Mohon tunggu...
Redha Andika Ahdi
Redha Andika Ahdi Mohon Tunggu...

Travel Blogger (www.ibadahmimpi.com) I Travel Writer I ibadahmimpi@gmail.com I instagram : @redhaandikaahdi I

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Ratenggaro, Kampung Magis dari Tanah Sumba

2 April 2019   13:25 Diperbarui: 2 April 2019   13:39 0 3 2 Mohon Tunggu...
Ratenggaro, Kampung Magis dari Tanah Sumba
photo by ibadahmimpi.com

Ngomongin keindahan alam dan budaya Sumba gak bakalan ada habisnya. Keindahan alamnya yang begitu mempesona hingga adat budayanya yang unik dan beranekaragam membuat Sumba selalu menjadi primadona bagi para traveler lokal maupun mancanegara. Tak terkecuali di salah satu kampung adat di bagian Sumba Barat Daya yang bernama Ratenggaro. Kampung Adat Ratenggaro tepatnya berlokasi di Desa Umbu Ngedo, Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Kampung Adat Ratenggaro berjarak +/- 50 km dari Tambolaka, satu hal yang sangat disayangkan adalah karena belum tersedianya akomodasi umum yang dapat digunakan untuk mencapai desa ini sehingga kita harus menyewa kendaraan atau jasa travel dari Tambolaka. Akses jalan dari Tambolaka menuju Ratenggaro dapat ditempuh dalam waktu +/- 2 jam perjalanan dengan kondisi jalan beraspal yang masih mulus bahkan lebih mulus dari paha Lucinta Luna!

Ternyata, Kampung Adat Ratenggaro terletak di tepi sebuah pantai dengan pasir putih yang sangat indah dan air laut yang biru yang sangat jernih. Tempatnya yang tenang dan ombaknya yang mendayu-dayu membuat saya seakan pengen main-main air disana bareng anak-anak Sumba.

Anak-anak yang ramah dan bersemangat | photo by ibadahmimpi.com
Anak-anak yang ramah dan bersemangat | photo by ibadahmimpi.com

Uma Kelada

Keunikan lainnya dari Kampung Adat Ratenggaro adalah terdapatnya rumah adat yang memiliki atap seperti menara yang menjulang tinggi mencapai ketinggian 15-20 meter yang disebut Uma Kelada. Dengan atapnya yang terbuat dari bahan dasar jerami. Tinggi rendahnya atap rumah didasarkan pada status sosial mereka!

Menurut penduduk setempat, tingginya menara atap rumah tersebut memiliki filosofi tersendiri. Menara yang tinggi melambangkan keterarahan kepada Sang Pencipta dan bukan pembeda status sosial. Bingung ya? Sama! Saya juga bingung.

photo by ibadahmimpi.com
photo by ibadahmimpi.com

Masing-masing rumah adat terdiri dari 4 tingkat ruangan, dimana tingkat paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan, tingkat kedua tempat pemilik rumah, tingkat ketiga tempat untuk menyimpan hasil panen dan dan tingkat terakhir sebagai tempat untuk memasak. Greget cuy! Masak di atap rumah!

Dan juga di tingkat teratas ini terdapat sebuah kotak yang merupakan tempat penyimpanan benda keramat dan juga tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol tanda kemuliaan!. Simbol tersebut menandakan bahwa mereka sudah melaksanakan upacara adat.

Uniknya lagi rumah-rumah tersebut dibangun dengan cara gotong royong oleh penduduk Ratenggaro selama 3 bulan dengan melalui berbagai tahap termasuk upacara adat.


Kuburan Batu Megalitik

Menurut informasi yang saya dapat, Ratenggaro sendiri berasal dari kata 'Rate' yang berarti kuburan, dan 'Garo' yang berarti orang Garo. Jadi Ratenggaro adalah...?

Jadi ceritanya pada zaman dahulu kala, terjadilah peperangan antar suku, di mana suku yang sekarang berhasil menghuni desa ini setelah berhasil merebutnya dari orang Garo asli. Suku yang kalah dibunuh dan dikubur di tempat itu juga.

Di desa ini juga terdapat 304 buah kuburan batu. 3 diantaranya memiliki bentuk unik yang terletak di pinggir laut. Selain itu, bentuk pahatan dan ukurannya menyerupai sebuah meja datar berukuran besar yang terlihat sangat kokoh walau dihantam angin kencang dari arah laut.

Di kampung ini juga terdapat kuburan batu leluhur atau raja, dan juga ada kuburan batu untuk warga yang ukurannya lebih kecil.

photo by ibadahmimpi.com
photo by ibadahmimpi.com

Masyarakat yang Ramah & Memegang Teguh Tradisi

Masyarakat disana masih memegang tradisi Marapu seperti warga Sumba pada umumnya, yaitu sebuah tradisi memuja nenek moyang atau leluhur.

Upacara kematian di sana juga dilengkapi dengan menyembelih hewan seperti kerbau atau kuda. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang ikut serta menghadiri upacara penguburan, sehingga hewan dipersembahkan untuk roh nenek moyang.

Selain itu masyarakat disini juga sangat ramah kepada pendatang baru. Kami menghabiskan hari sambil berbincang-bincang dan bermain bersama anak-anak Sumba sembari menikmati betapa indahnya alam Indonesia ini.

photo by ibadahmimpi.com
photo by ibadahmimpi.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2