Mohon tunggu...
Halim Pratama
Halim Pratama Mohon Tunggu... manusia biasa yang saling mengingatkan

sebagai makhluk sosial, mari kita saling mengingatkan dan menjaga toleransi antar sesama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ramadan, Momentum Melawan Hoaks dan Radikalisme

15 April 2021   11:34 Diperbarui: 15 April 2021   11:39 62 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramadan, Momentum Melawan Hoaks dan Radikalisme
Perdamaian Indonesia - jalandamai.org

Saat ini, semua umat muslim di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa. Salah satu unsur penting dalam puasa adalah menahan hawa nafsu. Tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tapi juga menahan segala hal, termasuk hawa nafsu. Tak heran jika jihad akbar dalam Islam adalah menahan hawa nafsu. Karena hawa nafsu ini sangat penting sekali. Karena hawa nafsu harus bisa dikontrol, agar tidak mengarah pada perbuatan yang tidak baik.

Salah satu contoh hawa nafsu yang tidak terkontrol dan bisa mengarah pada perbuatan buruk adalah penyebaran hoaks dan provokasi di media sosial. Aktifitas negative ini begitu masif terjadi di era digital seperti sekarang ini. Orang tidak menghitung dampaknya, hanya karena mengikut hawa nafsunya, provokasi dan hoaks terus menyebar yang berdampak pada perilaku buruk masyarakat. Tidak hanya itu, provokasi juga bisa menghasilkan kebencian. Dan ketika kebencian terus mengemuka, maka potensi intoleransi, radikalisme bahkan terorisme akan semakin terbuka.

Di bulan Ramadan ini, menjadi momentum yang tepat untuk kita semua belajar mengendalikan hawa nafsu. Pengendalian hawa nafsu ini, diharapkan bisa berdampak pada terkendalinya ucapan dan perilaku. Pengendalian hawa nafsu juga akan bisa berdampak pada pola pikir yang positif, dan tidak didominasi oleh negative thinking.

Ingat, bulan Ramadan merupakan bulan pengampunan. Ini momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbanyak berbuat baik. Jika selama ini tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, saat inilah momentum yang tepat untuk merubah. Ramadan bisa menjadi ajang untuk belajar mengendalikan hawa nafsu, belajar memperbanyak ibadah, atapun belajar melakukan jihad yang sesungguhnya.

Melalui puasa, kita dipaksa untuk berpikir lurus, positif thinking, dan tidak mengada-ada. Karena konsekwensinya jelas sekali. Jika berbuat baik, maka akan mendapatkan segudang pahala. Jika berbuat buruk, maka akan mendapatkan segudang dosa. Menebar provokasi bagian dari kebencian. Sementara menebar hoaks bagian dari kebohongan. Keduanya masuk dalam kategori perbuatan yang tidak dikehendaki oleh ajaran agama. Lalu, apakah kalian masih ingin melakukan?

Sekali lagi mari introspeksi. Puasa mengajarkan untuk mengendalikan rasa dan sikap negative. Jika seseorang yang sedang puasa melakukan perbuatan seperti marah, menebar kebencian, atau provokasi, maka ibadah puasanya terancam tidak ada gunanya. Karena itulah mari kita kembali ke fitrah kita sebagai manusia, yang awalnya bersih, kosong, dan tidak punya kepentingan apapun. Mari menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Dengan berserah diri kepada Allah SWT, kita akan belajar untuk membersihkan diri dari segala pengaruh buruk.

Sebagai muslim yang tinggal di negara yang majemuk, saling menghargai, menghormati dan tolong menolong antar sesama merupakan keniscayaan yang tak terhindarkan. Karena itulah hentikan segala penyebaran ujaran kebencian dan provokasi. Mari hidup berdampingan dalam keberagaman. Fenomena radikalisme di Indonesia yang masih terjadi, harus terus dilawan dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal dan keagamaan. Hoaks dan provokasi merupakan salah satu cara untuk memecah belah demi suburnya radikalisme. Mari terus mengobarkan jihad untuk melawan penyebaran hoaks dan radikalisme.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x