Mohon tunggu...
Hastira Soekardi
Hastira Soekardi Mohon Tunggu... Administrasi - Ibu pemerhati dunia anak-anak

Pengajar, Penulis, Blogger,Peduli denagn lingkungan hidup, Suka kerajinan tangan daur ulang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kutukan

8 September 2021   02:58 Diperbarui: 8 September 2021   03:04 216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kutukan/https://intisari.grid.id

Cerita kutukan itu seperti sudah mendarah daging di bumi Indonesia. Yang terkenal sih kutukan terhadap Malin Kundang. Saat Malin Kundang durhakan pada ibunya. Dan kadang itulah yang membuat Lita takut. Kata durhaka kadang seperti bayang-bayang yang selalu membuntuti Lita kemanapun dia pergi. 

Tahu kenapa? Karena dirinya dianggap anak yang tak tahu berbakti pada orangtuanya. Kenapa? Karena dia tak bisa memberikan uang banyak pada ibunya. Ibunya selalu membanding-bandingkan teman mainnya Siti yang memberikan banyak uang pada ibunya tiap bulan, tapi dirinya? Lita harus hemat sekali agar dia bisa kirim uang ke ibunya. 

Sebagai buruh pabrik, Lita harus benar-benar menyisihkan uangnya, kadang dia harus menahan lapar, hanya karena dia gak mau dianggap durhakan sama ibunya.

Lita kini jarang pulang kampung. Lita gak sanggup saat ibunya menanyakan dia membawa apa untuk dirinya. Apa Lita sudah bisa memperbaiki rumahnya seperti rumah Siti? Lita agk sanggup. Ibunya tak tahu berapa keras dia  harus hemat, dia tak bisa memberi lebih dari itu. Apakah beban ini harus dia tanggung sendirian. 

Apakah ibunya gak mengerti kalau dia hanya seorang buruh pabrik di Jakarta. Tapi lebih baik Lita menghindar. Pertama kali ke Jakarta , Lita juga datang ke Siti untuk meminta pekerjaan. 

Tapi setelah tahu kalau pekerjaan Siti seperti itu, menghibur laki-laki, dirinya tak mau. Lita terdampar jadi buruh yang gajinya juga tak seberapa. Belum bayar kosan, makan , transpor ke pabrik. Lisa hanya berharap ibunya bisa mengerti.

Sampai suatu saat Lita meneirma telepon dari ibunya. Ibunya minta dibelikan motor untuk adiknya ke sekolah.

            "Bu, motor itu mahal, kan, Sapto bisa naik kendaraan umum seperti aku,"jelas Lita.

            "Kan, kamu sudah kerja, masa gak mau bantu-bantu adikmu biar seperti teman lainnya naik motor,"tukas ibunya mendesak.

            "Iya, nanti Lita pikirkan dulu cara dapatkannya bagaimana."

"Jangan lama-lama berpikirnya." Ibunya mendesak terus dan keluar kata-kata yang membuat dirinya terhempas sampai sudut yang membuat dirinya sedih. Kalau dirinya tak bisa membantu ibunya, dirinya adalah anak durhaka.

 "Lebih baik kamu mati saja, kalau hidupmu tak bisa berguna buat ibumu,"tukas ibunya mengancam. Apa-apaan ibunya pakai ancaman segala. Lita mulai takut kutukan ibunya bakal terwujud kalau dia tak bisa memenuhi keinginan ibunya. Lita mulai cari ke dealer-dealer motor. Melihat harga motor baru atau yang bekas. 

Tetap saja dia gak mampu membelinya. Kalau dia membeli motor dengan cicilan. Kebayang dia harus membayar cicilan, mengirim uang ke kampung dan untuk hidupnya sendiri. Lita mulai pusing memikirkan dirinya. Semua dealer sudah didatangi dan memang rata-rata harga motor memang segitu. Apa meamng dia harus mati karena dia tak berguna buat ibunya?

Kata-kata ibunya terngiang-ngiang selalu di telinganya. Dia mulai berpikir kalau dirinya memang tak berguna. Terus saja dia memikrikan kutukan ibunya. Dan Lita mulai halu. 

Dia selalu merasa dirinya tak berguna. Sampai akhirnya dia tanpa sadar meminum racun . Lita terkapar di kosannya. Mulutnya keluar busa. Kutukan ibunya terwujud. Biarlah dia akan selalu menjadi anak durhaka karena tak bisa memenuhi keinginan ibunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun