Mohon tunggu...
Wellsy Bakarbessy
Wellsy Bakarbessy Mohon Tunggu... Relawan - Jurnalis Warga

Jurnalis Warga, Relawan 📧 wellsybakarbessy@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Remaja Gereja Tumbuhkan Daya Juang dari Penerima Beasiswa Jepang

25 September 2022   07:51 Diperbarui: 25 September 2022   08:08 317
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ambon- Daya juang sangat penting untuk dimiliki remaja dan anak muda. Hal ini disampaikan oleh sosok inspiratif, Denise Sahulata dalam kegiatan Sharing Session bertema "Studi ke Negeri Matahari Terbit, Tumbuhkan Semangat Daya Juang," yang diadakan oleh Remaja Sektor Zaitun, Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Soya (24/09).

Sahulata merupakan penerima beasiswa studi ke Jepang dari Pemkot Ambon. Kini mengabdi di Badan Bencana Kota Ambon sesuai dengan ilmu yang ia pelajari di Hiroshima University. 

Dalam penyelesaian studinya, ia memperoleh penghargaan Lulusan IPK terbaik (cum laude) dan Pemenang Okomoto Award yaitu penulisan skripsi terbaik tahun 2022.

Wanita yang bernama lengkap Denise Weldy Hellen Sahulata ini, menjelaskan tantangan yang dialaminya. Di Jepang, ia harus belajar bahasa mulai dari nol. 

Arubaito (pekerjaan sampingan) yang ia lakukan yaitu mengupas wortel, lalu bekerja di mini market, dan pada akhirnya mengajarkan anak-anak Jepang untuk berbahasa inggris seiring dengan meningkatnya kefasihannya dalam berbahasa. Semua ini ia lakukan sambil menyelesaikan studinya.

"Mungkin adik-adik lihat wah kakak denise luarbiasa, bisa kuliah di Jepang dan akhirnya lulus dengan nilai yang baik. Tapi tidak semudah itu. Awalnya kakak tidak bisa berbahasa jepang. Untuk itu kakak berdoa dan terus belajar," tegasnya.

Di masa akhir studinya, wanita kelahiran 1997 ini mengalami kedukaan yaitu meninggalnya sang ayah. Saat karantina Covid-19, ia tidak dapat kembali ke Indonesia karena lockdown. 

Tidak hanya itu, dosen pembimbingnya juga meninggal dunia dua bulan kemudian. Situasi ini ia gambarkan seperti jatuh dan terpeleset.

"Itu merupakan titik dimana kakak denise bingung dan tidak tahu untuk berbuat apa di negeri orang. Tapi kakak sangat bersyukur bahwa ada gereja disana. Dalam Bible English Study, kakak selalu melakukan studi alkitab bersama. Hal tersebut membuat kakak lebih sabar dan tidak hilang arah," jelasnya.

Dokpri
Dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun