Mohon tunggu...
Handy Pranowo
Handy Pranowo Mohon Tunggu... Lainnya - Love for All Hatred for None

Penjelajah

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Kematian Hanyalah Ilusi

22 Mei 2021   22:47 Diperbarui: 22 Mei 2021   22:55 281
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi foto pixabay.com

Detak jarum jam berlagak dungu menyapa waktu.

Gerombolan anjing menggonggong di pintu kabut.

Angin bersiul memanggil daun-daun hingga jatuh.

Keheningan rubuh ke tanah, melepas akar-akarnya menjadi keheningan baru yang sulit di terka. 

Belum lagi tersentuh, khusyuk, teduh, meski penuh luka-luka di ujung kisahnya, tetap membisu lara.

Lalu hujan datang menziarahi malam membawa doa-doa yang tersimpan di mulutnya.

Belatung-belatung menjadi kupu-kupu, burung-burung menjadi malaikat dan segenap hantu berubah menjadi aku.

Dan aku menyanyikan tembang syahdu untuk langit yang penuh cemburu.

Aku tahu Tuhan tak pernah tidur namun siapa sangka aku juga begitu, hingga mimpi-mimpiku melantur jauh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun