Mohon tunggu...
Hendra Lim
Hendra Lim Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, Trainer, dan Penyunting

Pembelajar di jalan kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Vegetarian, Praktik Welas Asih Warisan Sukong Jinarakkhita

26 Agustus 2022   18:25 Diperbarui: 26 Agustus 2022   18:30 419
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Vegetarian, Praktik Welas Asih Warisan Sukong Jinarakkhita

Oleh: Hendra Lim

"Berapa paket yang vege dan nonvege?" Pertanyaan tersebut adalah salah satu pembahasan saat pertemuan persiapan panitia Mukernas MBI, yang baru selesai minggu lalu. Bukan sebuah pertanyaan yang biasa saja bila ditanyakan di luar organisasi MBI, tetapi menjadi miris dan memprihatinkan ketika itu diajukan pada persiapan kegiatan organisasi MBI yang selalu mengatakan "menjaga warisan Sukong".  Untungnya, panitia memutuskan semua makanan adalah vegetarian.  Dukungan kepada vegetarian sebagai salah satu praktik welas asih adalah final di MBI. Ada beberapa dasar pemikiran yang penting untuk dipahami para pengurus MBI (termasuk Banom dan Yabuddhi).  

 Salah seorang peserta profilisasi pandita menjelaskan tentang praktik vegetarian. Di akhir kegiatan, anggota sangha yang hadir memberikan sambutan dan menjelaskan tentang hati-hati mengajarkan pandangan salah bila membahas tentang vegetarian. Menarik, sekaligus memicu nalar. Bila mengajarkan dan mengajak umat untuk mempraktikkan vegetarian berpotensi mengajarkan pandangan salah, maka Sukong Jinarakkhita punya pandangan salah. Untungnya, sekarang Sagin mengeluarkan himbauan kepada umat untuk berpraktik vegetarian dan melaksanakan Atthasila setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan. Ini himbauan yang baik sekaligus menandakan dukungan Sagin kepada praktik vegetarian.

Wihara Ekayana Grha (sekarang Wihara Ekayana Arama) pernah mengeluarkan kartu umat. Salah satu manfaat kartu tersebut bagi pemiliknya adalah mendapatkan diskon di beberapa tempat yang bekerja sama, serupa dengan KTUB sekarang.  Yang mengejutkan, salah satu tempat yang memberikan diskon 10 persen adalah sebuah rumah makan seafood yang terletak tidak jauh dari wihara. Mahasthavira Arya Maitri kemudian meminta agar kerja sama tersebut dicabut. Keputusan Bhante sangat tepat dan sesuai dengan ajaran Buddha tentang tidak mendukung pembunuhan (Dhammika Sutta/Sn 2.14). Praktik sila pertama juga sesungguhnya tidak hanya sampai pada 'melakukan pembunuhan secara langsung' melainkan hingga meletakkan senjata untuk menyakiti makhluk lain, cermat, penuh belas kasih, gemetar dengan belas kasih untuk semua makhluk (Sujato, 2022).

 

Mengapa kegiatan KBI menyediakan makanan vegetarian, baik di wihara maupun di luar wihara. Kebijakan, praktik, dan budaya ini adalah untuk melindungi panitia, khususnya seksi konsumsi dari melakukan karma buruk yang besar. Kehendak, para biksu, itulah yang disebut karma (Nibbedhikasutta/AN 6.63).  Kehendak menyediakan makanan berdaging berarti panitia memutuskan untuk memesan makanan yang membutuhkan pembunuhan hewan. Ada argumen bahwa selama tidak melihat, mendengar, dan curiga maka tidak ada karma. Tetapi, fakta bahwa hewan dibunuh untuk diambil dagingnya sebagai konsumsi peserta dan panitia juga tidak boleh diabaikan. Panitia dan peserta Mukernas MBI, Rakernas WBI, dan Munas Yabuddhi berkisar antara 300 - 400 orang. Pihak restoran pasti memesan daging untuk disimpan dan diolah untuk konsumsi. Restoran memesan atas keputusan panitia. Ini berarti pembunuhan hewan-hewan tersebut adalah akibat dari kehendak panitia. Kondisi ini sama dengan pergi ke rumah makan seafood dan memesan live seafood. Siapa yang melakukan pembunuhan, pembeli yang memesan atau koki yang memasak? Penyediaan makanan vegetarian di setiap kegiatan KBI, baik di wihara maupun di luar wihara, melindungi panitia dari melakukan karma buruk berat dari pembunuhan hewan-hewan yang jumlahnya tak terhitung. 

  Argumen di atas tentang potensi panitia melakukan karma buruk masih terbuka untuk diperdebatkan. Tetapi, menyediakan daging di kegiatan Buddhis bukan hanya tentang masalah karma. Unsur etika juga perlu dipertimbangkan. Ajhan Sujato menjelaskan hubungan karma dan etika terkait praktik vegetarian. Beliau mengemukakan:

Ini bukan hanya etika tentang boleh atau tidak boleh. Ini bukan hanya menetapkan standar minimum. Ini menyentuh rasa kemanusiaan kita, menggugah kita untuk beraspirasi untuk mewujudkan belas kasih yang lebih tinggi, sebuah etika untuk menginginkan kesejahteraan bagi semua makhluk. Daripada sekadar bertanya, 'apakah tindakan ini berasal dari niat menyakiti", tanyakan ke diri sendiri, "Apakah tindakan ini adalah yang terbaik yang saya dapat lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan semua makhluk?" Daripada sekadar melarikan diri dari karma buruk, kita menciptakan karma baik." (Sujato, 2022, pp. :14-15)

 

 Vegetarian adalah salah satu warisan nilai mulia untuk praktik welas asih dari Maha Biksu Ashin Jinarakkhita. Sukong, demikian sering kita sebut, mewariskan sebuah praktik yang membedakan wajah agama Buddha di Indonesia dengan negara lain. Semua wihara tempat Sukong selalu singgah dan tinggal mempraktikkan vegetarian. Sakyamuni di Banda Aceh, Borobudur di Medan, Dharmakirti di Palembang, Sakyamuni di Jambi, Bodhisattva di Lampung, Vimala Dharma di Bandung, Buddhayana di Surabaya, dan wihara-wihara lain yang tidak dapat ditulis semua di sini. Selain wihara lama, beberapa wihara baru juga menerapkan praktik itu seperti Pusdiklat Buddhayana Sriwijaya di Palembang, BDC di Surabaya, Kesejahteraan di Jakarta, Wihara Ekayana Arama/Serpong, dan lain-lain. Selain di KBI, beberapa wihara di luar KBI juga berpraktik vegetarian. Sukong memberikan teladan yang tetap dirawat dan diteruskan karena vegetarian adalah salah satu praktik welas asih yang baik. 'Menjaga warisan Sukong' sungguh-sungguh dilakukan oleh para pengurus wihara yang masih menjaga kelestarian praktik vegetarian di wihara mereka, bahkan sampai ada yang harus memasang spanduk besar dan menempel pengumuman di mana-mana untuk menghimbau umat untuk tidak membawa makanan berdaging ke wihara. Sesuatu yang tidak perlu dilakukan dulu semasa Sukong masih hidup. Seyogianya, para pengurus organisasi KBI melakukan hal yang sama seperti para pengurus wihara tersebut agar "menjaga warisan Sukong" tidak menjadi sekadar kata-kata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun