Mohon tunggu...
Gandis Octya Prihartanti
Gandis Octya Prihartanti Mohon Tunggu... A curious human

Manusia yang sedang menumpang hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kenapa Bullying Baru Ramai Diperbincangkan Setelah Ada Pemberitaan?

12 April 2019   08:00 Diperbarui: 14 April 2019   10:49 0 7 2 Mohon Tunggu...
Kenapa Bullying Baru Ramai Diperbincangkan Setelah Ada Pemberitaan?
Tech Explorist

Tagar #JusticeforAudrey masih menjadi primadona di media sosial. Pengguna berbondong-bondong menyuarakan keadilan untuk gadis tersebut melalui berbagai cara. Ada yang dengan kata-kata halus pun kasar. Saya sangat menghargai tindakan mereka, meski sama-sama 'bersikap' tidak baik mencerminkan diri pelaku.

Tentu saya sangat bersimpati pada kasus ini. Bagaimana tidak, satu lawan dua belas tidaklah manusiawi. Belum lagi hal-hal yang didramatisir, di mana belum diketahui pasti soal kebenaran. Suasana hati saya tiba-tiba kacau, terbawa sampai besok pagi. Ternyata, saya pun kedatangan tamu bulanan. Rasa ngilu itu semakin menjadi-jadi.

Orang-orang kebanyakan menyayangkan tindakan pelaku. Tidak demikian dengan saya. Sebuah pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini lebih tertarik saya bahas (dengan diri sendiri), mengingat saya pun pernah menjadi korban bully.

Masa SD dan SMA berat untuk saya. Bentuk bully yang saya terima berbeda dan membuat saya merasa diri ini sangatlah buruk serta tidak berguna. Saya pun berubah menjadi emosional. Sayang, perilaku saya ini dipandang sebagai sebuah kesalahan oleh mereka, seolah-olah mereka tidak pernah merasa memberikan pengaruh buruk terhadap jiwa saya.

Lulus S1, saya mengenal istilah self-healing alias menyembuhkan secara mandiri. Dari sini saya mulai berbenah. Saya tidak mau menjadi manusia yang emosional. Saya merasa perilaku tersebut bukanlah bagian dari diri saya. Saya sangat mudah tersentuh oleh suatu hal sampai meneteskan air mata.

Dalam setiap pemberitaan tentang bullying, ada satu hal yang saya takutkan. Kejadian ini akan terus berulang. Memang benar bukan kasus ini bukanlah kebaruan? Sampai-sampai setiap tahun ada saja. Media sosial pun mendadak ramai memperbincangkan. Saya jengah, meski simpati itu tetap saya rasakan untuk korban.

Saya tidak mengatakan kalau pengguna media sosial mendadak peduli tentang isu bullying setelah ada pemberitaan. Saya hanya menyayangkan dan mempunyai harapan agar kejadian ini tidak terjadi lagi atau paling tidak mampu ditekan.

Dilansir dari majalah Gadis versi daring, ada lima penyebab seseorang menjadi pem-bully, antara lain: cari perhatian, ingin akrab, iri, difficult people (permasalahan kepribadian), dan tidak sadar sudah menyakiti hati orang lain. Senada dengan laman MERAMUDA, pelaku termotivasi atas keinginan berkuasa, sebagai bentuk pelampiasan stres, trauma, serta keluarga yang tidak harmonis.

Jika ditarik kesimpulan, pelaku bullying dipengaruhi oleh dua hal: mindset dan pengalaman yang tidak mengenakkan. Selama belum terselesaikan, maka kasus ini akan terus bermunculan. Kita boleh peduli setelah ada pemberitaan, tetapi itu tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

Kita harus mulai dari langkah paling awal: memperbaiki diri. Apalagi, jika berposisi sebagai orangtua. Anak diibaratkan seperti kertas putih kosong, di mana sangat mudah dibentuk menjadi pribadi yang seperti apa. Di sini saya secara tidak langsung menyuarakan penolakan untuk menikah muda. Pasangan mungkin mengaku sudah mapan secara ekonomi, tetapi bagaimana dengan kesiapan mental mendidik titipan Tuhan?

Baiklah, mungkin di antara mereka sudah ada yang memenuhi kriteria poin kedua. Bagaimana kalau tidak? Generasi penerus tidak berkualitas akan terus tercetak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x