Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Menunda Keinginan Kuat Mengunjungi "Pearl of the Orient"

15 Oktober 2020   06:28 Diperbarui: 15 Oktober 2020   06:47 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Patung Lapu-Lapu. - Traveloka.com

Pulau-pulau itu cukup berdekatan dan dapat diakses dengan kapal laut. Hanya saja, dari Manila, lebih baik langsung melakukan penerbangan menuju Cebu  yang merupakan pulau utama. Saya ingin sekali ke  Kota Lapu-Lapu yang berada di sisi timur pulau ini.

Di sana, ada tempat bersejarah menarik tempat Lapu-Lapu, seorang pejuang Filipina yang bertarung mengusir Spanyol saat datang pertama kali di sana. Cerita ini seolah menjadi penyambung cerita sejarah saat saya SD dulu. Kala itu, guru sejarah menarasikan bahwa Spanyol dipaksa angkat kaki dari Maluku oleh Portugis dan berlayar menuju Filipina. Nah, di kota inilah perlawanan sengit antara Spanyol dan penduduk lokal pun terjadi.

Bernyanyi di Pinggir Jalan

Salah satu keinginan saya pergi ke Filipina adalah bernyanyi di pinggir jalan. Orang-orang Filipina yang gemar bernaynyi membuat saya tertarik. Ketika saya berkaraoke menggunakan aplikasi karaoke, seringkali saya bergabung dengan mereka. Banyak diantara mereka yang suaranya bagus-bagus.

Sumber: https://www.sickchirpse.com
Sumber: https://www.sickchirpse.com
Saya penasaran saja bagaimana suara asli mereka. Apakah sebagus di aplikasi atau malah lebih bagus. Biasanya, warung-warung di sana sering dilengkapi dengan perangkat karaoke yang bisa digunakan oleh pengunjung. Asyik saja rasanya bernyanyi lagu-lagu berbahasa Tagalog meski dengan pengucapan yang kurang sempurna.

Berburu makanan khas Indonesia di Filipina.

Beberapa waktu terakhir, saya rajin melihat status teman dari Filipina yang mengunggah kulinernya. Nah beberapa diantaranya mirip atau bahkan sama dengan makanan khas Indonesia. Sejak saat itu, saya menjadi lebih tertarik. Tentu, makanan halal yang ingin saya cari.

Tuslob Buwa, makanan khas Cebu Filipina yang menggunakan ketupat. - Sumber: y101fm
Tuslob Buwa, makanan khas Cebu Filipina yang menggunakan ketupat. - Sumber: y101fm
Beberapa makanan khas tersebut adalah lunpia, sayur asem, ikan asin dan sambal terasi, lemper, jenang sum-sum dan lain sebagainya. Walau tentu memiliki cita rasa yang berbeda dengan apa yang saya temukan di Indonesia, rasanya asyik saja. Menyantap makanan khas Indonesia dalam cita rasa Filipina.

Melakukan salat berjamaah di wilayah ARMM

Tujuan terakhir saya ke Filipina adalah ikut beribadah bersama saudara muslim di wilayah ARMM (wilayah otonomi muslim Mindanao). Ada beberapa daerah yang ingin saya kunjungi seperti Maguindanao, Cotabato, dan Lanao del Sur. Untuk wilayah terakhir barangkali sulit karena di dalamnya ada Kota Marawi yang hancur pasca serangan pemberontak Maute pada 2017.

Masjid Pink. - mymindanao.com
Masjid Pink. - mymindanao.com
Namun, masih ada wilayah ARMM yang aman untuk dikunjungi. Saya ingin sekali mengunjungi masjid pink atau Masjid Dimakoum. Masjid ini terlihat megah dan menyala dengan warna merah jambu yang menyala. Selain masjid ini, ada beberapa masjid lain yang sangat bersejarah dan layak dikunjungi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun