Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

"Ampiang Dadiah" nan Menggoyang Lidah

8 Maret 2018   17:16 Diperbarui: 8 Maret 2018   19:52 2645
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
AMPIANG. Beras ketan yang sudah ditumbuk. (Foto: Gapey Sandy)

Eh, jangan tanya soal bagaimana hawa di sini. Ibaratnya, kalau AC mobil dimatikan pun, tidak akan panaslah dalam mobil. Pokoknya, cukup dingin, sejuk dan nyaman. Apalagi sambil menyeruput segelas kopi lokal produksi Solok tadi.

Pemandangan ciamik di Alahan Panjang, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Pemandangan ciamik di Alahan Panjang, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Pemandangan indah Danau Kembar di Lembah Gumanti, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Pemandangan indah Danau Kembar di Lembah Gumanti, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Sayang seribu sayang, obyek wisata Panorama Danau Kembar ini seolah kurang terpelihara. Untuk menuju ke lokasi wisata ini saja, rambu lalu lintas maupun informasi penunjuk arah nyaris tak ada. Bahkan ketika di gerbang masuk, plang nama hanya terbuat seadanya, dengan tulisan tangan yang nyaris tak terbaca. Beberapa orang menanti di gerbang, mengutip uang masuk tanpa ada sobekan tiket sama sekali. Sampai di lokasi parkiran kendaraan, sebelah kiri terdapat beberapa kantin yang menjual makanan, minuman, buah, sayur-mayur dan bunga-bunga hias warna-warni. Sisi kanannya, ada seperti bekas restoran atau kantor pengelola yang dibiarkan rusak dan terlantar.

Untunglah semua kondisi yang mengenaskan ini terbayar dengan pemandangan menakjubkan ke sekeliling alam. Langit membiru, awan menggumpal putih, bukit nan subur, perkebunan yang luas dan rapi, serta sudah tentu view Danau Di Atas dan Danau Di Bawah yang bisa terlihat begitu indah perairan maupun pemandangan di sekitarnya.

Danau Di Bawah, salah satu dari dua danau atau Danau Kembar, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Danau Di Bawah, salah satu dari dua danau atau Danau Kembar, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Pemandangan Danau Di Atas - satu dari dua danau yang ada - di Danau Kembar, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Pemandangan Danau Di Atas - satu dari dua danau yang ada - di Danau Kembar, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
"Ampiang Dadiah", sereal ketan dan yogurt susu kerbau

Puas menikmati segelas kopi khas Solok dan memanjakan mata dengan keindahan alam sekitar Danau Kembar, perjalanan menuju Muara Labuh, Solok Selatan lanjut lagi.

Sekitar 18-19 Km dari lokasi Danau Di Atas, atau sekitar 40-an menit perjalanan naik mobil dengan lintasan yang terus berkelok, menanjak, juga menurun, sampailah kami di kawasan Lubuak Batu Gajah, Jorong Cubadak, Nagari Aie Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, masih di Kabupaten Solok. Tepatnya di Rumah Makan Vina.

Di sini, dijual kuliner khas Sumatera Barat yang namanya sudah disebut sejak awal tulisan ini, apalagi kalau bukan "Ampiang Dadiah". Rumah makan ini sederhana saja. Lokasinya pinggir jalan dan berada di lembah. Ya pastilah, namanya juga di Kecamatan Lembah Gumanti, bukan?

Di halaman depan rumah makan, saya melihat berjejer potongan ruas bambu hijau berukuran besar, dengan diameter sebesar paha orang dewasa. Ruasnya panjang, sekitar 1 meteran, dan pada pangkal atasnya ditutup dengan plastik kresek warna-warni. Rapat dan rapi sekali.

Ruas bambu berisi dadiah, hasil fermentasi susu kerbau di rumah makan Vina, Lembah Gumanti, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Ruas bambu berisi dadiah, hasil fermentasi susu kerbau di rumah makan Vina, Lembah Gumanti, Kab Solok. (Foto: Gapey Sandy)
Nah, itulah sebenarnya yang dinamakan "Dadiah".

Dadiah adalah susu kerbau. Ruas bambu hijau tadi adalah wadah untuk menyimpan susu kerbau. Dalam tempo 2 hari 2 malam, susu kerbau cair yang semula segar berubah wujud menjadi beku atau cenderung kenyal seperti agar-agar, ya jelas akibat proses pengendapan (di dalam ruas bambu). Warnanya tetap putih, tetapi tidak seputih seperti sebelumnya. Sudah agak sedikit mengeruh meski tetap putih.

Saya pun mewawancarai bapak pengelola rumah makan yang menjajakan ampiang dadiah ini. Waktu saya tanya siapa namanya, lelaki separuh baya dengan kumis cukup lebat ini hanya menyebut bahwa namanya, "Al".

[Catatan saja, ya memang begitulah barangkali "orang Minang" dalam menyebutkan namanya. Kakak ipar lelaki saya, di rumahnya pun biasa dipanggil dengan "Al" atau "Lalal". Padahal, nama lengkapnya "Aldeman"]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun