Mohon tunggu...
Salman
Salman Mohon Tunggu... Administrasi - Warga Negara Indonesia yang baik hati

Presiden Golput Indonesia, pendudukan Indonesia yang terus menjaga kewarasan

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

StartUp dan Bela Negara

13 Oktober 2019   14:28 Diperbarui: 13 Oktober 2019   14:32 35
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Startup Indonesia, sumber: accuratecloud.id

Startup dan Bela NegaraSebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dari kepala saya: apa yang masih tersisa yang dikuasai negara ini? Ekonomi, budaya, teknologi hampir didominasi oleh asing semua. Tapi yang luput dan yang juga terpenting adalah masa depan negara kita juga sudah dicengkram oleh asing.

Bagaimana asing menguasai masa depan kita? Nah inilah topik yang ingin saya uraikan supaya kita melek dan peduli. Tapi sebelum itu saya sajikan dulu sebuah video khusus untuk orang-orang yang malas baca : 

Setelah menonton video diatas diharapkan Anda bisa sedikit melek, minimal Anda sadar bahwa gadget yang Anda pakai itu juga buatan asing yang bisa jadi dari China juga.

Ketika membaca suatu artikel, 90 persen netizen Indonesia hanya akan berhenti pada paragraph ini, kalau Anda bukan termasuk 90% tadi Anda akan meneruskan membaca artikel ini.  

R.I.P Start Up Karya Anak Banga

Empat start up fenomenal Indonesia, yaitu : Gojek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak, yang dibangga-banggakan karya anak bangsa sejatinya sudah tinggal nama. Lha kok bisa? Alasannya klasik, namanya usaha, pasti butuh modal untuk mengembangkan usaha dan memenangkan kompetisi. Mereka butuh dana yang sangat-sangat-sangat besar yang pemerintah tidak akan pernah sanggung untuk memberikan pinjaman modal seperti yang mereka butuhkan.  

Lalu solsuinya kemana selain ke asing? Dengan potensi pasar yang sangat besar tentu saja pemodal atau investor asing yang memiliki insting bisnis yang normal yang selama ini mencari pintu masuk ke pasar Indonesia tentu akan mudah menggelontorkan dana triliunan rupiah, yang tentu tidak bisa dilakukan oleh pemenrintah Indonesia tadi.

Konsekuensi dari penanaman modal tadi adalah dikonversi ke dalam bentuk saham. Saham adalah bagian kepemilikian perusahaan. Untuk Gojek, seaorang Nadiem Makarim sekarang kepemilikannya di Gojek sudah tidak sampai 5 persen, tepatnya hanya 4,81 %. Meski Nadiem makarim mengklaim masih mengendalikan penuh operasinal Gojek, tentu saja karena Investor tidak mau pusing dengan tetek bengek operasional perusahaan, mereka hanya tahu mendapatkan keuntungan entah bagaimana itu caranya.

Sekarang Anda bayangkan jika perusahaan itu mengalami keuntungan, siapa yang akan mendapatkan keuntungan terbesar? Apakah pemilik saham yang kecil atau pemilik saham yang besar? Silahkan dijawab pakai akal waras.

Sebenarnya permasalahan tidak berhenti di sana saja. Saya juga melihat bahwa pengusaan Asing tadi tidak berhenti pada penguasaan startup saja, tetapi sudah masuk ke sector yang sangat strategis, yaitu sector UMKM, sector yang menggerakkan 60% ekonomi Indonesia.
Lewat apa asing masuk ke sector UMKM, kan mereka tidak investasi di warung-warung atau industry rumahan? Tentu saja lewat startup tadi, mulanya masuk lewat tokopedia atau bukalapak namun sekarang berkembang lagi masuk lewat gojek dengan layanan pemesanan makanan yang bernama go-food.

Sekarang Anda bayangkan jika warung-warung atau tok-toko yang menjual keperluan dan kebutuhan sehari-hari itu menjadi bagian yang disebut sebagai mitra itu, maka tanpa bersusah payah go-jek bisa memiliki jutaan  toko/warung yang tersebar di Indonesia. Anda bisa bayangkan keuntungan yang didapatkan? Dan keuntungan itu nanti siapa yang akan menikmati?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun