Mohon tunggu...
Handy Pranowo
Handy Pranowo Mohon Tunggu... Belajar Menulis

Under construction

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Belajar Menulis Puisi

7 Mei 2019   01:42 Diperbarui: 7 Mei 2019   02:11 0 12 0 Mohon Tunggu...

Aku belajar menulis puisi dari buku-buku puisi yang tergeletak sepi di lorong-lorong perpustakaan, aku belajar menulis puisi dari diary-diary penyair yang ku pinjam ketika mereka asyik mencumbui malam dengan diksi-diksi cabul dan urakan.

Aku belajar menulis puisi dari kesalahan perasaanku memahami bahasa tubuhmu ketika pertama kali ku lihat kau telanjang. Dan aku belajar menulis puisi ketika aku mabuk cinta lalu tenggelam dalam kekecewaan.

Buku puisi pertama yang ku beli ada di pasar loak dekat terminal si penjual buku seorang wanita yang katanya tidak suka dengan puisi. Dia lebih suka novel, buku sejarah dan ilmiah lalu ku katakan kenapa dengan puisi.

Dia berkata matanya berkaca-kaca dulu aku sangat mencintai seseorang, ia menulis sebuah puisi untukku dan hingga hari ini dia tak pernah datang. Berulang-ulang kali aku baca puisinya hingga aku muak dan ku lepaskan puisi itu berlayar ke lautan.

Kamu pasti mencari buku-buku puisi WS. Rendra dan Chairil Anwar kan? buku-buku puisinya banyak di cari orang katanya. Lalu ku bilang aku mau belajar menulis puisi bukan ingin belajar memberontak dengan kata-kata, aku takut di penjara. Kalau begitu bacalah buku puisi yang satu ini isinya tentang hujan, cinta dan samudera. 

Siapakah pengarangnya kataku, entahlah mungkin laki-laki yang dulu pernah menuliskan puisi untukku sambil menyodorkan sebuah buku dengan sampul depan berwarna biru setelah itu ia menyeka keringat di dahinya.

Buku puisi ini bagus untuk pemula kata-katanya tidak berat dan diksinya pun mudah di cerna. Kataku baiklah aku beli buku puisi ini setelah tawar menawar aku pun dapat harga yang sepadan dengan kisahnya yang ku dengar.

Aku pulang dan di rumah ku baca buku puisi itu dan mulailah aku belajar menulis puisi.

Handy Pranowo

7 Mei 2019

Srengseng

KONTEN MENARIK LAINNYA
x