Mohon tunggu...
Ilyani Sudardjat
Ilyani Sudardjat Mohon Tunggu... Biasa saja

"You were born with wings, why prefer to crawl through life?"......- Rumi -

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Venezuela Mendepak Perusahaan Minyak AS, Menggandeng Indonesia?

24 Juni 2012   03:00 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:36 890 9 15 Mohon Tunggu...

Kemaren, pas iseng iseng lagi baca media Kontan, eh ketemu berita mengenai masuknya Pertamina ke perusahaan minyak di Venezuela. Pertamina membeli kepemilikan 32% saham perusahan minyak Petrodeltas dari perusahaan AS, Harvest Natural Resources Inc, dengan nilai akuisisi 'hanya' sebesar US$ 105 juta (informasi riil dari Pertamina, walaupun Reuters menyebutkan senilai US$525 juta dollar) Perusahan perusahaan minyak AS memang siap siap hengkang dari negara ini, karena pemerintah Venezuela memang lagi gencar gencarnya melakukan nasionalisasi terhadap berbagai peruisahaan minyaknya. Seperti Exxon Mobil, telah diambil alih oleh perusahaan minyak pemerintah Venezuela, dengan harga yang cukup murah, setelah pemerintah Venezuela memenangkan arbitrase internasional yang diajukan oleh Exxon Mobil. Pemerintah 'hanya' membayar US$ 255 juta, sementara klaim kerugian yang diajukan oleh Exxon Mobil mencapai US$ 12 milyar. Tetapi anehnya, walaupun perusahaan perusahaan AS hendak 'didepak' seperti ini, Pertamina malah mendapat lampu hijau dari pemerintah Venezuela. Dan ini merupakan langkah yang sangat strategis, mengingat Venezuela merupakan negara yang masuk dalam 10 besar penghasil minyak dunia (no.7, diatas Rusia dan Libya yang masing masing no.8 dan 9). Cadangan minyak di Venezuela mencapai 79,7 milyar barrels, kira kira kurang sepertiga dari cadangan yang dimiliki oleh negara penghasil minyak terbesar dunia, Saudi Arabia, 264,3 milyar barrels. KSA menguasai 25% cadangan dunia. Dan kepercayaan ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi Pertamina. Karena ini adalah keberhasilan pertama Pertamina mengakuisisi perusahaan migas di luar negeri, dan sejalan dengan keinginan Pertamina untuk melakukan ekspansi di sisi hulu penguasaan migas di luar negeri. Sementara di dalam negeri sendiri, ruang gerak Pertamina sudah dibatasi oleh UU Migas yang sangat pro-asing. Perusahan migas asing di Indonesia menikmati sisi hulu tanpa harus susah payah memenuhi kebutuhan domestik akan migas di dalam negeri. Dan otoritas Pertamina pun sudah sangat dibatasi oleh pemerintah dengan membentuk lembaga semacam BPH Migas, yang malah bisa jadi merupakan 'kepanjangan' politik 'pemerahan' terhadap kebijakan kebijakan migas di Indonesia. Baik yang strategis maupun yang operasional. Bisa jadi loh! Dan jika Venezuela mampu melakukan nasionalisasi, kapan Indonesia bisa melakukan hal yang sama? Sebelum sumber daya benar benar dikeruk oleh asing, hingga tak bersisa untuk kemakmuran rakyat negeri ini sendiri? note: penghasil minyak 1-10 dunia: Saudi Arabia, Kanada, Iran, Irak, Kuwait, UEA & Qatar, Venezuela, Rusia, Libya dan Nigeria Ya Sudah, Salam Kompasiana!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x