Mohon tunggu...
H.Asrul Hoesein
H.Asrul Hoesein Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang Sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Jakarta http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Founder PKPS di Indonesia | Founder Firma AH dan Partner | Jakarta | Pendiri Yayasan Kelola Sampah Indonesia - YAKSINDO | Surabaya. http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Nonsen Elektabilitas Capres 2024 di Era Elitabilitas

29 Agustus 2022   22:03 Diperbarui: 29 Agustus 2022   22:06 505
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: SindoNews

Beberapa artikel saya sebelumnya sudah ingatkan para kandidat dan parpol, agar sudahi pencitraan yang berlebihan dimasa kuasanya elitabilitas. Dekati saja tokoh yang berpengaruh, pemilik Parpol.

Seperti Prabowo, walau misalnya elektabilitasnya rendah. Yaaa masa bodoh, mereka punya partai, begitu juga PDI-P.

Itulah maksud sebagian kalangan menggugat kebijakan presidential threshold 20 persen, agar bebas majukan Capres dan Cawapres (khusus untuk masalah ini, akan saya bahas tersendiri, tunggu).

Jadi politik kita di Indonesia, belum mengenal dan menerima elektabilitas pada tahap kandidasi secara murni. Karena berpikirnya, rakyat mudah didekati. Ada sarung, kopiah, batik, kaos dan sedikit ada fulus, yaaaa selesai.

Semua jenjang pemilihan langsung atau pemilihan kepala daerah (pilkada), mulai bupati, walikota, Gubernur sampai kepada Pilpres. Begitulah kondisi di Indonesia.

Ada fulus, pintar dan menurut apa kata paduka (investor), elektabilitas nomor sekian. Tidak susah di stel nantinya di masyarakat.

Baca juga: Mengulik Kontradiktif Keinginan PDI-P dan NasDem di Pilpres 2024

Meruntuhkan Wibawa Jokowi

Relawan Jokowi, kalau mau berpolitik cerdas, substansi acaranya bukan "Penjaring capres-cawapres",  tapi tema besarnya diganti menjadi "Temu Akbar Relawan Jokowi" untuk melakukan evaluasi Program Nawacita Jokowi.

Itu kemasan besarnya, entah mau bahas apa saja dalam pertemuan tersebut, ya silakan. Nah itu baru strategi gerilya, untuk memancing harimau turun gunung.

Karena adanya Musra dengan tema penjaringan capres-cawapres sebenarnya meruntuhkan wibawa Jokowi. Apakah Presiden Jokowi sadar???

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun