Mohon tunggu...
Irmina Gultom
Irmina Gultom Mohon Tunggu... Apoteker - Apoteker

Pharmacy and Health, Books, Travel, Cultures | Author of What You Need to Know for Being Pharmacy Student (Elex Media Komputindo, 2021) | Best in Specific Interest Nominee 2021 | UTA 45 Jakarta | IG: irmina_gultom

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Sudah Divaksin, Kenapa Harus Tetap Pakai Masker?

4 Maret 2021   10:07 Diperbarui: 6 April 2021   18:16 1306
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hasil tes Rapid Antibodi saya reaktif setelah 2 minggu & 3 minggu setelah suntikkan vaksin kedua (Dokumentasi Pribadi)

Genap satu tahun sudah Indonesia berjibaku melawan pandemi Covid-19 sejak kasus pertama diumumkan awal Maret 2020.

Selama setahun belakangan, fakta bahwa kasus positif terus meningkat begitu juga dengan korban yang meninggal dunia membuat kita hidup dengan penuh kekhawatiran. 

Di satu sisi kita khawatir tertular dan menularkan ke orang-orang terdekat, tapi di sisi lain kita juga tidak bisa terus menerus mengisolasi diri. Jadi untuk sementara yang bisa dilakukan adalah bertahan dengan menerapkan protokol kesehatan. 

Update terakhir per tanggal 1 Maret 2021 via Covid-19, ada 1,341,314 kasus positif di Indonesia. Meski demikian, jumah pasien yang dinyatakan sembuh pun juga banyak.

Selama berbulan-bulan kita hidup dengan adaptasi Kenormalan Baru (New Normal). Serasa jungkir balik pokoknya. Mulai dari selalu pakai masker ke mana-mana dan dimanapun sehingga sulit bernafas dengan nyaman, sering-sering mencuci tangan dan pakai hand sanitizer. 

Biaya hidup pun bertambah karena harus menyediakan amunisi berupa masker, hand sanitizer, disinfektan, dan multivitamin. Pada masa-masa awal pandemi, masker, hand sanitizer dan produk vitamin C sempat langka di pasaran. Kalaupun ada, harganya tinggi minta ampun.

Selain itu kita juga tidak bisa berkumpul dengan orang-orang terdekat karena harus social dan physical distancing. Bahkan melewatkan hari raya keagamaan, padahal saat-saat itulah waktunya kita berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Sedih.

Kita juga sulit bepergian ke luar kota dan luar negeri karena masing-masing wilayah memperketat seleksi orang-orang yang masuk dan pastinya level stres meningkat karena cuti bersama terus dipotong, plus sulit berlibur karena tempat wisata banyak yang ditutup untuk mencegah kerumunan.

Masyarakat kita yang umumnya susah diatur ini, tentu merasa tidak nyaman, bosan, dan gerah dengan banyaknya batasan-batasan baru seperti ini. Saya pun merasa demikian. Tapi langkah ini mau tak mau harus dilakukan sampai obat atau vaksinnya ditemukan.

Jadi ketika ada angin segar di akhir tahun 2020, di mana vaksin Covid-19 telah ditemukan dan mulai disebar ke seluruh dunia, harapan baru pun muncul. 

Proses vaksinasi mulai dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan urutan prioritas penerima vaksin. Jika semua lancar, diharapkan tahun depan seluruh rakyat Indonesia sudah menerima vaksin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun