Mohon tunggu...
Fredi Manik
Fredi Manik Mohon Tunggu... Fredi Manik, S.Pd

tinggi 165, rambut ikal, wajah bulat, dan awet muda

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pandanganku tentang Disabilitas

1 Maret 2021   20:50 Diperbarui: 1 Maret 2021   21:29 76 5 0 Mohon Tunggu...

Ini kisahku bersama salah satu siswa disabilitas yang bagi saya dia adalah siswa yang sangat istimewa dan unik. Bagi saya setiap anak itu adalah unik atau istimewa (every chid is special). Karena anak yang disabilitas juga adalah ciptakan Tuhan yang secitra, segambar dengan  Allah. Maka setiap insan harus diperlakukan sama martabatnya dalam kebersamaan dan bersama dalam keberagaman.  

Kisahku ini berdasarkan pengalaman sewaktu awal saya mengajar, yang saya alami di Sekolah pada saat saya sebagai wali kelasnya. Tentu sebagai wali kelas saya lebih sering berkomunikasi dengan anak ini juga dengan keluarganya. 

Namanya adalah Ferdi. Setiap kata, sikap dan perbuatannya  di Sekolah tidak pernah  luput diberitahukan kepada saya dan seolah-olah hanya tanggugjawab saya  serta dipersalahkan. Walau kadang memang saya tidak terima, tetapi saya tetap memberikan diri sepenuhnya kepada Ferdi, karena sejak awal saya sudah meminta agar Ferdi masuk dalam kelas saya. Dan saya tahu tidak semua orang bisa menerima kehadirannya.

Hal demikian tampak banyak kata-kata yang disampaikan kepada saya, bahwa Ferdi adalah anak yang tidak pantas untuk masuk ke Sekolah ini seharusnya di sekolah lain, juga kata-kata bahwa Ferdi susah untuk berkomunikasi, susah untuk mengikuti pembelajaran di kelas, susah bergabung dengan teman-temannya satu kelas. Mendengar itu saya sangat sedih,  terpukul dan sakit hati. Tetapi bagi saya Ferdi adalah anak yang istimewa, maka juga harus diperlakukan pendekatan secara istimewa.

Apa yang disampaikan dan  dialami dari teman-teman saya memang ada benarnya, dan juga saya mengalami, pernah juga kecewa dengan  kata, sikap dan perbuatan Ferdi. Saya sebagai guru belum pernah diperlakukan siswa seperti ini. Dan pada saat itu saya masih bisa mengontrol diri saya. 

Walaupun demikian di pikiran saya terlintas bahwa Ferdi adalah anak yang baik, istimewa dan tidak salah. Hanya pendekata kita saja yang salah, dan harus mengenal karakternya. Maka pada saat itu Saya selalu belajar dan meperhatikan  perkembangan Ferdi. 

Sikap, kata harus saya perhatikan pada saat berbicara kepada Ferdi, Saya harus meperhatikan wajahnya, karena memang Ferdi sewaktu-waktu dia bisa tiba-tiba marah, memukuli dirinya, dan bertindak hal yang fatal.  Dan tips lain bagi saya yaitu  saya juga selalu menyapa dan bertanya mengenai  keadaannya. 

Ternyata dengan tindakan yang saya lakukan ini,  saya mengalami komunikasi yang baik dengan Ferdi, dia nurut saat kita menyuruhnya, dia juga mau bertanya dan mejawab ketika kita mengajukan pertanyaan, dan kita juga bisa memarahi dia ketika dia salah. Dan hal sangat luar biasa Ferdi mau minta maaf jika dia telah melakukan kesalahan yang berbeda drastis dari sebelumnya. 

Perjuangan saya memang  belum berhenti di sini. Hal yang sangat menguras pikiran saya akan Ferdi yakni ketika Ferdi harus dinyatakan pindah ke sekolah khusus karena tidak semua orang dapat menerima keadaannya. 

Maka pada saat itulah saya mengatakan kepada mereka bahwa Ferdi  bisa berkembang seperti anak yang lainnya, Ferdi terbukti bisa mengikuti pembelajaran sebagian dari mata pelajaran hanya pendekatan kita perlu kita lihat kembali, orang tua Ferdi tentu tidak terlalu berharap seperti anak –anak yang lainnya setelah selesai dari sekolah ini akan melanjutkan ke perguruan tinggi, Ferdi belum tentu juga bisa diterima di sekolah lain, dan Ferdi masih punya harapan, cita-cita seperti anak lainnya diperlakukan sama dalam keperbedaan. 

Dan pada akhirnya Ferdi dapat melanjutkan belajarnya dan naik kelas. Saya bangga kepada teman-teman yang juga mendukung. Bangga kepada diri saya karena pandangan  saya terhadap  Ferdi  benar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN