Mohon tunggu...
Yakobus Mite
Yakobus Mite Mohon Tunggu... Perubahan itu Kekal

Pemerhati Pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membiasakan Siswa Berpikir Kritis dalam Menghadapi Tantangan Global di Abad 21

12 Juni 2019   22:57 Diperbarui: 12 Juni 2019   23:03 0 1 0 Mohon Tunggu...
Membiasakan Siswa Berpikir Kritis dalam Menghadapi Tantangan Global di Abad 21
Penulis sebagai pemakalah dalam Seminar Nasional di Universitas Negeri Malang Tahun 2015 (dokpri)

Dalam era globalisasi dewasa ini, tantangan peningkatan mutu dalam berbagai aspek kehidupan tidak dapat ditawar lagi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mendorong setiap bangsa untuk mengerahkan pikiran dan seluruh potensi sumber daya yang dimilikinya agar bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam berbagai sisi kehidupan. Oleh karena itu, menurut Mite (2017) dalam jurnal internasionalnya tentang The correlation between critical thinking and the learning results of the senior high school students in biology learning implementing group investigation (GI) learning in Malang, Indonesia menjelaskan bahwa pendidikan dewasa ini harus diarahkan pada peningkatan daya saing bangsa agar mampu berkompetisi dalam persaingan global. Secara global pembelajaran abad 21, konsep berpikir kritis menjadi target utama dalam pendidikan yang berhubungan dengan pembelajaran di kelas dan harus dimiliki oleh seluruh komponen dalam pembelajaran, baik guru sebagai pengajar maupun siswa sebagai pebelajar. Berpikir kritis saat ini menjadi salah satu tujuan penting dari pendidikan (Bart, 2010).

Dewasa ini, Partnership for 21st Century Skills telah mengidentifikasi bahwa berpikir kritis menjadi salah satu dari beberapa kemampuan yang dibutuhkan untuk menyiapkan siswa pada jenjang pendidikan dan dunia kerja. Common Core State Standards menyatakan bahwa berpikir kritis sebagai lintas disiplin ilmu yang sangat penting untuk siswa dan pekerja (Lai, 2011). Keterampilan berpikir kritis juga dinyatakan sebagai salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang dan merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia (Liliasari, 2001).

Berkaitan dengan berpikir kritis, Corebima (2006) menyatakan bahwa jika ingin mendorong kemampuan berpikir siswa, pembelajaran dan evaluasinya harus dikelola secara sengaja untuk mendukung kepentingan itu. Lebih lanjut, Zubaidah (2001) mengatakan berpikir kritis adalah berpikir memecahkan masalah dengan sifat dan bakat kritis yakni sifat rasa ingin tahu, berani mengambil risiko, dan sifat yang selalu menghargai hak-hak orang lain, arahan bahkan bimbingan orang lain.

Untuk itu, dalam menghadapi tantangan global di abad 21, Guru dalam kegiatan pembelajaran harus membiasakan siswa untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Membiasakan siswa untuk memecahkan masalah, sehingga keterampilan berpikir kritis tingkat tinggi siswa atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) terus diasah. Siswa harus terbiasa dengan soal HOTS atau soal yang tingkat kesulitannya tinggi.

Pemakalah bersama Nara Sumber Seminar Nasional di Universitas Negeri Malang, Tahun 2015
Pemakalah bersama Nara Sumber Seminar Nasional di Universitas Negeri Malang, Tahun 2015

Penulis dalam penelitiannya lebih menekankan pada penilaian ranah kognitif yang mengacu pada taksonomi Bloom. Kemampuan hasil belajar yang diukur menurut dimensi proses dari ranah kognitif taksonomi Bloom yang telah direvisi Anderson dan Krathwohl (2001), yaitu tingkat C1 (mengingat) meliputi: kemampuan mengingat, mengulang, mengungkap kembali; C2 (memahami) meliputi: kemampuan mengidentifikasi dan menjelaskan; C3 (menerapkan) meliputi: kemampuan menggunakan, menerapkan, dan membandingkan; C4 (menganalisis) meliputi: kemampuan membandingkan, mendeteksi, menginvestigasi; C5 (mengevaluasi) meliputi: kemampuan mengukur, mendeduksi, menilai, mengkritisi, dan menyimpulkan; dan C6 (mencipta) meliputi: kemampuan menyiapkan, memproduksi, membuat, memprediksi, dan memodifikasi.

Pembelajaran abad 21, guru harus membiasakan siswa untuk menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan menciptakan (C6) agar keterampilan berpikir kritis siswa terus digali dalam menghadapi tantangan global. Tentu saja aspek pelaksanaan yang harus diperhatikan adalah pendekatan, strategi, metode, serta urusan teknik pembelajaran lainnya.

Lebih lanjut, Paul (1990) menyatakan mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap materi pelajaran, penggunaan bahasa, menggunakan struktur logika berpikir logis, menguji kebenaran ilmu pengetahuan, dan pengalaman dari berbagai aspek akan memberikan dampak kepada mereka untuk menjadi siswa yang mandiri. Kemandirian intelektual ini penting dimiliki, ditambah lagi keberanian, kesopanan, dan keimanan, yang akan membawa para siswa menjadi orang dewasa yang bermoral dan bertanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat.

Hasil penelitian Mite (2016) menunjukkan bahwa berpikir kritis memberikan sumbangan positif terhadap hasil belajar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Surachman (2010), Wicaksono (2014), Malahayati (2014), Cano (1991), menunjukkan ada hubungan positif antara skor berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa, sehingga siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis yang tinggi akan memiliki hasil belajar yang tinggi pula. Demikian juga penelitian yang dilakukan Dehghani (2011) menunjukan bahwa berpikir kritis memiliki hubungan positif dengan pencapaian belajar siswa.

 Kemampuan berpikir kritis siswa secara nasional dapat diukur melalui hasil Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN) di tingkat Dasar dan  Menengah hingga Menengah Atas dari tahun ke tahun. Banyak siswa yang tidak tuntas dalam ujian secara nasional dikarenakan selama kegiatan pembelajaran, siswa lebih dominan atau terbiasa dengan soal-soal C1 (mengingat), C2 (memahami) dan C3 (menerapkan) ketimbang C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi) dan C6 (mencipta).

Selain kemampuan berpikir kritis siswa secara nasional, kemampuan berpikir kritis para calon mahasiswa, pencari kerja baik di instansi pemerintah maupun swasta banyak yang tidak mencapai batas nilai minimal atau passing grade sehingga banyak yang gagal dalam seleksi. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena sejak pendidikan dasar dalam kegiatan pembelajaran tidak terbiasa dengan soal-soal yang sulit, seperti kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x