Mohon tunggu...
Harry Ramdhani
Harry Ramdhani Mohon Tunggu... Teknisi - Immaterial Worker

sedang berusaha agar namanya di (((kata pengantar))) skripsi orang lain. | think globally act comedy | @_HarRam

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kenapa Pedagang Kakinya (Bisa) Lima?

24 Agustus 2019   02:10 Diperbarui: 24 Agustus 2019   12:36 687
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ceritanya ini demi trotoar dan demu yang beterbangan. :(((

Dari warung kopi yang sekaligus dijadikan rumah yang lokasinya ada di gang pasar, warung kopi yang sekadar warung sebelah masjid, sampai warug kopi dadakan --karena hanya buka malam hingga pagi-- di trotoar jalan.

Pemilik ketiga warung kopi itu baik. Makanya jadi asyik kalau sudah nongkrong di sana. Semuanya akrab, meski kami tidak saling kenal nama. Satu-satu alasan yang menurutku masuk akal adalah urusan primodial semata: ketiga warung kopi tersebut, pemilik dan bartender --ceuilah, bartender-- bisa berbahasa sunda.

Itupun aku bisa-bisanya saja berbahasa sunda, paling sebatas saat pesan dan bayar. Tapi karena itu juga, barangkali, yang membuat kami bisa akrab.

2/
Menurutku ini menarik. Begini. Jika sedang ada pertandingan Persija Jakarta atau Persib Bandung atau kedua tim itu bertemu, warung kopi yang ada di gang pasar itu selalu dipakai untuk nobar.

Pemiliknya memang gemar betul dengan sepakbola --apalagi dengan Persib Bandung. Namun, di warung kopi itu tidak pernah sekalipun ada keributan-keributan layaknya nobar di cafe-cafe mahal. Pendukung Persija dan Persib bisa duduk bareng. Ngopi. Saling dukung dan saling cela yang berakhir dengan tawa.

Aku masih ingat. Ketika itu pertandingan Persija dengan Persib, musim lalu. Persib tandang ke Jakarta dan laga digelar di Stadion milik polisi, entah apa namanya, aku lupa.

Sampai di warung kopi itu sudah babak kedua. Di sana ramai. Aku tidak kebagian tempat. Tapi, melihatku berdiri saja, pemilik warung mempersilakan aku untuk masuk. Duduk. Tepat di tempat bartender itu membuat pesanannya di dalam.

Tadinya aku sungkan, tapi yaudah lha yha... mumpung ditawari.

3/
Kira-kira 3 tahun yang lalu. Seingatku. Sedang kedapatan masuk malam ketika itu. Sepanjang trotoar mendadak ramai pedagang yang membereskan jualannya.

Awalnya aku tidak tahu yang sebenarnya terjadi sampai aku sampai di warung kopi dadakan di trotoar itu.

"Mang, bisa bantu teu?" kata pemilik warung, bertanya padaku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun