Mohon tunggu...
Henri Satria Anugrah
Henri Satria Anugrah Mohon Tunggu... Blogger di pikirulang.id

Sarjana Psikologi (S.Psi), Universitas Gadjah Mada. Saat ini, bekerja sebagai Chief Marketing Officer di PT Amira Heksa Internasional (amiraheksa.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apa Bedanya Stereotip, Prasangka, dan Diskriminasi?

6 Oktober 2019   19:30 Diperbarui: 6 Oktober 2019   19:55 12798 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apa Bedanya Stereotip, Prasangka, dan Diskriminasi?
Ilustrasi prasangka: pexels.com


Segala ras, suku, agama, dan kelompok tertentu yang disebutkan pada artikel ini hanyalah contoh belaka. Penulis sama sekali tidak bermaksud menghina ras, suku, agama, dan kelompok tertentu. Karena topik artikel ini adalah prasangka, stereotip, dan diskriminasi, penulis menggunakan contoh nyata yang ada di negara kita dengan harapan agar seluruh pembaca lebih mudah memahami apa yang dimaksud oleh penulis. Dimohon pengertian dan keterbukaan dalam berpikir sebelum membaca seluruh isi artikel ini.

Tuhan telah menciptakan manusia berbeda-beda. Di dunia ini, manusia terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, terdapat begitu banyak agama, ras, dan suku yang beragam di setiap pulau. 

Tidak jarang kita mendengar beberapa stereotip dari ras atau suku tertentu, misalnya "orang padang itu pelit", "orang batak itu kasar", "orang jawa itu ramah" dan sebagainya (sekali lagi, itu hanya contoh stereotip yang ada menurut pengetahuan penulis, mohon maaf jika ada yang tersinggung).

Jika kita pikirkan dengan seksama, apakah masing-masing ras atau suku memang benar-benar seperti itu? (misalnya, apakah semua orang jawa pasti ramah?). 

Stereotip adalah generalisasi yang berlebihan terhadap seseorang berdasarkan sifat-sifat yang ada pada kelompoknya (ras, suku, atau agamanya) . Stereotip merupakan "jalan pintas" dalam berpikir. 

Orang yang memiliki kebutuhan berpikir (need for cognition) yang rendah lebih sering berpikir menggunakan stereotip. Misalnya terdapat stereotip bahwa "mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) merupakan orang pintar", maka ketika beretemu dengan seorang mahasiswa UGM, orang dengan kebutuhan berpikir yang rendah cenderung langsung menganggap bahwa mahasiswa UGM tersebut merupakan orang yang pintar. Padahal kenyataannya, mahasiswa UGM tersebut belum tentu sepintar yang dia bayangkan. Stereotip tidak selalu bersifat negatif. Namun, stereotip akan selalu negatif jika dipengaruhi  prasangka.

Prasangka adalah sikap, kepercayaan, perasaan, dan judgment negatif terhadap suatu kelompok dan seluruh anggota kelompoknya . Prasangka merupakan "virus" dalam berpikir. 

Prasangka membuat seseorang tidak menyukai seluruh orang dalam ras, suku, dan agama tertentu, sehingga menganggap mereka lebih rendah daripada manusia.

Prasangka terbentuk karena pikiran dan perasaan buruk terhadap kelompok tertentu akibat pengaruh dari lingkungan atau pengalaman buruk terhadap seseorang pada suatu kelompok. Misalnya, karena beredar anggapan bahwa "orang padang itu pelit", maka seseorang dapat berprasangka bahwa semua orang padang merupakan orang pelit, sehingga membenci seluruh orang padang. Contoh lain, hanya karena satu orang padang tidak meminjami kita uang pada saat tertentu, kita langsung beranggapan bahwa seluruh orang padang itu pelit (padahal bukan karena orang padang itu benar-benar pelit, tetapi memang tidak memiliki uang atau sedang memiliki kebutuhan yang sangat mendesak. 

Cara berpikir seperti itu sangatlah berbahaya karena pada kenyataannya, tidak semua orang padang itu pelit. Sebagai warga negara Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, suku dan agama kita harus menjauhi prasangka dalam berpikir agar tidak memiliki rasa benci terhadap ras, suku, dan agama tertentu. Kuatnya prasangka dalam berpikir dapat mendorong seseorang melakukan diskriminasi.

Diskriminasi adalah perilaku khusus yang buruk terhadap kelompok tertentu . Diskriminasi pada umumnya dilakukan akibat pengaruh dari prasangka.

Melanjutkan contoh di atas, misalnya, karena kita telah berprasangka bahwa orang padang itu pelit, maka kita mendiskriminasi seluruh orang padang dengan "membalas kepelitan mereka" (misalnya, kita tidak akan meminjami uang kita kepada satu orang padang pun, tetapi selain orang padang boleh meminjam uang kita). Diskriminasi merupakan "virus" perilaku berbahaya yang dapat memicu perpecahan antar kelompok. 

Diskriminasi sangat tidak pantas dilakukan, apalagi di negara yang bersemboyan Bhineka Tunggal Ika ini. Sebagai warga negara Indonesia, seharusnya kita tidak bersikap dan berperilaku berbeda hanya karena perbedaan ras, suku, dan agama. Bukankah perbedaan merupakan keindahan khusus yang ada di Indonesia?

Stereotip, prasangka, dan diskriminasi harus dijauhi dari hati dan pikiran kita. Stereotip, prasangka, dan diskriminasi tidak hanya kesesatan dalam berpikir, tetapi juga pemicu utama dalam perpecahan antar golongan. Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia, kita harus saling menyayangi dalam perbedaan dan berpegang teguh pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN