repro Koleksi Perpustakaan Nasional Salemba.
Pikiran Rakjat sepanjang Juni 1952 memuat iklan sejumlah toko mengumumkan obral untuk menyambut lebaran Mereka memberikan korting antara 10-20%,  di antaranya Toko Canada di Jalan Braga yang menjual barang mewah seperti arloji. Toko Olympia yang menjual produk serupa memberikan korting antara 5-15% untuk aneka jenis barang dan arloji sebesar 10%. Obral juga diberikan jasa menjahit pakaian (tailor) antara 1-23 Juni 1952.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x