Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menengok Desa Kludan, Kampung Tas di Tanggulangin yang Warganya "Sadar Germas"

16 Juli 2019   15:22 Diperbarui: 16 Juli 2019   15:24 0 3 3 Mohon Tunggu...
Menengok Desa Kludan, Kampung Tas di Tanggulangin yang Warganya "Sadar Germas"
Salah satu aktivitas warga Desa Kludan, Tanggulangin, Sidoarjo untuk mempercantik desa/Foto pribadi

Dalam dunia kesehatan, prinsip mencegah lebih baik dari mengobati, ibarat sebuah buku yang terbuka. Semua orang bisa membacanya. Karenanya, banyak yang paham bahwa bila ingin hidup sehat dan terhindar dari penyakit, jangan menyepelekan tindakan pencegahan. Diantaranya dengan membiasakan hidup sehat.

Hanya saja, di masyarakat, prinsip itu ternyata lebih sering sekadar menjadi slogan yang sebatas diketahui, tanpa diterapkan. Gaya hidup sehari-hari yang kita jalani, jauh dari prinsip "mencegah lebih baik dari mengobati" itu. Justru, kita seperti mengundang datangnya penyakit karena gaya hidup yang tidak sehat.

Karena asyik menggunakan gawai (handphone), banyak orang kini senang "mager" alias malas gerak sehingga kurang beraktivitas fisik. Apalagi ditambah kebiasaan merokok, makan makanan instan serta kurang mengonsumsi buah dan sayur. Semua kebiasaan tidak sehat itu berkontribusi pada meningkatnya jumlah kasus penyakit tidak menular (PTM).

Kita Patut Khawatir dengan Data Kenaikan PTM

Apa itu PTM? 

Sesuai namanya, penyakit ini terjadi tidak dikarenakan adanya proses infeksi. Bahkan sebagian penelitian menyebutkan, orang yang mulai terkena PTM tidak merasakan adanya gejala. Karenanya, banyak yang baru menyadarinya ketika PTM tersebut sudah dalam keadaan parah. Diantaranya jantung koroner, penyakit stroke juga diabetes mellitus.

Dulu, tidak sedikit dari kita yang menganggap PTM disebabkan karena faktor keturunan ataupun karena usia sudah tua. Namun, kini diketahui bahwa faktor risiko PTM dikarenakan pola hidup kurang sehat yang berlangsung cukup lama. Bila tidak segera berubah, kita patut khawatir dengan ancaman PTM ini.

Sebab, merujuk pada data Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yang dikeluarkan oleh Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan pada pertengahan Juli 2019, tren jumlah kasus penyakit tidak menular (PTM) di seluruh provinsi di Indonesia, cenderung meningkat. 

Dikutip dari Republika.co.id, https://nasional.republika.co.id/berita/puooo1382/penyakit-tidak-menular-meningkat-di-seluruh-indonesia, Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek menyampaikan bahwa IPKM sub-indeks penyakit tidak menular pada 2018, tumbuh negatif dibanding 2013. Itu menunjukkan, kondisi kesehatan masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun cenderung semakin buruk.

Sebelumnya, studi Global Burden of Disease (GBD) yang dilakukan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dari University of Washington, juga menunjukkan adanya peningkatan beban penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia.

Studi GBD ini menemukan adanya peningkatan angka harapan hidup di Indonesia dari 63,6 tahun di tahun 1990 menjadi 71,7 tahun di tahun 2016. Namun, dalam kurun waktu yang sama, ditemukan angka penyakit tidak menular di Indonesia justru naik drastis. Misalnya kematian dan disabilitas akibat diabetes pada 2016, tercatat mengalami kenaikan 38,5 persen sejak 2006 seperti dikutip dari https://kumparan.com/@kumparansains/angka-penderita-penyakit-tidak-menular-di-indonesia-bertambah-27431110790535672.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4