Mohon tunggu...
ETY SUPRIYATIN
ETY SUPRIYATIN Mohon Tunggu... Lainnya - Anaknya guru, Istrinya guru, ibunya guru, kakaknya guru πŸ€”

Menulis apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. β– JUST BE MYSELFβ– 

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Tentang Kematian

6 Oktober 2022   18:40 Diperbarui: 6 Oktober 2022   19:05 118
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Gumpalan darah teronggok mendekam
Berproses melengkapi yang semestinya
Bercokol pada tempat yang damai
Meskipun gelap Β tanpa cahaya
Seakan tak ingin ke dunia lain
Memenuhi tahapan kehidupan yang nyata

Lepaslah tali yang menguatkan
Terlihatlah mayapada terang benderang
Hingga menangislah untuk menjemput dekapan
Buaian kasih sayang terasakan

Tak butuh lama terbiarkan
Begitu singkat perjalanan
Cukuplah bekal dan harapan
Jemputlah dekapan yang memisahkan
Dalam tenang karena sayang

Tak ada lagi senyuman manis
Tiada lagi kidung lirih saat gundah
Rintihan perih saat tergerogoti
Tangis lara yang menyiksa
Tatapan kosong yang memohon
Doa-doa yang terucap
Detak jantung yang melambat
Tarikan nafas yang tersendat
Lemah lunglai menyisakan isakan
Dalam tenang penuhi panggilan

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun