Mohon tunggu...
Handy Pranowo
Handy Pranowo Mohon Tunggu... Lainnya - Love for All Hatred for None

Penjelajah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Adikku dan si Bubu

23 Juli 2022   23:15 Diperbarui: 23 Juli 2022   23:31 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Maka setiap mampir ke rumah ibu mesti ku lewati jalan pasar tersebut di mana pernah ku tinggalkan kucing malang itu di sana. Ku perhatikan setiap sudut dan lorong pasar. Sekali hingga dua kali ku sempatkan berkeliling di bagian pasar sebelah barat dekat stasiun kereta api.

Tak sampai seminggu pencarianku berhasil. Kucing abu-abu itu ku temukan meringkuk di sudut warung ikan tongkol langganan ibu. Ia tengah tertidur di antara tumpukkan keranjang-keranjang bambu tempat menaruh ikan. Hampir saja aku tak mengenalinya. Samar. Tubuhnya tak lagi gemuk, kurus, kotor. Hampir sebulan lamanya terbuang. 

Dari kalung yang tersemat di leher kucing itu dapat ku kenali kalau itu kucing kesayangan adikku. Kucing yang ia temukan dulu di dalam selokan di depan ruko tempatnya mengajar bahasa Jepang.

Kucing yang telah di dapuknya sebagai teman hidupnya di kala sendiri jauh dari keluarga. Tentang kembalinya si Bubu ke rumah ternyata di tanggapi dingin oleh adikku. 

Ia melihat kucingnya yang dulu lucu, gemuk kini kurus dan kotor. Hampir saja ia tak mengenalinya namun kalung pemberiannya dulu masih melingkar di leher. Kami segera memandikan Bubu dengan air hangat dan memberinya makan.

Besoknya kucing tersebut aku bawa ke dokter hewan langganan untuk di periksa kesehatannya. Matanya berair begitu pula hidungnya. Tapi hanya seminggu umur kucing itu di rumah setelah di temukannya kembali.

Kucing betina itu mati di tempatnya biasa tidur.

***********

Seperti biasa, siang menjelang zuhur aku selalu menyempatkan datang ke rumah ibu, makan siang dan sholat di sana sekalian menunggu orderan penumpang. 

Kali ini aku membawa pisang raja bulu dan puding coklat yang ku beli di toko roti. Sampainya di dalam rumah ku tanyakan kabar adikku kepada ibu katanya ia sudah mau makan banyak dan tadi pagi juga sempat mengajar online mungkin sekarang ia ada di kamar sedang tidur. 

Aku naik ke lantai dua ke kamar ibu, pintu kamar terbuka, kipas angin menyala. Ciri khas adikku yang selalu tidur dengan hembusan kipas angin. Dari dulu dan selalu begitu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun