Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Siasat

23 Mei 2020   07:52 Diperbarui: 23 Mei 2020   07:52 88 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siasat
sumber pixabay.com

"Ndes, lihat"

Kami menatap, menuju kearah tatapan Mang Sat. Terdiam dan membatin. Edan.

"Mapnya biru Ndes,.."

Berlebihan. Kata anak Milineal, Lebay.

Kubiarkan bujang lapuk itu meracau. Mengamati dari kejauhan beberapa mahasiswi yang masuk ke gedung E. 

Benar bujang lapuk, karena diantara perjaka yang biasa lembur di ruang senat mahasiswa, dia kategori golongan tua. Reputasinya, pria berumur,  yang belum pernah pacaran. Tetapi untuk urusan hati, dia memegang rekor MURI,  pria yang belum pernah disakiti. Korelasinya cukup jelaskan. Tidak perlu dibahas lebih.

Tetapi jangan salah, untuk urusan hati, ia kami  percaya sebagai penasehat. Meski tidak ada satupun sarannya yang kami eksekusi. Ini hanya cara kami mengapresiasi ketegaran hatinya mempertahankan prinsip. 

Namanya Satria. Tetapi kami lebih suka memanggilnya Mang Sat. Tadinya mau panggil Bang Sat. Tapi takut melanggar norma kesusilaan timur.

Aku tidak tahu yang jadi fokus perhatian Mang Sat tadi,  mahasiswi yang  mempesona atau map biru yang di bawa mahasiswi itu. Prilakunya agak  ganjil, tidak biasa, cenderung langka. Bagaimana seorang pemegang rekor, pria teguh beriman, tiba-tiba tergoda mahasiswi pegang map biru, dan berwajah cantik, melankolik, atau apalah.  Kampus ini, gudangnya. Tinggal tunjuk kalau mau. Maksudnya, menunjuk jika dia, dia, dia, dan dia, cantik. Bukan dipacarin, kalau itu butuh perjuangan.

Begitu sampai di kantor senat,aku baru sadar semua sikap berlebihan Mang Sat barusan. Itu setelah melalui kesadaran penuh. Demonstrasi, diskusi hingga larut, benar-benar menguras energi  kesadaranku. Bahkan kadang-kadang aku lupa sudah makan apa belum. Begitu Mie goreng siap  dituangkan ke dalam mangkok, baru sadar jika mangkok beberapa menit sebelumnya belum kucuci. Untung lupa makan dan makan lagi. Jika belum makan tapi ingatnya sudah, aku bisa kurus dan mati. Celaka!

Mahasiswi menenteng map, berarti mahasiswi baru daftar ulang. Map biru, berarti fakultasku. Cantik, kalau itu tidak  perlu aku jelaskan di sini. Kampus ini kawasannya. Tidak perlu ragu. Bahkan semua kecantikan khas daerah ada di sini. Papua hingga Aceh, ada!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN