Mohon tunggu...
Y. P.
Y. P. Mohon Tunggu... Sales - #JanganLupaBahagia

Apabila ada hal yang kurang berkenan saya mohon maaf, saya hanya orang biasa yg bisa salah. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kesejahteraan. Aamiin.

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Bila Oposisi Tidak Bersatu, Sama Saja Membiarkan Jokowi Menang

9 Agustus 2018   10:17 Diperbarui: 9 Agustus 2018   12:08 1035
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saking kesalnya, Andi menyebut Prabowo sebagai jenderal yang lebih mementingkan uang. Pernyataan itu ia lontarkan melalui akun Twitter pribadinya @AndiArief__.

Bahkan, ia mengaku partainya menolak kedatangan Prabowo ke kediaman SBY pada Rabu (8/8/2018) malam.

"Padahal untuk menang bukan berdasarkan politik transaksional tapi dilihat siapa calon yang harus menang. Itu yang membuat saya menyebutnya jadi jenderal kardus. Jenderal kardus itu jenderal yang enggak mau mikir, artinya uang adalah segalanya," kata Andi. (sumber)

Tindakan pak Andi Arief bagi saya adalah ekspresi kekecewaan yang wajar. Pada kontestasi demokrasi 2014 partai Demokrat kurang cemerlang. Selama pemerintahan Jokowi pun partai Demokrat mengambil jalan tengah yang menyebabkan tidak mendapatkan "tenaga politik" yang maksimal.

Hal ini tentu berbahaya untuk pemilu 2019, bila tidak mampu menampilkan sosok unggulan partai Demokrat bisa tenggelam. Berbeda dengan koalisi Prabowo yang jelas akan meraup suara dari masyarakat yang tidak mendukung kubu Jokowi.

Selain itu sudah tidak ada jalan untuk partai Demokrat kembali mendekati kubu Jokowi.

Hanya partai PAN yang masih berpeluang untuk bergabung kesana. Sebab ketua umum PAN yaitu pak Zulkifli Hasan masih menjalin komunikasi Politik dengan pak Jokowi. (sumber)

Secara hitung-hitungan politik dan survey memang Jokowi lebih unggul. Partai pendukung lebih banyak dan berdasarkan Survey LSI ternyata elektabilitas Jokowi cenderung naik bahkan setelah Pilkada Serentak 2018.

 "Posisi saat ini elektabilitas Jokowi di angka 49,30 persen. Ada kenaikan dibanding survei bulan Mei yang saat itu posisinya 46 persen. Ada kenaikan 3,3 persen. Sehingga memang kita bisa lihat ada tren kenaikan petahana pascapilkada 2018," ujar Adjie dalam rilis survei Pasangan Capres dan Cawapres Pascapilkada di kantor LSI Denny JA, Jakarta, Selasa (10/7/2018). (sumber)

Dari kegaduhan-kegaduhan diatas, mengindikasikan jelas bahwa kubu oposisi belum sepenuhnya bersatu melawan koalisi Jokowi.

Jika kubu oposisi tak kunjung menyatu, maka bisa dipastikan Jokowi otomatis menang pada Pilpres 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun