Mohon tunggu...
Islah oodi
Islah oodi Mohon Tunggu... Penulis - Wong Ndeso

Penikmat kopi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lelaki yang Bercinta dengan Fatamorgana

15 Februari 2021   20:58 Diperbarui: 15 Februari 2021   21:44 459
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi by pixabay

Lalu aku duduk bersila sambil kupejamkan mata dan mulailah mulutku lirih merapal mantra-mantra yang telah Mbah ajarkan. Lama, terasa hampir beberapa jam tak ada tanda apa-apa, yang terdengar hanya suara hewan-hewan malam ..., hingga--"laaappppp"--suara-suara hewan malam terhenti. Tak ada lagi suara jangkrik atau lainnya, tak ada embusan angin, yang kurasa hanya alam sekitar seperti mati seketika. 

Tak lama hidungku mencium bau busuk yang teramat busuk, tapi tetap saja kupejamkan mata. Bau busuk itu seperti jelas berwujud dan kini bergelayut di sekitar tubuhku. Terus dan terus hingga dari jauh terdengar lolong suara wanita menjerit kesakitan seperti sedang sekarat dan seperti ..., Suara Suhesti, lalu hilang dan sunyi kembali. Kemudian perlahan bau busuk sirna. 

Aku masih memejamkan mata, terasa beberapa kali telapak tangan seperti menepuk pundakku, tapi aku tetap diam dengan mata terpejam hingga suara Mbah terdengar memintaku untuk membuka mata dan mengatakan padaku bahwa aku telah selesai melewati ritual ini.

Dengan bantuan cahaya lampu teplok, tangan si Mbah meraba-raba sekitar tampah sesaji. Mataku melihat beliau mengambil beberapa helai rambut putih agak panjang sekitar setengah meter. Lalu kami kembali ke gubuk. Dalam gubuk Mbah memberikan rambut putih tersebut yang kini telah dibungkus dengan kain mori sambil berpesan untuk dijaga baik-baik dan mewanti-wanti agar aku tak kembali beragama jika ingin selamat. Aku mengiyakan dan beliau telah mengizinkan aku untuk pulang.

***

Langit telah petang saat kakiku sampai kembali di rumah. Serasa tubuhku remuk setelah beberapa hari bepergian. Di atas ranjang kurebahkan diri sambil berpikir, "terus bagaimana cara kerja jimat ini?" Tak lama dari luar seperti ada orang yang mengetuk pintu. Aku beranjak melihat gerangan siapa yang petang-petang datang. Paling juga teman-teman brengsek yang mau mengajak minum-minuman keras.

Perlahan kubuka pintu dan ..., Mataku hampir tak percaya melihat siapa sosok yang kini berdiri mematung di depanku. Suhesti. Ia menatapku sambil tersenyum. Senyum yang serasa membuat birahiku semakin tak terkontrol lagi. Dalam hati aku membatin, "ampuh juga jimatnya." Kupersilakan masuk. Tanpa lama-lama lalu kugandeng tangannya yang halus mulus masuk ke dalam kamar. Kami bercinta. Kupuas-puaskan nafsu bejatku merobek kesunyian Suhesti putri seorang Kyai.

Malam terus merambat pelan dilewati oleh dua insan yang memadu cinta tanpa merasa akan dosa. Aku jelas tak merasa berdosa sebab dosa hanya bagi mereka yang masih dalam naungan agama. Tapi bagaimana dengan Suhesti? Gadis jelita yang tiap sore hari mengajar ayat-ayat suci pada anak-anak kecil, kini seperti boneka pemuas nafsu bejat dari lelaki yang katanya mencintai. Apakah jalan keji dapat menghantarkan pada cinta yang kabarnya cinta sendiri pun suci?

Dua hari Suhesti berada di rumahku dia seperti telah menjadi seorang istri. Kabar hilangnya putri Kyai pun kini telah berdengung menjadi topik hangat warga desa Kalilancar. Dalam pikirku sepertinya tak aman jika harus tinggal di desa ini. Mau menikahi Suhesti pun adalah hal yang tidak mungkin, sebab dalam pernikahan ada kalimat syahadat pantangan bagiku agar selamat. Hanya ada satu cara agar aku bisa dapat terus bersama Suhesti, pergi dari desa ini.

Petang pada malam ketiga aku dan Suhesti meninggalkan desa. Pergi sejauh-jauhnya mencari tempat aman untuk bercinta. Hingga beberapa kilo meter kami menempuh perjalanan menaiki sepeda tua, sampailah di tepi bukit pinggir hutan belantara yang jarang disambangi oleh orang-orang pedesaanku ataupun desa tetangga. Beberapa hari di sini kini dengan ketelatenanku telah kubangan gubuk sederhana yang sekiranya bisa untuk tempat tinggal. Gubuk yang lebih buruk dari kandang ayam. Hanya ada satu ruangan. Ruangan bercinta.

Seminggu kami tinggal berdua. Benar-benar Suhesti kini seperti seorang istri yang sah bagiku. Ah, rasanya aku seperti hidup di surga. Impian ini, impian memiliki Suhesti kini telah tercapai. Ia wanita yang baik dan penurut, menuruti apa pun kemauanku. Menurut juga jika kadang harus makan bakaran bangkai ayam alas yang kudapatkan di hutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun