Mohon tunggu...
Henni Febriyola
Henni Febriyola Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Tomedonaku Omoi Afure

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku hanya Ingin Pergi

3 Oktober 2022   14:56 Diperbarui: 3 Oktober 2022   15:05 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Jika terus bersama dalam ruang lingkup yang kecil, rasanya hati ini sangatlah hiba. Cinta tanpa bisa mengungkapkan, tanpa bisa memiliki. Sangatlah sulit dan sangat berat untuk dijalani. Dia selalu hadir dalam penglihatan, bagaimana mungkin tidak. Kita satu jurusan, satu fakultas dan bahkan satu kelas, tentunya selalu bertemu.

Miris hati ini, tak tau harus diungkapkan dengan kata-kata apa dan bagaimana. Cuma bisa dipendam dan di telan sendirian. Terkadang isak tangisan saat tersakiti hanya bisa di tahan ke dada. Tak tau harus bercerita ke mana cinta ini diceritakan. Dia milik perempuan lain, dan aku pun juga pasangan dari lelaki lain.

Aku Bresty dan dia Ibnu. Kita sama-sama perantau dari daerah Bukittinggi yang kuliah ke pulau Jawa. Kita satu jurusan dan tentunya sering satu kelas bersama. Dulu kita sama-sama punya rasa. Entah itu hanya sekedar perasaanku saja entah bagaimana. Tapi dulu dia sangat akrab, hangat dan sangat dekat denganku. Dulu tatapannya, tingkahlakunya penuh cinta terhadapku. Namun sekarang dingin, canggung dan bahkan aku dan dia ketika bertemu hanya selalu buang muka.

Semuanya bermula dari kelas tenis meja, dia Ibnu menatapku dengan tatapan dingin dengan perasaan kecewa. Aku yang mengerti ekspresinya, langsung menanyakan kepadanya ada apa. Dan bodohnya aku menanyakan perasaannya kepadaku. Dia hanya menjawab bahwa dia hanya menganggap ku sebagai adiknya. Bodohnya, aku hanya tak masalah dan beranggapan dia malu akan mengungkapkan perasaannya kepada ku. Namun, aku salah. Dia telah mengikat hubungan dengan orang lain. Seketika itu aku kecewa.

Dari hal inilah aku terus menyembunyikan rasaku terhadapnya, seolah semuanya baik baik saja. Seolah-olah semuanya tidak terjadi apa-apa. 

Kalau dipikir aku bodoh. Iyaa kali. Bagiamana mungkin aku bisa menerima cinta yang datang dengan keadaanku yang masih memiliki rasa ke pada orang lain? Dengan begini aku memiliki pacar, seorang pacar yang datang dari sahabatku sendiri. 4 tahun sahabatan dan jadi kekasihku dalam keadaanku yang mencintai orang lain. Walaupun LDR dia sangat peduli akan diriku. Namun apadaya perasaanku lebih berat untuk Ibnu yang telah memiliki pasangan. Aku sama sekali tidak mengerti, aku tidak mengerti apa yang terjadi. 

Rasaku  untuknya Ibnu, cinta untuknya semuanya muncul tiba-tiba. Bahkan aku juga bertanya kepadanya sang pembolak balik hati. Mengapa dia menimbulkan rasa cinta dan sakit yang harus ku terima setiap hari melihat Ibnu dan kekasihnya, mengapa Tuhan tidak menimbulkan rasa cinta yang begitu dalam untuk kekasihku. Tuhan hanya diam, sama sekali tak menjawabku. Tapi, walaupun begitu, seiring dengan berjalannya waktu aku akan menunggu jawaban dari tuhan untukku.

Entah cinta dan perasaan apa ini. Mencintai seseorang yang telah memiliki pasangan rasanya hanya memeluk badan sendirian. Tapi aku sudah berusaha untuk berbuat biasa saja. Apa daya tetap saja aku tersakiti. Setiap kelas, ada hal yang lucu. Aku langsung tertawa dan menghadap ke arahnya. Sekita itu juga tawaku terhenti. Karena aku melihat dia tertawa dan tersenyum kepada pasangannya. Seketika itu aku langsung berpikir aku siapa? Aku berusaha mengingat sosok pendampingku, cintanya kasih sayangnya padaku. Namun apadaya cintaku untuknya Ibnu. Aku terus menutup mataku akan cinta yang datang kepadaku dan selalu berharap akan Ibnu.

Jika saja, waktu bisa ku putar. Semua yang berlalu bisa kan ku ubah. Aku hanya ingin mengubah tentang pertemuan dan hal-hal yang berlalu antara kita. Aku hanya ingin menghapus saat-saat kita bersama. Walaupun dulu, aku sempat tertawa dan punya harapan bersamanya, aku lebih memilih untuk kehilangan momen itu ketimbang aku menderita sakit akan cintaku yang tak berbalas, sakit akan mencintai sendirian, sakit akan perasaan yang ku pendam.

Semua yang terjadi, sama sekali tidak aku inginkan. Tapi kadang rasa raguku, cintaku untuknya kadang berbuah kepahitan. Selalu berbuah pahit. Aku hanya ingin pergi dan meninggalkan semuanya. Biar aku tidak lagi melihatnya, tidak lagi mencintainya dalam diamku. Tapi kenapa?? Saat saat aku sudah menundukkan setiap pandanganku, agar aku tidak melihatnya, agar aku tidak lagi melihat apa yang harus aku lihat. Aku selalu berusaha berbuat iklas dengan apa yang terjadi dan menerima apa yang terjadi. Kenapa saat semuanya sudah ku mulai, semuanya membuat hatiku, batinku bertanya dan baper akan setiap hal yang terjadi. Saat-saat aku ngumpul bareng teman laki-laki dia selalu menatapku dengan tatapan cemburu, saat-saat aku sendirian kadang dia usil menatapku dengan perasaan hibanya.

Semua yang terjadi, sama sekali aku tidak marah. Aku hanya cemburu. Cemburuku pun sama sekali tidak berniat untuk mengganggu hubungannya. Aku sakit, iyaa hatiku sakit, tiap aku melihat kepadanya dia melihat pasangannya, semuanya sakit. Aku hanya ingin pergi membawa rasaku yang malang. Aku cape, menahan tangisku, aku juga cape di malam hari mengingat semuanya, seketika itu juga aku menangis melihat nasib cintaku. Aku mengerti akan cinta dan kasihku yang malang. Aku juga cape mencintai tanpa balasan. Aku hanya ingin bahagia dan membuang rasa cintaku. Aku hanya ingin mencintai kekasihku. Aku juga ingin bahagia, aku ingin bahagia. Aku juga ingin cinta pasanganku berbalas. Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Hanya itu saja, aku ingin pergi membuang rasa cintaku untuknya dan fokus akan kekasihku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun