Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer Peduli Edukasi.

Kami mendukung taman baca di Soa NTT dan Boyolali. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. Untuk donasi naskah, buku, dan dana silakan hubungi: donasibukuina@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Samin dan Pohon Jati

26 Januari 2022   10:14 Diperbarui: 26 Januari 2022   10:14 465
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Samin dan Pohon Jati - Photo by Kurt Za/Pexels

Dia harus banyak bersyukur bisa menamatkan SMA. Betapa tidak. Orang tuanya harus susah payah membayar uang SPP. Bahkan kadang kala dia harus membantu mencari biaya sekolahnya.

Jika tidak sedang musim tanam. Bapaknya memotong ranting-ranting pohon jati. Mengeringkan di bawah terik matahari. Kalau sudah kering kemudian diikat. Selanjutnya dijual ke pasar.

Sementara Samin dua hari sekali, sepulang sekolah. Dia memanjat pohon jati. Dengan bantuan sebuah galah bambu yang ujungnya diikatkan pisau. Dia memetik daun jati.

Daun-daun jati yang terjatuh. Kemudian dikumpulkan dan diikat. Dia menjualnya ke tukang tempe atau ke warung-warung nasi. Daun jati sangat bagus untuk membungkus tempe atau nasi.

                                *

Samin tersenyum haru.

Dari bangku tempat duduk para wisudawan-wisudawati. Dia melihat kedua orang tuanya. Mata mereka berkaca-kaca. Pastilah orang tuanya bangga. Anaknya diwisuda sebagai sarjana.

Kalau saja waktu itu dia tidak berani menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan kuliah kepada bapaknya. Momen seperti ini pastilah tidak akan terjadi.

Dia ingat setelah perbincangan sore itu. Esoknya guru BK datang ke rumah. Menyampaikan surat panggilan dari perguruan tinggi negeri. Samin diterima menjadi mahasiswa melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Penerimaan mahasiswa baru dengan seleksi prestasi akademik.

"Kalau kamu tidak mengambilnya, sayang. Ini penghargaan atas prestasimu." kata guru BK.

Setelah itu dia memberanikan diri berbicara serius dengan bapaknya. Beruntung bapaknya bisa memahami situasinya. Orang tua siap mengiringi dengan doa. Sementara Samin harus berjuang sendirian mengejar impiannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun