Mohon tunggu...
I Made Handreana
I Made Handreana Mohon Tunggu... Muda bertanggung jawab

Lahir di Seraya, 22 September 2001

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bagaimana Nyepi di Masa Pandemi Covid-19?

16 Maret 2021   14:51 Diperbarui: 16 Maret 2021   15:52 129 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bagaimana Nyepi di Masa Pandemi Covid-19?
dok. 2018

Pandemi covid 19 melanda Indonesia mulai terkonfirmasi pada tanggal 2 Maret 2020. Pada saat itu, pemerintah mengatakan bahwa sudah ada yang terjangkit virus Corona di kota Depok. Hal ini membuat gempar seluruh rakyat Indonesia.  Untuk itu, pemerintah menghimbau untuk tidak berpergian dan selalu memakai  masker. Virus ini menyebabkan turunnya perekonomian Indonesia dan segala  aktivitas masyakat mulai dari kegiatan sehari-hari sampai kegiatan keagamaan,  sehingga dibuatlah tatanan kebiasaan era baru atau new normal. 

Dari tatanan kebiasaan era baru ini, diharapkan mampu menumbuhkan perekonomian dan segala aktivitas masyakat mulai dari kegiatan sehari-hari  sampai kegiatan keagamaan sehingga kehidupan dapat kembali seperti biasa.  Meskipun sudah memasuki tatanan kebiasaan era baru, namun kondisi Pandemi  Covid-19 belum normal, masih terdapat penularan dan penyebaran. Sehingga  diperlukan kesadaran dari semua kalangan masyarakat. Begitu juga dalam  pelaksanaan Hari Raya umat Agama Hindu yang biasanya dalam suasana  keramaian. Contohnya Hari Raya Nyepi.

                                                                                                                                                           

Dalam hari raya ini, biasanya sehari sebelum hari raya Nyepi yang disebut dengan malam pengerupukan, masyarakat di Desa Seraya Tengah akan ada pengarakan Ogoh-ogoh yang berlangsung di Lapangan Ki Kopang, Desa Seraya Tengah.Biasanya sebelum atraksi ogoh-ogoh dilangsungkan  semua orang akan bersembahyang di pura pemapagan terlebih dahulu yang berada di wilayah Banjar Dinas Tenggang. Setelah itu semua kembali ke dalam Lapangan. Biasanya setiap STT masing-masing banjar telah menyiapkan atraksi pengarakan ogoh-ogoh yang akan dilangsungkan ditengah lapangan dengan ditonton oleh STT dari banjar yang lain dan masyarakat sekitar.

Dok.pri
Dok.pri
Namun, di situasi seperti sekarang ini kita diharuskan untuk meniadakan pengarakan Ogoh-ogoh. Hal ini disebabkan karena tingkat penyebaran virus Corona masih sangat tinggi sehingga Gubernur Bali bersama PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Bali dan MDA (Majelis Desa Adat) Bali, mengeluarkan Surat Edaran berkaitan dengan Hari Raya Nyepi yang isinya untuk meniadakan ogoh-ogoh. Peniadaan pengarakan ogoh-ogoh ini sudah terjadi selama 2 kali dari tahun lalu tepatnya ditahun caka 1942. Meskipun pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan namun upacara mecaru dan sembahyang di masing-masing banjar tetap dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan membatasi krama adat yang hadir. Selain itu, setiap masyarakat di masing-masing rumah menghaturkan banten segehan agung.

Hari Raya Nyepi tahun ini berlangsung seperti Hari Raya Nyepi yang sudah-sudah terjadi, kita hanya melangsungkan Nyepi selama 1 hari dengan tidak melakukan kegiatan diluar rumah atau catur brata penyepian,seperti bekerja atau bepergian dan tidak berfoya-foya. Pemerintah Provinsi Bali juga mematikan siaran televisi, radio dan mematikan saluran internet.

Di Hari Raya Nyepi ini banyak masyarakat kecewa karena tidak adanya tradisi pengarakan ogoh-ogoh di malam pengerupukan akibat pandemi covid-19 ini. Karena biasanya para muda-mudi sangat antusias menyambut perayaan nyepi. Tetapi meskipun begitu masyarakat tetap mentaati aturan pemerintah dengan baik meskipuan kekecewaan dari 1 tahun lalu belum terobati. Melalui Perayaan Nyepi tahun baru caka 1943 ini semoga apa yang diharapkan masyarakat segera terkabulkan dan semoga pandemi ini segera berlalu agar masyarakat bisa kembali hidup normal dan berjalan seperti sedia kala.

VIDEO PILIHAN