Mohon tunggu...
Hendri Ma'ruf
Hendri Ma'ruf Mohon Tunggu...

Hobi "candid photo," suka traveling, dan senang membaca plus menulis. Pernah bekerja di perusahaan, sekarang berkarya mandiri. Meminati masalah kepemimpinan, manajemen, dan kemasyarakatan.

Selanjutnya

Tutup

Travel

Jalan-jalan Ke Terowongan Sasaksaat (Photo Essay)

8 Juni 2013   12:29 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:21 0 3 5 Mohon Tunggu...
Jalan-jalan Ke Terowongan Sasaksaat (Photo Essay)
13706687121769970439

Penulis berkesempatan hiking ke Stasiun KA Sasaksaat, terowongan KA, hingga ke stasiun KA Maswati. Kedua stasiun itu masuk wilayah Kabupaten Bandung Barat. Penulis melakukan hiking tersebut bersama dua teman.

Dari wilayah pinggiran Ibukota, kami bertiga menumpang kendaraan umum menuju sebuah jalan raya yang terdapat jembatan KA, dekat dengan stasiun Sasaksaat. Kami turun dari sebuah mobil semacam angkot, tetapi berukuran lebih besar yang orang sering sebut dengan Elf.

Begitu turun, pemandangan alam membentang di hadapan mata. Ngarai yang tertutup pepohonan menampakkan pemandangan hijau. Jalur rel KA melintas di atas jalan, memanjang menyeberang ngarai. Di seberang, jalur KA terlihat menyilang di bawah badan jalan tol Cipularang.

[caption id="attachment_247642" align="alignnone" width="400" caption="Foto 1 Rel KA melintas di atas jalan raya Purwakarta Bandung dan di bawah jalan tol Cipularang"][/caption] Kami pun menuju warung untuk jeda sejenak. Di sana kami berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari Bandung dan dari Jakarta. Yang dari Bandung, sendirian, membawa mobil dan sebuah sepeda balap. Dia baru saja selesai bersepeda, dan warung itu menjadi posnya. Sedangkan yang dari Jakarta adalah penggemar fotografi yang sedang berburu obyek foto. Mereka juga berencana akan ke stasiun Sasaksaat dan terowongan KA Sasaksaat.

[caption id="attachment_247643" align="alignnone" width="390" caption="Foto 2 Bertemu dg pesepeda dari Bandung & Komunitas Fotografi dari Jakarta"]

1370668774528317412
1370668774528317412
[/caption] Setelah beristirahat sejenak, kami bertiga memulai perjalanan. Kami naik ke rel KA yang berada di atas jalan raya, mungkin sekitar 6 meter. Begitu tiba di atasnya penulis memotret rel KA yang melintas di atas jalan raya.

[caption id="attachment_247644" align="alignnone" width="400" caption="Foto 3 Rel KA melintas di atas jalan raya"]

1370668825738064420
1370668825738064420
[/caption] Menyusuri rel KA sekitar 500 meter, sampailah kami di stasiun Sasaksaat. Bagunan stasiun yang sudah lama tampak terawat rapih. Mungkin karena bukan stasiun yang banyak disinggahi penumpang maka perawatan kebersihannya menjadi lebih mudah. Suasana segar dan bersih sungguh menyenangkan bagi penulis—dan buat penduduk ibukota juga sebenarnya. Sesampainya di kantor Kepalas Stasiun, kami berbincang sebentar dengan pak pimpinan stasiun yang sedang bertugas, pak Eman. Kepadanya kami minta izin memasuki terowongan dan minta bantuan pendampingan petugas. Dijawab bahwa kami diizinkan dan petugas yang akan menemami kami adalah pak Aang yang sehari-hari adalah petugas terowongan Sasaksaat.

[caption id="attachment_247645" align="alignnone" width="300" caption="Foto 4 Stasiun KA Sasaksaat dg elevasi 540 m DPL"]

1370668858653785284
1370668858653785284
[/caption] Dari stasiun, kami bertiga menyusuri rel KA menuju terowongan. Jaraknya sudah tidak jauh lagi. Begitu tiba, pak Aang sedang standby di bangunan kantornya yang mirip pos keamanan. Bangunan kecil yang bersih dan rapih. Kami mengenalkan diri kepada pak Aang.

Di mulut terowongan, kami satu persatu berfoto. Buat kenang-kenangan, begitulah seperti kata orang. Terowongan ini dibuat tahun 1902-1903.

[caption id="attachment_247646" align="alignnone" width="580" caption="Foto 5 Terowongan Sasaksaat dibangun 1902-1903"]

13706689051337375482
13706689051337375482
[/caption] Memasuki terowongan, hanya terang di beberapa meter saja. Begitu masuk ke dalam, tak ada sinar apa pun yang menerangi jalan kami kecuali lampu senter. Dari kami berempat, hanya dua yang membawa senter. Karena tak membawa senter, maka penulis pun mengintili teman yang membawa.

[caption id="attachment_247647" align="alignnone" width="250" caption="Foto 6 Baru masuk terowongan"]

1370668942189847490
1370668942189847490
[/caption] Semakin mendekat ke ujung terowongan, penulis membuat foto dengan ujung terowongan yang bersinar itu sebagai obyeknya. Tiap maju sekitar 10 meter berhenti untuk memotret;  maju 10 meter lagi berhenti untuk memotret; teruus begitu. Sampai teman-teman telah semakin jauh ke depan. Penulis berani berjalan sendirian karena samar-samar sudah terlihat jalan di depan.

Tiba-tiba, sekitar 100an meter menjelang ujung terowongan, terdengar suara klakson lokomotif yang keras dari arah depan. Cuma satu dua detik lantas muncul sosoknya yang garang dengan sinar lampunya yang menyilaukan. Pak Aang cepat mengomando kami semua untuk berlindung ke lubang di dinding. Teman yang paling depan masuk ke lubang terdekat dia di sisi kiri. Pak Aang dan teman satu lagi masuk ke lubang di sisi kanan. Penulis yang tertinggal teman-teman segera mencari lubang di sisi kiri. Pak Aang membantu menerangi lubang dimaksud. Segera penulis masuk. Lubang itu mempunyai tinggi sekitar 2,25 – 2,5 meter, lebar sekitar 1,5 meter dan ketebalan/kedalaman sekitar 75 cm. Penulis tidak mengukur, tetapi itu berdasarkan ingatan mengatakan sekitar itulah ukurannya.

“Wus wus wus” terdengar suara angin kencang dari KA yang melintas cepat di depan mata. Anginya benar-benar kencang menerpa wajah dan tubuh penulis. Sempat khawatir juga. Suara KA begitu bergemuruh. “Seru, seru sekali nih pengalaman” penulis membatin senang.

Setelah KA berlalu, penulis segera keluar dari lubang perlindungan untuk segera memotret KA dari belakang. Karena kurang cahaya, dan modalnya cuma kamera HP, maka yang didapat hanya dua titik sinar merah. Itulah lampu belakang KA. Selebihnya hitam, karena memang terowongan itu gelap gulita.

[caption id="attachment_247648" align="alignnone" width="560" caption="Foto 7 Terlihat lubang perlindungan di sisi kiri"]

13706689851466055769
13706689851466055769
[/caption] Angin kencang akibat bawaan dari KA masih terus mengalir. Sejuk karena udara dari bukit sekitar dan tanah tempat terowongan ini berada tingginya 500an meter di atas permukaan laut. Terasa enak tubuh diterpa angin kencang yang dingin-sejuk.

Setibanya di luar terowongan, penulis membuat foto mulut terowongan dari sisi yang satu lagi. Kami berpisah dengan pak Aang. Sambil mengucapkan terima kasih kami menjabat tangannya. Tak lupa kami menyisipkan selembar uang sebagai tambahan ungkapan terima kasih kami.

[caption id="attachment_247649" align="alignnone" width="600" caption="Foto 8 Mulut terowongan dari sisi satu lagi (dari arah Stasiun Maswati)"]

13706690252104710562
13706690252104710562
[/caption] Perjalanan pun dilanjutkan menuju stasiun Maswati yang berjarak sekitar 4 km. Menelusuri rel KA yang menyeberang meliwati jembatan yang jarak antar balok yang satu dengan balok yang lain bisa 40 – 50 cm.Cukup untuk meloloskan tubuh manusia yang tidak waspada dan bisa jatuh ke jurang atau jalan raya.

[caption id="attachment_247650" align="alignnone" width="400" caption="Foto 9 Jarak balok rel KA antara 40-50 cm"]

1370669066967112647
1370669066967112647
[/caption] Teman yang paling senior menceritakan adanya batang besi yang hanya ada di satu sisi, bisa sisi kiri atau sisi kanan (foto 10). Maksudnya adalah untuk menahan roda KA jika berbelok. Besi penahan yang ada di kiri dimaksudkan untuk menahan KA agar tidak menjadi lebih miring saat belok ke kiri. Demikian sebaliknya.

[caption id="attachment_247651" align="alignnone" width="400" caption="Foto 10 Rel KA dengan penahan kemiringan gerbong"]

1370669102799189797
1370669102799189797
[/caption] Perawatan, misalnya pengecatan, kami temui terjadi di salah satu jembatan yang kami lalui. Di jembatan itu penulis memotret seorang teman yang kebetulan berada di dekat dua orang yang sedang mengecat (foto 11).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x