Mohon tunggu...
Gina Magfirah
Gina Magfirah Mohon Tunggu... Book Reviewer

Seorang polymath yang cinta novel kelas menengah (bukan kelas berat).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Review "Ganjil-Genap" [Ngeracun]

18 Januari 2021   22:43 Diperbarui: 18 Januari 2021   22:43 300 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Review "Ganjil-Genap" [Ngeracun]
source: goodreads

"Jodoh bukan sesuatu yang bisa dipaksa, sesederhana itu." --Jomblo yang dilangkahi

Judul: Ganjil-Genap

Penulis: Almira Bastari (2020)

Halaman: 344 Hal

Sinopsis

Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?
Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.
Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?

Ngeracun

[hanya untuk orang-orang yang oke dengan spoiler]

Setelah pernah membaca Resign! yang best seller, akhirnya aku jadi kepincut baca buku-buku yang lahir dari seorang Almira Bastari. Maka sampailah aku pada momen mengambil buku Ganjil-Genap --the most anticipated novel in 2020-- di rak Gramedia. I shall warn you before, I was terribly head over heels on Resign! jadi walaupun aku belum pernah review tapi aku sangat merekomendasi Resign!.

Gala melakukan segala cara untuk mendapatkan jodoh paling tidak di resepsi pernikahan adiknya setelah tiba-tiba diakhiri hubungan 13 tahunnya oleh Bara. Gala dan sahabat-sahabatnya menyusun strategi untuk mempertemukan jodoh Gala dalam waktu singkat. Ia banyak bertemu dengan berbagai macam cowok, mulai dari perjodohan oleh sahabatnya, tamu saat di Malaysia, kopi darat dari biro jodoh, Pangeran Malaysia, teman SMA, teman menyelam dan terakhir cowok dari pertemuan di bioskop.

I must say Melbourne (Wedding) Marathon, Resign! and Ganjil-Genap are actually incomparable. Mereka punya taste dan premis berbeda, biasanya penulis memang punya ciri khas premis yang hampir mirip di setiap novelnya (dengan plot yang beda tentunya), seperti contoh Colleen Hoover yang punya premis andalan tentang cowok yang cewek yang bertemu pertama kali dan cowoknya yang akan jatuh cinta duluan, atau Ahmad Tohari tentang gaya hidup masyarakat miskin. Almira Bastari tetap punya gaya penulisan yang sama, di ketiga bukunya dia bersikeras untuk tetap membawa-bawa selipan berbau Australia (Ganjil-Genap adalah spin-off dari Melbourne (Wedding) Marathon), dan juga sepertinya Almira sangat menyukai karakter hero yang keras, demanding, posesif dan bucin dengan tipikal heroine yang hard-to-get person, elegan dan high-class. Jadi secara pengembangan karakter ya enggak ada. Seakan-akan di semua novelnya mereka adalah orang yang sama.

"Cowok berkualitas itu kalau bukan pacar orang, atau suami orang, mungkin enggak suka cewek." --Jomblo yang berburuk sangka

Mungkin banyak yang mengira novel ini adalah tentang kisah hubungan Gala dengan seseorang yang telah dicari-cari Gala selama pencarian jodoh. Nyatanya ini adalah one man show. Ini adalah tentang Gala yang mencari jodoh, jadi jangan ngarep bisa langsung ketemu 'the one' di bagian seperempatnya, ini semua tentang upaya Gala. Gala bakal bertemu dengan beberapa cowok sampai di 3/4 bagian novel. Dan kita bener-bener enggak tahu who she'll end up to. Dan itu menarik sih. Suatu elemen surprise tersendiri buatku. Terutama di bagian ending. My jaw was dropped. Tapi aku enggak bakal cerita endingnya.

Selain itu kilas balik Gala yang selalu membanding-bandingkan perlakuan Bara dulu dengan cowok yang ditemuinya, membuat ketegasan bahwa Bara memang bukan untuk Gala. Almira ingin menyadarkan pembaca bahwa Bara pantas diputusin. Jadi enggak ada yang perlu mengungkit-ungkit kemungkinan mereka harusnya kembali bersama saja atau semacamnya.

Tidak memiliki pasangan tidak menjadikan dunia ini berakhir. Dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Dan yang jelas novel ini ingin memperlihatkan potret perempuan di Indonesia. Yang harus diburu-buru soal jodoh sementara laki-laki enggak. Yang kupingnya harus siap mendengar omongan pedas dari masyarakat terhadap perempuan yang belum menikah menjelang 30 atau di atasnya. Novel ini enggak berencana merendahkan atau menyetujui stereotip yang ada, tapi hanya ingin bilang: "Ini loh keadaan perempuan yang belum nikah di umur 30an, kalut, enggak tenang, stres, disalahkan terus atas nasibnya. Dia juga pengen punya jodoh, tapi hidup enggak semudah itu."

Dari 1-5 aku akan memberi 4.0

VIDEO PILIHAN