Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", "Exploring Hungary"&"Unbelievable Germany", a Tripadvisor level 6, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Mengapa Jaipong Pernah Diisukan Dilarang di Indonesia?

12 Oktober 2017   19:38 Diperbarui: 13 Oktober 2017   19:32 2906 25 19
Mengapa Jaipong Pernah Diisukan Dilarang di Indonesia?
What?MC bilang jaipong pernah dilarang (dok-Gana)

Jawabannya karena ada unsur 3G. Itu bukan koneksi HP yang lebih rendah dari 4G atau LTE. Bukaaaaaaan. Tiga G (3G) yang dimaksud Gitek, Geyol, Goyang. Gubernur Jabar yang menjabat waktu itu menyarankan agar masyarakat mulai mengurangi peredaran tarian yang mengeksploitasi pinggul dan memperlihatkan ketiak. Konon, jika nggak awas, bisa melanggar UU pornoaksi.

Nah, itu infonya baru dapat dari internet. Mengapa saya ungkit-ungkit masa lalu tahun 2009 itu dan repot cari jawaban dari pertanyaan; mengapa jaipong pernah diisukan dilarang di Indonesia?

Begini. Beberapa menit sebelum naik panggung pentas nari jaipong Bajidor Kahot di Konstanz, Jerman tanggal 30 September 2017, MC yang asli Jerman membacakan narasi tentang tari Jaipong.

Kira-kira begini; "Tarian dari Sunda, Jawa Barat yang memiliki unsur pencak silat dan gerakan tiba-tiba, selain gerakan lembut. Sebabnya karena tari yang diciptakan Gugum Gumelar tahun 1961 itu adalah kawinan dari tari Ketuk Tilu, topeng benjat dan pencak silat, seni bela diri yang subur di Indonesia. Tarian jaipong jenis Bajidor populer di Karawang dan Subang. Tarian rakyat yang akhirnya juga in jadi tarian panggung. Silakan menikmati sajian kuliner untuk mata...."

Lebih dari itu, pria berambut ikal warna emas itu tadi menyebut juga bahwa tarian Jaipong pernah dilarang ditarikan di Indonesia.  Sebagai diaspora yang tinggal di Jerman dan kadang ke kampung halaman, merasa ketinggalan jaman, euy. Nggak pernah dengar. Dilarang? Saya nggakngeh dan tentu ... kaget. Mosok, seeeh? Tarian secantik dan seindah jaipong dilarang? Nggak salah, tuuuh?

Tarian jaipong itu menarik

Saya bukan orang Sunda tapi senang dengan tarian milik orang Sunda ini sudah sejak kecil. Selain gerakannya rancak, musiknya (kendang, saron, kecapi, gong) nendang. I love it.

Bahagia nggak hanya gara-gara menang lomba Kemenparekraf (dapat kamera pocket) tapi juga ketika mimpi saya tahun 2013 lewat artikel "Pengalaman Menarikan Tarian Tradisional" itu, tercapai tahun 2016. Yaiy. Saya benar-benar mempraktekkan tarian jaipong di muka publik! Bermimpi adalah bagian dari masa depan. Nggak pernah ngimpi, bisa rugiii.

Yup, pertama kali saya menarikannya bersama kompasianer dalam acara Ngoplah (ngobrol di Palmerah). Lucu dan seru, menari dan ngajari teman-teman ngeblog Bajidor Kahot. Nama-nama beken seperti Rahab Ganendra, Yayat no 46, Syifa, pak Thamrin, Ira Latief, Edrida Pulungan, mbak Marla ... dan para admin (mbak Winda cs) riuh praktek 3G. Waktu itu kipas batik yang saya beli di pasar Johar nggak bisa mekar dahsyat dan tentu, belajarnya belum lama dari youtube. Masih kurang mantab. Huh.

Yang kedua, di Konstanz tahun 2017 itu. Sudah agak lemes gerakannya tapi belum asli  betul narinya. Namanya saja amatir, bukan penari sanggar tapi hobiiii. Gembiranya, kipas sudah bisa mak "grekkk" mekar dan heboh suaranya, kenceng. Maklum, kipas tai chi masterrr dari mal Progo Yogyakarta. Hahaha ....

Tampil sebagai tarian pertama di acara malam Asia di Jerman, nervous, ehhh ... ada gerakan yang lupa. Untungnya, disuruh nari lagi pas penutupan karena penonton berdatangan tambah banyak dan belum lihat awal-awal acara. Lupanya bisa diperbaiki. Tapinya ... yaaah kurang senyum, Gana. Sigh.

Interkulturelles Buffet mit Tanz und Musik (dok.Rahma)
Interkulturelles Buffet mit Tanz und Musik (dok.Rahma)

Bajidor Kahot (dok-Gana)
Bajidor Kahot (dok-Gana)

Ada racikan Balinya (dok.Gana)
Ada racikan Balinya (dok.Gana)

Goyang (dok.Gana)
Goyang (dok.Gana)

Unsur 3G (Getek, Geyol, Goyang) Jaipong

Lebih jauh tentang jaipong. Rangkaian gerakan tariannya adalah bukaan, pencugan, ngala dan mincit. Di dalamnya, ada tiga unsur gitek, geyol dan goyang. Bagi orang Indonesia khususnya orang Sunda pasti sudah tahu apa itu gitek, geyol, goyang.

Yang dimaksud dalam tarian Jaipong punya unsur gitek karena getek, merangsang, genit nan menggoda. Meski tidak melulu dari sentuhan, dari melihatnya (senyuman, gerakan, penampilan baju, bahasa tubuh) saja konon ada orang yang nonton jaipong bisa pengen anu. Gerakan gitek, yaitu pinggul mengayun dan menghentak.,

Dalam diskusi di media massa beberapa tahun yang lalu, ada usulan untuk memperhalus tarian jaipong, mengurangi unsur 3 G khususnya gitek. Hm, adakah nanti kesan cetar Jaipong yang hilang karena salah satu atau dua unsurnya yang dihilangkan?

Geyol

Gerakan berikutnya, geyol ...pinggul memutar. Nggak cuma jaipong saja yang punya gerakan itu. Ada tari kreasi modern Jawa yang punya gerakan geyol antara lain Geyol Dhenok Semarang, Rara Ngigel, Yapong dan masih banyak lagi. Lantas? Mengapa hanya Jaipong yang heboh dipermasalahkan?

Goyang

Ketiga, goyang. Gerakan goyang pada jaipong sendiri adalah mengayun pinggul tanpa hentakan.

Di Indonesia ada namanya musik yang disukai masyarakat, dangdut. Dari sana, lahirlah trend beragam goyang seperti goyang caesar aka goyang bencong (dengan lagu dangdut Juwita Bahar "Buka Sitik Joss"), goyang ngebor Inul Daratista, goyang gergaji, goyang patah-patah .... hahahaha.

Nah, baik gitek, geyol maupun goyang dalam Jaipong sebenarnya nggak masalah dibanding yang goyang dangdutan tho. Itu opini saya selaku diaspora yang ada di Jerman, penari amatir dan ibu RT, lho. Pendapat Anda, mungkin beda. Nggak papa, berbeda tetapi tetap satu (Bhinneka tunggal ika).

Coba saja. Andai bajunya disesuaikan, nggak buka-bukaan pakai kemben, nggak umbar ketek juga orapopo, nggak masalah atau kebaya yang digunakan tidak terlalu ketat. Toh, rok atau kain jarit batik yang dikenakan bisa saja pakai yang longgar. Selain berkesan bagai princess ... juga lebih enak, bebas bergerak seperti saat meloncat atau berputar.

Geyol (dok.Gana)
Geyol (dok.Gana)

Gitek (dok.Gana)
Gitek (dok.Gana)

Goyang (dok.Gana)
Goyang (dok.Gana)

Pakai rok merah (dok.Gana)
Pakai rok merah (dok.Gana)

Pakai kebaya (dok-Gana)
Pakai kebaya (dok-Gana)

Akhirnya nemu kipas
Akhirnya nemu kipas

Lestarikan  Budaya Bangsa Indonesia ke Seluruh Dunia

Mengapa tidak? Bangga dan senang rasanya. Pasti saya bukan satu-satunya orang yang ingin melestarikan tarian jaipong jenis Bajidor (Kahot). Sudah banyak tim kebudayaan Indonesia yang keliling dunia memperkenalkannya. Ada tim PPI Hamburg di Jerman, Tatranesa FKM UI di Malaysia.

Tak asing lagi kalau ada bule yang menarikannya. Simak Suara Indonesia Dance Grup Australia di Koeln, Jerman atau Bidadari Indonesia Dance Group di Belgrade dan Alison Angeline di Washington DC Amrik.

Nggak heran pula kalau diaspora getol memamerkannya. Lihat saja bagaimana Febryna Ayu  Rosalia dan Rosa Stonier di Australia, Lila Bhawa di London dan masih banyak lagi yang mengibarkan merah putih lewat kesenian tari.

So, mari jangan hanya bisa mencemooh orang atau budaya sendiri atawa kebarat-baratan saja saban hari. Wake up. Kalau dilestarikan dan dipamerkan ke seluruh dunia, mengapa sebuah tarian harus dilarang di negeri aslinya? Jangan-jangan kalau distop-dibanned, anak-cucu nggak kenal budaya sendiri dan harus mengejar ke negeri orang untuk belajar budaya nenek moyang. Parah lagi kalau ada negara yang ngaku-ngaku itu jadi budayanya karena yang punya sendiri sudah lupa, bisa panas. Noooo, no way.(G76)