Mohon tunggu...
Hariadhi
Hariadhi Mohon Tunggu... Desainer - Desainer

Ghostwriter, sudah membuat 5 buku berbagai Dirut BUMN dan Agency Multinasional, dua di antaranya best seller. Gaya penulisan berdialog, tak sekedar bernarasi. Traveler yang sudah mengunjungi 23 dari 34 provinsi se Indonesia. Business inquiry? WA 081808514599

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Berkunjung ke Pacitan, Kampung Halaman SBY

12 November 2019   23:42 Diperbarui: 5 Desember 2019   12:32 184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Itulah enaknya tinggal dekat laut pak, ikannya selalu dan pasti segar," Pak Nursuhud terkekeh. Ia lalu menceritakan pengalamannya dulu saat bertugas di Aceh, mengurusi berbagai daerah yang terkena tsunami.

"Ya, banyak di kita itu korbannya terjadi karena lalai, tidal mengerti. Harusnya saat air laut surut tiba-tiba, langsung melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi. Ini malah sibuk mengumpulkan ikan yang menggelepar di tepi pantai," Pal Nursuhud tersenyum simpul.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Setelah dipersilakan tidur sampai sore, saya kemudian dipersilakan makan lagi. Ramah betul Pak Nursuhud ini. Kali ini saya bisa mencicipi sambal bajak yang sudah lama saya penasaran seperti apa rasanya. 

Pertama kali saya tahu keberadaan sambal ini adalah dari karya NH Dhini. Ternyata sambal ini mengalami beberapa kali pemrosesan, yang membuatnya jadi kental dan rasanya lebih tajam nikmat, walaupun tidak lagi pedas.

"Itu padahal gampang bikinnya. Cabe, tomat, bawang, terasi kalau ada. Diulek sedikitm terus digoreng, habis itu diulek lagi. Jadi sambal bajak khas tempat saya, Banyuwangi," terang Ibu pembuatnya. Pantaslah sambal ini terasa begitu berat dan berminyak.

"Kalau masakan khas Pacitan ini ya Soto Pacitan. Nanti cari saja di sekitar alun-alun." Saran Pak Nursuhud. Saya keemudian jadi penasaran dan bertanya bedanya dengan soto lain.

"Kalau bedanya dengan soto lain ya soto ini bening, ringan rasanya. Lalu di dalamnya ada campuran kacang yang membuat gurih," Terang Pak Nursuhud.

screen-shot-2019-11-11-at-20-09-11-5dcadce7097f362df16de092.png
screen-shot-2019-11-11-at-20-09-11-5dcadce7097f362df16de092.png
Penasaran, menjelang senja saya berjalan ke arah alun-alun Pacitan. Lagi-lagi naik Grab, karena sekian jauh berjalan, saya tidak melihat ada pengemudi Gojek. 

Tampaknya memang untuk di kota-kota kecil seperti Pacitan, memang #AplikasiUntukSemua ini sedikit lebih bisa diandalkan karena #SelaluBisa. Ya sudah dengan harga hanya Rp 9.000 saya minta diantarkan ke alun-alun, masih dengan sisa OVO yang tak habis dari kemarin.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Benar saja, ada soto Pacitan tersedia di Warung Teras Alun-Alun. Harganya juga murah sekali, hanya Rp 10 ribu. Dan memang nikmat. Setelah kemarin mencoba pecel yang pedas dan kental, kini saya merasakan ringannya masakan khas Pacitan ini.

"Lagi di mana Mas?" Tanya Pak Nursuhud di telepon. Lupanya beliau mulai khawatir karena saya keluar rumah berjam-jam. "Ini ada teman mau ngajak ngobrol-ngobrol," Maka saya segera pulang dan berdiskusi dengan Mas Firman, pegiat sosial dan politik di Pacitan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun