Mohon tunggu...
Jilal Mardhani
Jilal Mardhani Mohon Tunggu... Administrasi - Pemerhati

“Dalam kehidupan ini, selalu ada hal-hal masa lampau yang perlu kita ikhlaskan kepergiannya.”

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pro Kontra Ahok

12 Maret 2017   21:24 Diperbarui: 12 Maret 2017   21:57 1370
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Di kalangan penganut Islam yang merupakan agama mayoritas bangsa kita, propaganda negatif tentang garis turunan Tionghoa dan non Muslim, bagaikan ruas ketemu buku. Maka ketika kata-kata Ahok tentang surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu dipelintir secara culas oleh Buni Yani, gelombang kebencian itu seolah menemukan momentumnya. Seketika bangsa ini lupa tentang akar soal korupsi-kolusi-nepotisme yang berkembang paling subur ketika Soeharto dan Golkar memegang tampuk kekuasaan tertinggi negeri ini selama 32 tahun. 

Mereka pun tak lagi mengingat kejadian ketika gelombang massa mencerca kesemena-menaan oknum FPI menggeruduk warung nasi yang berjualan siang hari saat Ramadan 2 tahun lalu. Bahkan berita foto dan percakapan cabul pemimpin organisasi massa Islam itu--- yang orasi dan dakwahnya kerap mendeskriditkan Ahok sambil menghina simbol-simbol republik kita --- dengan salah seorang jemaah wanitanya yang tersebar luas, tak mampu mengembalikan kesadaran mereka terhadap maksud baik dan upaya tak kenal lelah yang sedang dilakukan sang Gubernur DKI untuk memperbaiki keadaan.

Hasutan membenci Ahok begitu mudah menyebar. Melampaui batas geografis Jakarta hingga seantero Nusantara dimana mayoritas masyarakat pemeluk Islam berada. Sentimen keagamaan itu bahkan membuat mereka ringan langkah mengunjungi Jakarta untuk bergabung dalam protes yang sama sekali tak perlu jika dikaitkan dengan perang kita terhadap kebiadaban korupsi-kolusi-nepotisme.

Seperti kesetanan, kebencian itu bahkan berkembang sedemikian rupa hingga muncul himbauan untuk tak menyembahyangkan jenazah mereka yang nyata-nyata memberikan suara dan dukungannya kepada Ahok. Mereka sesungguhnya telah melakukan hal yang 'lebih PKI dari PKI sendiri'.

Mereka yang selama ini --- bahkan mungkin sebagian besar hingga sekarang masih --- diperlakukan sebagai obyek penderita tersebut memang rentan terhasut jika menyangkut agama dan keimanan. Celakanya, tak sedikit tokoh berpengaruh dan pemuka agama oportunis yang terang-terangan pula memanipulasinya. Lihatlah euforia yang mereka pertontonkan dalam memperingati Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR) bersama keluarga tokoh sentral Orde Baru itu di masjid yang terletak di Taman Mini tadi malam. Padahal, sampai hari ini, kejelasan salinan surat yang ditanda tangani Soekarno dan digunakan Soeharto mengambil alih kekuasaan tertinggi negara setengah abad yang lalu itu, tak pernah jelas keberadaannya.

Jadi, bagi mereka yang selama ini sekedar menjadi obyek penderita, korupsi-kolusi-nepotisme itu mungkin hanya drama kekuasaan. Bisa jadi mereka menganggap langkah-langkah Ahok sekedar sandiwara. Sebab dengan nalar sederhana mereka sering menyaksikan licinnya kelompok tertentu menghindar dari jerat hukum. Seperti kasus 'Papa Minta Saham' yang menyeret nama Setya Novanto beberapa waktu lalu. Tak lama kemudian dia mundur dari jabatan Ketua DPR tapi beberapa waktu kemudian, setelah berhasil meraih kursi ketua partainya menganggantikan Aburizal Bakrie, dengan mudah dia mengambil alih lagi posisi Ketua DPR RI. Jika kini nama mantan model di Surabaya itu kembali mencuat dalam super mega korupsi e-ktp, mungkin mereka akan menghadapinya dengan skeptis.

Mungkin terlalu menyederhanakan jika dikatakan mereka telah menganggap persoalan dunia di Indonesia ini sudah selesai. Maksudnya, bagi mereka, pemimpin demi pemimpin sesungguhnya hanya berbicara omong kosong. Kualitas dan kondisi kehidupan mereka sesungguhnya dirasakan tak beranjak membaik. Bahkan tak sedikit yang merasa lebih baik ketika Soeharto masih berkuasa sehingga ada saja yang menyebar meme, membuat poster, ataupun gambar dan tulisan di belakang truk yang berbunyi 'Enak Zamanku Toh?'. Soeharto pun tersenyum di sana.

Maka merekapun hanya berharap pada kekuasaan Tuhan untuk mengubah keadaan. Melalui doa-doa dan dzikir-dzikir. Minus kerja keras, pemikiran, dan upaya duniawi yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, siapa pun yang mereka percaya 'bukan termasuk umat' dari kalangan yang beriman sama, dianggap musuh dalam selimut. Dipandang sebagai penghalang Tuhan mengabulkan doa-doa mereka.

--- Epilog.

Salah satu kerugian sistem demokrasi yang kita anut hari ini --- yang mengandalkan perolehan suara terbanyak seperti suara Tuhan karena sifatnya yang menentukan --- adalah tentang keberimbangan kualitas pemilih.

Sebab, pilihan dan penolakan yang terjadi --- seperti yang ditengarai akan dilakukan ketiga kelompok musuh Ahok yang diuraikan di atas --- sangat mungkin dipengaruhi pertimbangan-pertimbangan subyektif yang jauh melenceng dari kebutuhan bangsa kita yang paling hakiki. Menyimpang jauh dari arah perbaikan, pembenahan, dan perjuangan yang dicita-citakan bersama. Memberantas praktek kotor korupsi-kolusi-nepotisme. Sebagaimana yang dikumandangkan tokoh-tokoh yang mengawal lahirnya Gerakan Reformasi 1998 lalu. Sayangnya kebersamaan mereka kurang bersungguh-sungguh dan malah terjebak memperebutkan kekuasaan diantara mereka sendiri sehingga kekacauan terus berlarut-larut hingga sekarang ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun