Mohon tunggu...
Hendriko Handana
Hendriko Handana Mohon Tunggu... Freelancer - Orang biasa, menulis suka-suka

Pria berdarah Minang. Seorang family man humble. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga lari. "Tajamkan mata batin dengan mengasah goresan pena"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Papua, Adik Bungsu Nusantara

21 Agustus 2019   11:29 Diperbarui: 21 Agustus 2019   21:19 40
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: 21 Agustus 2019, Bandara DEO Sorong dengan kaca masih menganga akibat penyerangan dan kerusuhan tempo hari.

PAPUA, ADIK BUNGSU NUSANTARA

Oleh: Hendriko Handana

Flare yang diluncurkan pesawat Belanda di Laut Aru membuat gelap seketika terang benderang. Tiga Kapal Republik Indonesia (KRI) dibuat kocar-kacir. KRI Macan Tutul, KRI Harimau, dan KRI Macan Kumbang malam itu sedang melancarkan misi infiltrasi. Tanpa senjata lengkap, mereka berhadapan dengan kapal belanda berukuran lebih besar.

"Balik kanan", perintah Komodor Yos Sudarso, pemimpin armada Indonesia yang berada di KRI Matjan Tutul agar meminimalkan bahaya.

Seketika ketiga kapal putar haluan. Namun malang, KRI Macan Tutul mengalami macet mesin. Belanda mengira itu manuver tempur. KRI Macan Tutul ditembaki, hancur, dan tenggelam. Komodor Yos Sudarso ikut tewas dalam pertempuran.

"Kobarkan semangat pertempuran!", teriak suara Komodor Yos Sudarso terdengar lewat radio pada dua KRI yang berhasil lolos dalam pertempuran. Lantas, naas komunikasi dengan KRI Macan Tutul hilang.

Kisah tersebut hanya secuil ceritera heroik semasa republik berjibaku merebut West New Guinea alias Irian Barat, satu dari wilayah nusantara yang masih tersisa, kekeuh dikuasai penjajah Belanda.

Masih banyak caritera tak kalah heroik lainnya. Memang, kisah perjuangan itu terkadang hilang ditelan zaman. Dilupakan seiring dihapusnya pelajaran PSPB dari kurikulum SD. Jangan-jangan dulu, Kau enggan baca? Aku tidak, bahkan kubaca detail semua. Tapi, sudah lupa pulak.

Tiga Komando Rakyat (Trikora) yang digaungkan oleh Panglima Tertinggi Angkatan Perang Indonesia Presiden Soekarno pada 1962, erat hubungan dengan mangkirnya Belanda dari penjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949. Penyerahan Irian Barat dalam masa setahun pasca KMB tak kunjung dilakukan. Diplomasi belasan tahun tak membuahkan hasil. Angkat senjata tak terbendung jadi pilihan.

Kamu pikir, takutkah Indonesia? Sama sekali tidak. Justru nasionalisme rakyat Indonesia sedang berada pada puncaknya. Belanda jadi musuh bersama memantik nasionalisme bangsa nusantara membela saudara bungsu mereka etnis melanesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun