Fitri Manalu
Fitri Manalu Freelance Writer

^TepianDanauMu.com^Penulis Kumcer Sebut Aku Iblis & Novel Minaudiere^Admin Rumpies The Club^@fitmanalu^

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tolong, Berikan Saya Makan Malam Cerpen!

13 Maret 2018   22:40 Diperbarui: 13 Maret 2018   22:52 646 20 13
Tolong, Berikan Saya Makan Malam Cerpen!
Ilustrasi: www.todayifoundout.com

"Jadi, beginilah cara begundal-begundal ini menuliskan karya mereka," gumam Viktor kepada dirinya sendiri. Ia membolak-balikkan surat kabar yang sedang dibacanya. Setumpuk surat kabar lainnya berserakan di atas meja kerjanya yang mengilap. Hari masih pagi, tetapi ia sudah menyekap dirinya dalam ruang baca yang dijejali buku-buku. 

"Borya... Borya!" Viktor berseru memanggil pelayan laki-lakinya. Suara langkah-langkah cepat terdengar mendekati ruang baca. Pintu diketuk, lalu terbuka. Seorang pemuda dengan sikap ragu-ragu melongok dan melangkah masuk.

"Ya, Tuan?"

"Hidangkan sarapan saya sekarang. Lekaslah! Ah... begundal-begundal ini benar-benar membuat saya pusing!" Viktor mulai mengomel. "Kamu harus bersyukur dengan pekerjaanmu. Belakangan ini, semakin sulit menemukan cerpen bermutu. Sama sulitnya dengan mencarikan seorang gadis baik untukmu di kota ini!"

Pipi Borya bersemu ketika mendengar kata "gadis baik". Ia tahu pasti, tuannya membenci gadis cekikikan dengan baju terbuka dan mabuk vodka dalam pesta-pesta. Namun, Borya berpura-pura tidak tahu dan berkata, "Mmm... saya tak mengerti, Tuan. Cerpen bermutu? Gadis baik?"

"Ah... Borya yang malang. Kamu harus membaca semua surat kabar ini. Sudah saya katakan padamu, kamu harus rajin membaca agar pikiranmu dipenuhi hal-hal yang berguna. Kamu benar-benar payah!"

"Bukannya saya tidak mau, Tuan. Sejujurnya... saya kesulitan memahami bahasa berita-berita itu," elak Borya malu-malu.

"Cerpen, Borya. Kita sedang membicarakan sebuah cerita yang akan saya kritik hari ini. Sungguh sial, saya belum menemukan satu cerita pun."

"Satu pun?" tanya Borya. Pemuda itu lalu melihat ke arah tumpukan surat kabar di meja tuannya.

"Ya, saya belum menemukannya," tegas Viktor. "Sementara saya terus mencarinya, tolong bawakan sarapan saya kemari."

"Baik, Tuan."

Beberapa saat kemudian, Borya masuk dengan nampan berisi kasha [1], roti dan secangkir teh panas.

"Di mana saya harus meletakkannya, Tuan?" tanya Borya kebingungan. Hampir tidak ada tempat kosong di meja tuannya.

Viktor merapikan surat kabar di mejanya dan menggesernya ke tepi. "Letakkan di sini saja. Saya sedang memikirkan sesuatu, Borya. Bagaimana mungkin mereka menulis karya-karya sampah semacam ini? Mereka cuma sekumpulan pembual. Huh! Mungkin mereka bisa menipu pembaca, tapi tidak sepasang mata saya." Sepasang mata Viktor berkilat marah saat mengucapkan kalimat terakhir.

"Bagaimana cara mereka menipu pembaca, Tuan?" Air muka Borya nampak kebingungan. "Bukankah pembaca berhak memutuskan apa yang ingin mereka baca?"

"Ah!" Viktor menggebrak meja sehingga sendok terloncat di atas meja. Sepasang matanya bersinar-sinar senang. "Kalimatmu itu! Kamu ternyata lebih cerdas dari mereka! Kamu benar-benar harus lebih banyak membaca, Borya. Saya berharap banyak padamu."

"Pujian Tuan berlebihan," kata Borya salah tingkah. "Saya akan meninggalkan Tuan sekarang. Masih banyak yang harus saya benahi."

"Silakan." Viktor kembali diam dan tenggelam dalam pikirannya ketika Borya keluar dan menutup pintu.

Menjelang makan siang, tumpukan surat kabar di meja Viktor semakin tinggi. Selain surat kabar, buku-buku dan majalah turut berserakan di atas meja. Semua itu seperti kekacauan di antara sisa sarapan pagi yang telah menjadi dingin.

"Borya... Borya!" Viktor kembali memanggil pelayannya dengan lantang. Sebentar saja, Borya muncul dari balik pintu dan berjalan mendekati meja tuannya.

"Ada apa, Tuan?"

"Tolong, bawakan makan siang saya sekarang. Cerpen-cerpen sialan ini membuat saya merasa lapar. Entah dari mana mereka mendapatkan ide-ide menggelikan seperti ini. Sungguh memuakkan!" Viktor memuntahkan seluruh kekesalannya.

"Tetapi... cerpen-cerpen itu dimuat di surat kabar, Tuan," ucap Borya ragu-ragu. "Bukankah... itu artinya cerpen-cerpen itu adalah karya yang baik?"

"Belum tentu! Jangan pernah ucapkan hal konyol itu! Redaktur-redaktur itu bukanlah kritikus seperti saya. Saya takkan pernah menulis kritik jika semua karya itu baik. Ingat itu!" Viktor bicara dengan napas terengah-engah. "Saya adalah Viktor Sergeyevich. Jangan pernah lupakan itu, Borya."

Borya terpana. Air mukanya berubah pasi. Ia berkata perlahan, "Mmm... maafkan saya, Tuan. Saya akan membawakan makan siang untuk Tuan sekarang."

"Ya... kamu boleh membawanya," jawab Viktor lalu kembali menekuri surat kabar di mejanya. Borya bergegas membersihkan sisa-sisa sarapan pagi. Saat Borya akan meninggalkan ruangan itu, Viktor berkata, "Bawakan juga segelas kvass [2] dingin. Kita harus menikmati musim panas ini, Borya."

Lima belas menit kemudian, Borya kembali datang dan membawa nampan berisi segelas kvass, sepiring salad dan herring [3] asin. Ia meletakkan menu makan siang itu dengan hati-hati di atas meja.

"Kelihatannya cukup lezat." Viktor mengangkat sendok, bersiap untuk memulai makan siangnya. Tiba-tiba ia meletakkan kembali sendok itu dan berkata, "Mengapa mereka tidak bisa menuliskan cerita seperti masakanmu yang lezat ini? Karya-karya mereka begitu dangkal. Saya tidak bisa merasakan kemarahan, sukacita atau kesedihan dalam karya-karya itu." Viktor berdecak kesal.

Borya menarik napas. Air mukanya tampak khawatir. "Saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Mungkin... ada baiknya Tuan menanyakan hal tersebut kepada mereka." Saat kalimatnya berakhir, Borya menepuk mulutnya.

"Kali ini kamu keliru," desis Viktor. "Mereka tidak akan berterus terang tentang kelemahan karya mereka. Itu mustahil!"

"Maaf, Tuan... Saya salah menjawab," ucap Borya gugup. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana.

"Sudahlah, tak mengapa. Kamu boleh pergi sekarang." Viktor mengibaskan tangannya.

Borya membungkuk sedikit dan bergegas keluar dari ruang baca dengan roman muram. Tak lama kemudian, terdengar suara orang berbenah dari dapur rumah Viktor hingga jam makan malam hampir tiba.

Pukul delapan malam. Viktor masih mendekam dalam ruang baca. Borya mulai gelisah dan berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong menuju ruang baca tuannya. Saat jarum jam menunjukkan pukul delapan, pemuda itu bergegas menata beef stroganoff [4] dan anggur merah di atas nampan. Borya bergumam, semoga saja tuannya berselera menghabiskan makan malam yang ia sajikan.

Borya mengetuk pintu. Tak ada suara. Pemuda itu mendorong pintu ruang baca perlahan dan melangkah masuk.

"Saya tidak menyuruhmu masuk," kata Viktor lelah. Ia hanya tertunduk, masih menekuri surat kabar di atas meja.

"Ta-pi, ini sudah jam delapan dan Tuan belum juga memanggil saya," kata Borya bersikeras. "Maafkan saya, saya lihat makan siang Tuan berkurang hanya sepertiga. Saya membawakan makan malam untuk Tuan, beef stroganoff dengan lebih banyak krim asam dan mustard..."

"Tidak," geleng Viktor. Kacamatanya melorot di ujung hidung. Sepasang matanya menatap pemuda itu dengan putus asa. "Tolong, bawakan saya makan malam cerpen! Sebuah cerpen yang layak untuk dikritik seseorang seperti saya. Sekarang juga! Kamu bisa?"

Borya melongo. Parasnya memucat. Sesaat kemudian, ia berbalik menuju pintu dengan langkah tergesa-gesa. Sejak saat itu, sang pelayan tak pernah lagi terlihat di kediaman sang kritikus.

***

Tepian DanauMu, 13 Maret 2018

 

[1]  Bubur khas Rusia, sering dimakan saat sarapan.

[2] Minuman fermentasi yang berasal dari fermentasi roti atau gandum-ganduman, terutama jenis gandum hitam.

[3]  Olahan ikan herring yang disajikan bersama salad

[4]  Tumisan dari potongan daging yang diolah dengan krim asam.