Mohon tunggu...
Isti Mulyani
Isti Mulyani Mohon Tunggu... Lainnya - Penyuka corat coret

Be different, be the best and be an inspiration

Selanjutnya

Tutup

Gadget Pilihan

Media Sosial sebagai "Personal Branding"

5 Oktober 2018   08:19 Diperbarui: 5 Oktober 2018   08:44 1592
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seperti kita ketahui bahwa sekarang adalah jamannya era digital. Dimana segala sesuatu semakin berkembang dan mengalami perubahan yang pesat. Salah satu yang mengalami perubahan adalah dalam bidang telekomunikasi.

Dahulu orang berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain hanya dengan menggunakan telepon, faximile atau telegram dimana kita hanya bisa berkomunikasi via suara/audio. Tetapi sekarang, dengan adanya kemajuan di bidang teknologi kita bisa berkomunikasi dua arah secara audio visual baik individu maupun dalam group. Hal ini yang membuat komunikasi antara beberapa orang menjadi lebih intens. Banyak yang akhirnya melakukan reuni dengan teman sekolah secara online.

Kondisi tersebut yang kemudian membuat Mark Elliot Zuckerberg atau lebih dikenal Mark Zuckerberg bersama teman-temannya mendirikan jejaring sosial yang fenomenal yaitu Facebook pada tahun 2004. Dua tahun kemudian tepatnya pada Juli 2006 Jack Dorsey mendirikan microblog daring yang bernama twitter. Dan kemudian Kevin Systrom bersama temannya mendirikan Instagram serta banyak lagi sosial media yang bermunculan saat ini.

Kemajuan dalam bidang telekomunikasi tersebut turut menginfluence pada perubahan perilaku sosial penggunanya. Social media yang sebelumnya hanya digunakan sebagai ajang komunikasi dan interaksi sesama pengguna, akhir-akhir ini pengunaannya meluas menjadi sarana untuk jualan (online shop) sampai untuk menunjukkan kelas sosialnya. 

Segala bentuk aktifitas akan di share via sosmed agar teman atau pengguna sosmed lain mengetahui kegiatannya. Bahkan sebagian pengguna somed tak malu-malu mengungkapkan perasaan, kekesalan dan juga amarahnya kepada orang lain ketika terjadi konflik. Tak jarang hal ini membuat polemik dan masalah yang terjadi diantara kedua belah pihak malah tambah runyam. Bahkan terkadang banyak yang baper, padahal status tersebut tidak ditujukan padanya, tetapi dia merasa.

Hal tersebut yang kemudian sekarang ini "dilirik" oleh beberapa perusahaan dan dimanfaatkan sebagai salah satu point penilaian sikap atau karakter ketika seseorang melamar di suatu perusahaan. Ketika mengajukan lamaran, pada curriculum vitae biasanya perusahaan akan meminta untuk menuliskan contac person, e-mail dan akun socmed. Oleh pihak perusahaan akun sosmed ini akan dilihat posting-postingannya. 

Ketika di dalamnya hanya berisi keluh kesah, amarah dan hal-hal negatif bahkan berbau SARA, maka perusahaan otomatis akan memblacklist pelamar tersebut dan secara otomatis tidak akan lolos seleksi penerimaan karyawan baru. Hal ini terbukti sangat efektif untuk menjaring karyawan atau pegawai yang mempunyai nilai karakter dan integritas yang tinggi. 

Sekarang ini, beberapa perusahaan mulai menanamkan prinsip bahwa sepandai apapun intelegensi seseorang jika karakternya tidak baik maka akan menimbulkan suasanya yang tidak kondisuf dalam internal perusahaan itu dan terlebih lagi akan merusak citra perusahaan tersebut di mata masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa sosial media atau sosmed atau medsos sekarang bukan lagi hanya sekedar sebagai ajang komunikasi dan interaksi sesama pengguna, tetapi maknanya meluas menjadi sebagai personal branding.

Personal branding adalah sebuah cara memasarkan diri atau imej kita secara individu. Jika sebelumnya praktek "memasarkan diri dan karier" lebih berdasarkan pada teknik manajemen self-help improvement,personal branding adalah konsep yang lebih menekankan bahwa kesuksesan datang dari self-packaging.

Dari sosmed tersebut kita bisa menilai dan melihat karakter dari postingan/status seseorang. Postingan yang berisi keluh kesah dan amarah menandakan bahwa seseorang mengalami suatu gangguan psikis yang dinamakan factitious disorder, yaitu gangguan psikis dimana seseorang baru merasa lega ketika sudah mengungkapkan segala keluh kesah, sedih dan amarahnya di media social. Hal ini sebenarnya bertujuan agar mereka mendapatkan perhatian dari orang lain kata pakar psikologi dari Universitas Tarumanegara bernama Untung Subroto Dharmawan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun