Mohon tunggu...
Innnayah
Innnayah Mohon Tunggu...

www.innnayah.com | www.cinematic.id | www.pekalonganku.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Keruhnya Sungai di Balik Cerahnya Batik Pekalongan

5 November 2018   13:14 Diperbarui: 10 November 2018   01:10 0 16 13 Mohon Tunggu...
Keruhnya Sungai di Balik Cerahnya Batik Pekalongan
Sungai di Pekalongan (dokumen pribadi)

"Batiknya mendunia, tercemar sungainya". Rasanya sedih sekali ada yang memberikan komentar seperti ini di postingan Instagram aku pada momen Hari Batik Nasional. Topik pencemaran sungai memang sudah beberapa tahun ini terdengar nyaring di kota batik.

"Batiknya mendunia, tercemar sungainya". Rasanya sedih sekali ada yang memberikan komentar seperti ini di postingan Instagram aku pada momen Hari Batik Nasional. Topik pencemaran sungai memang sudah beberapa tahun ini terdengar nyaring di kota batik.

Ketika netizen semakin ramai mempersoalkan pencemaran sungai di Pekalongan, aku mengamini. Emang agak 'jijik' sih kelihatannya. Suatu kali karena macet, aku naik motor menyusuri pinggiran Kali Binatur sambil menahan nafas. Tapi, apa benar ini semua karena batik?

Masih ingat dengan lirik lagu Slank ini?

"Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo"

Batik itu bukan hanya milik orang Jawa, hampir setiap daerah di Indonesia punya batik masing-masing. Lalu kenapa Pekalongan yang menjadi ikon kota batik? Sejarah telah menuliskan di kota kelahiranku inilah ratusan tahun lalu batik telah lahir dan berkembang. Ibarat seorang anak manusia, dalam proses pertumbuhannya batik tak luput dari kisah-kisah tak mengenakkan. 

Misalnya saja dari sisi proses produksinya yang konon belum ramah lingkungan. Limbah cair adalah keniscayaan dari pembatikan. Solusi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sudah dimulai di kota ini. Meski kalau dari beberapa literatur yang aku baca, jumlahnya belum mencukupi.

Membatik Tulis (dokumen pribadi)Apa Sih Batik?

"eh aku beli daster batik lho...murah banget 50 ribu" ujar seorang teman.

"loh ini mah bukan batik ceu, sablonan ajah." Jawabku.

Termasuk aku yang notabene orang asli Pekalongan, awalnya menganggap semua kain yang bermotif etnik apalagi dengan bubuhan titik adalah batik. Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia), batik adalah kerajinan tangan sebagai hasil pewarnaan secara perintangan menggunakan malam (lilin batik) panas sebagai perintang warna dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis dan atau canting cap untuk membentuk motif tertentu yang memiliki makna.

Nah, kata kuncinya adalah penggunaan canting tulis atau canting cap. Kalau yang menggunakan alat sablon atau printing tidak bisa dikategorikan sebagai batik. Coba deh sekarang cek lemari bajunya, mana yang batik beneran mana yang bukan.

Bukti Sejarah Nenek Moyangku Pembatik
Van Zuylen yang aktif membatik pada awal 1900an merupakan wanita belanda yang cukup terkenal di Pekalongan. Bisa dibilang, beliau ini legenda batik di Pekalongan. Silakan baca di buku "Batik Belanda 1840-1940 Dutch Influence in Batik from Java History and Stories" bagaimana batik Indo-Eropa yang berkembang di Pekalongan mulai ditiru perusahaan batik milik Tionghoa.

Dalam beberapa catatan sejarah menunjukan bahwa perkembangan batik di Pekalongan telah mulai dilaksanakan pada masa kerajaan Mataram Islam sekitar abad ke-17 Masehi. Dalam dokumen milik VOC disebutkan bahwa pada tahun 1740 pernah terjadi pengiriman kain dari Pekalongan ke Batavia dengan omset sebesar 20 ribu real spanyol (mata uang VOC) per tahun.

Kalian tahu Perang Diponegoro? Peristiwa ini punya andil cukup besar. Pasca perang Jawa pada 1830, keluarga keraton yang meninggalkan daerah kerajaan mengembangkan batik di daerah baru di antaranya Pekalongan. 

Pada perkembangannya, motif dan warna dari keraton mulai berakulturasi dengan budaya lokal. Kedatangan pedagang Melayu, Bugis, Tiongkok, Arab, India, serta masa pendudukan Jepang juga memengaruhi.

Puluhan tahun kemudian, pada tahun 2013 Disperinkop Kota Pekalongan mencatat sebanyak 99,8% industri di Kota Pekalongan didominasi oleh industri kecil dan sebanyak 83,1% bergerak di bidang industri tekstil batik atau printing. 

Hal ini berimplikasi pada mata pencaharian penduduk di Kota Pekalongan yang sebagian besar bekerja di sektor industri sebanyak 76% dan 69,5% di antaranya bekerja di industri batik.

Kondisi sungai di Pekalongan
Aku mencoba mencari kebenaran lewat data ilmiah. Dalam Tesis yang ditulis oleh Putri Yasmin pada tahun 2013 disebutkan bahwa  saluran irigasi dan drainase Kota Pekalongan yang mengalir di Kali Bremi, Kali Meduri dan Kali Asem Binatur telah banyak tercemar oleh industri dan kegiatan domestik. Hal ini menyebabkan sedimen yang berada pada saluran irigasi dan drainase sangat tinggi.

Ingin mengetahui lebih lanjut tentang hasil penelitiannya, aku sempatkan untuk menggali data lebih dalam ke Putri Yasmin yang sekarang adalah peneliti dan konsultan lingkungan.

"IPAL (instalasi Pengolahan air limbah)" di Pekalongan perlu banget. Nggak cukup kalau hanya mengandalkan yang di Kauman dan Jenggot. Kota Pekalongan itu terbebani juga oleh indutri tekstil dari Kabupaten. Berdasarkan hasil Analytical Hierarchy Process, setidaknya perlu dibangun lagi 6 IPAL di Kelurahan Tirto, Kelurahan Pabean, Kelurahan Landungsari dan Kelurahan Degayu."

Menurut Putri Yasmin, masalah lingkungan yang dihadapi oleh Kota Pekalongan terkait dengan limbah batik diantaranya adalah terlampauinya beberapa baku mutu parameter kualitas perairan yang mengakibatkan meningkatnya sedimentasi perairan, blooming enceng gondok, keruhnya badan air dan matinya beberapa organisme perairan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2