eRHa
eRHa Serabutan

"VINE"

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Tanah Sewaan

8 Januari 2018   19:55 Diperbarui: 11 Januari 2018   19:20 1179 7 1
Cerpen | Tanah Sewaan
Pixabay.com

Matahari belum lagi meninggi, cahayanya kira-kira masih sejajar atap rumah Pak Osman, atap itu terbuat dari ilalang, warnanya yang kecokelatan masih lembab disebabkan beningnya embun-embun masih menempel di sana. Bau tanah basah memenuhi penciuman, pekarangan rumah yang tak seberapa luasnya itu tampak menyisakan genangan-genangan kecil disana sini, hujan memang cukup rutin jatuh di malam hari. 

Pak Osman bergegas menghabiskan kopi pahit dan bersiap ke lokasi perkebunan, dirinya seperti berebut waktu, menantang matahari, sebelum sinarnya tepat mengenai puncak cemara yang berdiri tegak di samping rumahnya. Hari ini, ia berencana menyemai seluruh bibit cabe rawit, sembari berharap, jika masa panen tiba, harganya cukup untuk menutupi seluruh ongkos perawatan selama tiga bulan kedepan, melunasi sewa lahan dan memenuhi keperluan hidup lainnya. 

Lahan perkebunan yang hanya seluas setengah hektar itu, di sewa Pak Osman dari kepala desa yang kerap di sapa Bos Bian yang katanya ditugasi mengelola atau menyewakan tanah Hak Guna Usaha kepada petani setempat, entah siapa pemilik sesungguhnya dari tanah itu, Pak Osman tak tahu. 

Harga sewa yang relatif tinggi kadang-kadang menjadi keluhan tersendiri bagi para petani, termasuk Pak Osman, tetapi seraya berdalih meringankan beban mereka Bos Bian membolehkan harga sewa itu dicicil selama dua kali masa panen. 

Pak Osman menelusuri jalan setapak yang menyambungkan lokasi perkebunannya dengan jalan raya utama, langkahnya gontai, sesekali ditingkahi siulan pelan yang menghasilkan irama tak jelas. Rerumputan dan semak berkilau ditimpa matahari hari pagi, beberapa petani yang lahannya bersebelahan dengan Pak Osman, menyusulnya dengan senyum dan sapaan sederhana. 

Hamparan kebun-kebun itu menyejukan penglihatan, sayuran yang berbaris rapi dan menghijau sungguh sedap bila ditatap dari kejauhan. Gundukan-gundukan tanah yang siap ditaburi bibit-bibit, tampak seperti bukit-bukit mungil yang memanjang, disekelilingnya, mata para petani termanjakan oleh kokohnya gunung-gunung dan lebatnya hutan-hutan yang meniupkan kesejukan tak terkira bagi mereka. 

Di bawah paparan mentari, kebun-kebun itu seperti sebuah janji kebahagiaan bagi Pak Osman, harapan bagi anaknya yang hendak lanjut sekolah menengah tahun ini dan janji bagi istrinya kelak cincin kawin mereka yang tersimpan di rumah gadai dapat ditebus kembali.

Harapan dan kebahagiaan itu tumbuh dari perenungan dan pengamatannya pada bintang-bintang yang timbul di langit malam, Pak Osman meramal, tahun ini cuaca akan baik sekali, alam akan menumbuhkan benih-benih suci, tanah-tanah akan menyuburkan hingga masa panen melimpah. 

Pak Osman tersenyum kecil, ia menggaungkan rasa optimisnya sembari membayangkan ranumnya cabe rawit jika masa panen tiba.

Senyum Pak Osman terhapus perlahan dari wajahnya yang mulai menua, langkahnya tertahan, ia berdiri tegak di depan lokasi perkebunan miliknya dan beberapa petani lainnya. Bibirnya sedikit menganga. Pak Osman serasa bermimpi. Ia merasa tercerabut dari kenyataan yang ia hadapi setiap hari. Matanya berkedip cepat, berharap dengan begitu, segala yang terhampar di depannya segera berlalu dan berganti dengan apa yang selalu ditemuinya di sini, di lokasi perkebunan ini. 

Namun, situasi itu tetap sama, Pak Osman tak lagi melihat gundukan tanah yang ia buat dengan susah payah agar nanti bibit cabe rawit dapat tumbuh dengan sempurna, di sebelahnya sayuran yang seharusnya menghijau tua, sirna entah kemana. Pak Osman menebar pandang seluas lahan sewaan itu, ia tidak sendirian, lahan sewaan petani lainnya juga demikian, tanah-tanahnya telah diratakan sedemikian rupa. Pepohonan, rumput dan semak di sekitarnya juga sengaja dibersihkan. 

Ada apa gerangan? Pak Osman membatin. Siapa yang melakukan semua ini? Pak Osman melepas caping lusuh yang melindungi kepalanya dari terik matahari jika siang telah memuncak. Ia melepas caping itu di tanah. Lututnya seketika lemas, ia sadar telah kehilangan seluruh isi perkebunannya, ia kehilangan harapan. Sebatas pandangan, lokasi perkebunan itu berubah seperti tanah lapang tanpa rumput, sepertinya sebuah peralatan modern telah menjadikannya seperti itu. 

Pak Osman masih berdiri bimbang, ketika lututnya kian tak sanggup menahan seluruh berat tubuh dan pikirannya yang terus memburu, seluruh beban tertumpu jadi satu, dengan apa ia harus membayar sisa sewa, sementara ia mesti melunasi hutang pupuk tahun lalu, mungkin anaknya bisa menunda lanjut sekolah, tapi cincin kawin istrinya akan dilelang jika bunga cicilan tak segera dibayar, catatan piutang harian di warung kian menumpuk, di rumah segala yang dianggap berharga telah berganti rupiah, akal Pak Osman menemui buntu, perlahan tubuhnya yang renta dan lemah jatuh tanpa daya, di sudut matanya setetes linangan menggenang, menjadi simbol penderitaan dan kesakitan batin dan pikirannya atas kenyataan dan nasib yang tak kuasa berpihak pada hidupnya. 

Pak Osman mendapati tubuhnya terbaring lesu di atas bale bambu, di sampingnya sang istri, Bu Osman dengan telaten menempelkan kain basah di dahinya. Suhu tubuhnya meninggi, Pak Osman menyadari dirinya pingsan tadi pagi. 

"Sakitmu kambuh lagi Pak, apa pula yang merisaukan pikiranmu?" Bu Osman bertanya sambil mengeringkan tangannya dengan lap yang tersampir di bahu kirinya. 

"Kamu pingsan Pak, untung saja tetangga kita berbaik hati mengantarmu pulang, ada apa?" Bu Osman menambahkan. 

Sementara pikiran Pak Osman kembali tertuju ke perkebunan ke ratusan bibit cabe rawit yang tak sempat ditanam, ia tak sanggup menceritakan apa yang dilihatnya kepada istrinya. Meski ia sendiri belum mengetahui penyebab kekacauan itu, namun pikiran dan perasaannya terlanjur lumpuh oleh bayangan ketiadaan cara menyelesaikan seluruh hutang-hutang yang kian menghimpit hidupnya. 

Bu Osman tahu, ia tak akan mendapat jawaban. 

"Tadi pagi sesudah bapak berangkat, Bos Bian datang..." Bu Osman menunduk menahan rasa bersalah, ia tak kuasa menceritakan apa yang didengarnya, apalagi kondisi suaminya sedang tidak memungkinkan. 

Namun, ia juga tak kuat menyimpannya lama-lama, kehidupan keluarganya sedang terancam. Pak Osman menunggu dengan sabar, kabar apa yang akan disampaikan istrinya, telinga dan hatinya telah pasrah meski yang akan terdengar bisa jadi bukanlah berita gembira, seingatnya belum sedikitpun Bos Bian mengeluarkan kata-kata yang lumayan sejuk, meski hanya sebatas singgah di daun telinga, jika bukan tentang harga sewa yang naik maka ia pasti mempercepat waktu cicilan lebih dari biasanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3