Mohon tunggu...
A. L Shinta L.
A. L Shinta L. Mohon Tunggu... Freelancer - Beautician, Writer

AAA., BBM., M.A., CCLS., CTRS., CCHS.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Mengapa Papua Istimewa?

14 April 2024   21:39 Diperbarui: 30 April 2024   19:15 159
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Goa Jepang Biak Papua/dokpri

Keindahan Papua tentu bukan lagi menjadi sebuah rahasia, keindahannya di beberapa tempat bahkan sudah terdengar hingga mancanegara. Namun mengapa kita masih menjadi daerah tertinggal. 

Di sini, sudah menjadi hal umum jika jumlah penerbangan di daerah tertentu sangatlah terbatas dan meskipun harga tiketnya sangatlah mahal seringkali dibatalkan sepihak dengan berbagai macam pertimbangan, sudah menjadi hal biasa bahan baku, kebutuhan pangan ataupun bahan bakar naik dan turun sesuka hati lalu tiba-tiba menjadi sangat langka alias sulit didapat (punya uang pun tidak bisa dibeli). 

Sudah menjadi hal biasa minimal seminggu dua kali listrik padam kemudian dapat berhari-hari padamnya, air tidak mengalir, signal mengalami gangguan, sehingga jangankan untuk buka internet, digunakan untuk signal telepon dan SMS biasa saja seringkali 'ngadat'. 

Menjadi hal lumrah pula jika tiba-tiba di tengah operasi di RS atau di tengah-tengah ibadah dan saat pembelajaran di sekolah tiba-tiba listrik padam. Masyarakatnya masih banyak yang tertinggal dari segi pendidikan, pekerjaan dan mayoritas penduduk aslinya sampai sekarang bergantung pada dana bantuan otsus (otonomi khusus) dan dana bansos-bansos (bantuan sosial) lainnya. Ini sudah terjadi puluhan tahun lamanya, dari semenjak Indonesia merdeka, pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Papua masih saja tertinggal. Apa yang salah?

Disini ada filosofi yang mengatakan "Kitong pu tanah dari emas." Kementerian Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, Papua memiliki tambang terbesar di Indonesia mencapai 229.893,75 ha. Tambang emas tersebut tersebar di enam kabupaten, yakni Pegunungan Bintang, Keerom, Nabire, Dogiyai, Mimika dan Paniai. 

Dengan jumlah ini biji emas Indonesia tersebar di tanah Papua yakni sebesar 52%. Dan bukan hanya tambang emas, Papua juga kaya dengan bahan mineral lain seperti perak, tembaga, batu bara, batu kapur, besi hingga pasir kualin. 


Batu bara, endapannya ditemukan di Distrik Paniai Barat, Siriwo dan distrik lainnya di Kabupaten Paniai. Besi, ditemukan di Puncak Cartens, jumlah cadangan besi diperkirakan sebesar 4% dari tembaga dan perak. Batu kapur, ditemukan di Distrik Paniai Timur Dalam jutaan meter persegi dan pasir kualin, terdapat di Distrik Paniai Barat. Dan bukan hanya dari kekayaan mineral, ternyata kekayaan sumber alam lainnya yaitu air tanah di Papua sangatlah menjanjikan. 

Berdasarkan hasil penelitian, Papua yang luasnya mencapai 421.981 kilometer persegi, terdapat 40 cekungan air tanah (CAT) yang menempati luas sekitar 262.870 kilometer persegi atau sekitar 62% dari total luas pulau paling timur Indonesia ini. 

Di Provinsi Papua, CAT berjumlah 23, sedangkan selebihnya berada di Provinsi Papua Barat. CAT yang berada di dalam wilayah kabupaten di Pulau Papua, terbagi menjadi CAT Warsa dan CAT Biak yang berada di Kabupaten Biak Numfor. Selanjutnya, terdapat CAT Pom, CAT Ansas, CAT Serui dan CAT Timur Samberbada di Kabupaten Yapen Waropen. 

Sementara itu, di Kabupaten Nabire diidentifikasi terdapat CAT Nabire, CAT Legare dan CAT Ulawa. Sedangkan di Kabupaten Jayapura, ada CAT Hulu Sungai Senggi dan CAT Timur Arso. 

Adapun di Kabupaten Jayawijaya teridentifikasi lima CAT, yakni CAT Wamena, Lereh-Leweh, Utara Bime, Mandala dan CAT Nalco-Bime. Berikutnya, ada pula CAT yang terlampar di lintas batas kabupetan, yaitu CAT Parekebo, Warem-Demta, Taritatu dan Enarotali. Sedangkan CAT yang berada di lintas Provinsi Papua - Papua Barat adalah CAT Agamanan. Bahkan ada beberapa mata air yang bisa diminum langsung dari sumbernya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun