Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

4 Alternatif Perspektif Literasi Kelana Masa Depan di Kompasianival 2022

27 November 2022   00:45 Diperbarui: 27 November 2022   00:55 402
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mirisnya nama orang asing menjadi populer di Indonesia, sedangkan nama anak  Indonesia jarang atau hampir tidak pernah dipopulerkan oleh orang luar Indonesia. Usulan saya: Sebelum penulis kompasiana menjadi spesialis menulis tentang bola, ia mungkin perlu menulis kategori lainnya juga dengan pertanyaan: Inspirasi apa yang disumbangkan untuk masa depan Indonesia dalam dan melalui tulisan terkait bola? Dalam hal ini, saya berbangga dengan penulis bola di Kompasiana yang tidak melupakan sisi-sisi pesan dan maknanya.

  • Coretan literasi penulis Kompasiana akan menjadi warisan gagasan masa depan bangsa, karena itu jangan pernah lupa menitip kata-kata bijak untuk pembaca.

  • 3. Masa depan penulis, bukan uang, tapi karya-karya dan sebuah nama

    Kelana masa depan, tentu saja ada ditangan pengelola Kompasiana dan semua penulisnya. Pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya adalah apa masa depan seorang penulis?

    Penulis bisa menghasilkan uang, tapi uang itu akan habis pada waktunya. Namun, ketika karya-karya dari penulis itu bisa dibaca di masa depan, bagi saya itulah masa depan seorang penulis. Ia hidup lalu menulis dan berbagi, kemudian mati dan meninggalkan tulisan-tulisannya.

    Tulisan itu bisa mati? Tentu saja tidak, kecuali google itu bisa mati, maka tulisan ini akan mati. Saya mau mengatakan bahwa mulailah dari sekarang ini, menulislah yang bisa berguna di masa depan nanti. Oleh karena itu, jangan meninggalkan gagasan-gagasan tanpa berpikir dua kali, seberapa pentingnya untuk pembaca dari tulisan ini pada saat ini dan nanti.

    4. Apresiasi kepada Kompasiana, guru menulis yang memampukan saya berkelana

    Sejak 27 Januari 2021 saya mencoba menulis di Kompasiana atas motivasi dari penulis Kompasiana, Gaganawati Stegmann dalam satu Seminar Rebuan KJRI Frankfurt secara online.

    Meski sudah sering menulis liar di blog pribadi, saya merasakan bahwa ada momen-momen babak belur ketika berada di kelas debutan tahun lalu di Kompasiana. 

    Saya merasakan ada momen saya merangkak dan terus belajar dari cara teguran Kompasiana. Cara belajar dan terus belajar dari tulisan-tulisan berkualitas dari teman-teman senior Kompasiana, lama-lama saya merasakan bahwa saya sedikit menemukan pesan rahasia dari kelana saya di Kompasiana.

    Coba bayangkan sebagai pemula ketika itu, saya tidak tahu membedakan mana artikel pilihan dan mana artikel yang disematkan Artikel Utama. Kebahagiaan saya cuma kalau artikel tulisan saya sudah bisa muncul di sana.

    HALAMAN :
    1. 1
    2. 2
    3. 3
    4. 4
    Mohon tunggu...

    Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
    Lihat Humaniora Selengkapnya
    Beri Komentar
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

    Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
    LAPORKAN KONTEN
    Alasan
    Laporkan Konten
    Laporkan Akun