Mohon tunggu...
hendra setiawan
hendra setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Pembelajar Kehidupan. Penyuka Keindahan (Alam dan Ciptaan).

Merekam keindahan untuk kenangan. Menuliskan harapan buat warisan. Membingkai peristiwa untuk menemukan makna. VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Perempuan Penjual Kopi

28 April 2021   15:30 Diperbarui: 28 April 2021   15:28 405
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Perempuan Penjual Kopi

 

Siapakah kau, kulihat sedang menenteng tas
Sambil menggenggam botol berisi kopi
Ya, kau ternyata penjual kopi kekinian
Kopi dalam botol yang ada mereknya

Kau, pekerjaanmu bak seorang SPG
Aktif berjalan kian kemari menawarkan dagangan
Kepada siapa saja yang kauanggap mau membelinya
"Lima ribu saja!" katamu

Ah, tapi sejenak aku jadi merasa risih
Saat kau mendatangi sekumpulan lelaki
Sepertinya mereka pelangganmu
Kau terlihat tak canggung sama sekali saat berhadapan

Ah, entah apa yang ada di pikiranku
Maafkanlah aku
Semoga aku salah menilai
Keakraban dan kegampanganmu dalam menjual produk

Kaum perempuan, profesimu seperti ini
Memang rawan untuk dinilai secara tidak baik
Stereotype mengajarkan salah terhadap kalian
Tubuhmu adalah nilai jualmu, bukan karena isi kepala yang cerdas

Kalian tidak bisa melawan pemilik kuasa
Untuk memberikan pilihan yang tak dapat ditolak
"Aku keberatan melakukannya."
Sanggahanmu tak berarti, pelamar berikutnya masih banyak yang menanti

Sesungguhnya, di antara kalian jelas merasa risih
Berpakaian tidak sekehendak hati
Terpaksa, hingga lama-lama jadi terbiasa
Sedih, tapi harus dijalani

Tunggu saatnya hingga suatu saat
Kau dapat tawaran yang lebih baik dari saat ini
Barulah kauputuskan untuk mengakhiri kegelisahanmu
Entah kapan tapi itu terjadi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun