Mohon tunggu...
Bahasa

RESENSI BUKU "Pengembaraan Syekh Akhmad" (2016)

6 Januari 2019   23:53 Diperbarui: 7 Januari 2019   00:15 0 0 0 Mohon Tunggu...
RESENSI BUKU "Pengembaraan Syekh Akhmad" (2016)
tugas-uas-1-5c3235f9ab12ae41d056a97a.jpg

 

Judul               : Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara

Penulis             : Denda Rinjaya

Penerbit           : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Tahun terbit     : 2016

Tebal               : 58 halaman

Bahasa             : Indonesia

Sampul            : Latar belakang warna coklat

Buku dengan judul Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara ditulis oleh Denda Rinjaya. Buku ini diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada tahun 2016. Denda Rinjaya yang merupakan penulis buku ini lahir Sukabumi, tanggal 23 September 1984. Beliau memiliki pos-el dendarinjaya@yahoo.com. Beliau juga ahli dalam berbagai bidang terutama bidang Bahasa dan Sastra. Beliau dahulu pernah menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Bahasa Asing-ABA Bandung selama 4 (empat) tahun yaitu sejak tahun 2002 hingga tahun 2006. Beliau juga bekerja sebagai pegawai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama 7 (tujuh) tahun yaitu sejak tahun 2009 hingga Sekarang (terhitung per tahun 2016).

Buku ini merupakan buku yang berisi cerita rakyat dari suatu daerah atau lebih tepatnya daerah Sumatra Utara yang ditujukan untuk bacaan anak setingkat kelas 4 (empat), 5(lima), dan 6 (enam) Sekolah Dasar (SD). Isi dalam buku ini merupakan hasil dari cerita rakyat daerah Sumatra Utara yang cocok untuk menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi anak-anak terutama anak-anak kelas 4 (empat), 5(lima), dan 6 (enam) Sekolah Dasar (SD). Salah satu alasan mengapa buku yang berjudul Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara ini karena dengan membelajarkan buku ini kepada anak-anak terutama anak setingkat kelas kelas 4 (empat), 5(lima), dan 6 (enam) Sekolah Dasar (SD). Menurut saya sendiri buku ini bergenre religius terutama islam, karena buku ini menceritakan seorang bapak  yang sangat mencintai keluarganya. Ia mengembara dan berkeliling ke desa-desa untuk menyiarkan agama. Perjuangannya begitu gigih menegakkan agama dan menyebarkan kebaikan untuk umat. Selain itu salah satu hal yang membuktikan bahwa buku yang berjudul Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara ini bergenre religius terlihat dari judulnya yang mencirikan islam yaitu "Syekh Ahmad". Selain bergenre religious, buku ini juga bergenre asmara karena di dalam buku ini ada dua cerita yaitu Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara dan juga  Pangeran Indra Mencari Putri Raja yang berisikan perjuangan seorang pangeran yang bernama Pangeran Indra dalam mendapatkan kembali cinta sejatinya yaitu Putri Mayang Sari yang diculik oleh Raja Lawuk dari Kerajaan Gajah.

Seperti pendapat saya tadi di dalam buku ini penulis menceritakan dua kisah Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara dan juga  Pangeran Indra Mencari Putri Raja. Untuk kisah Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara berisi tentang kehidupan seorang bapak  yang sangat mencintai keluarganya. Ia mengembara dan berkeliling ke desa-desa untuk menyiarkan agama. Perjuangannya begitu gigih menegakkan agama dan menyebarkan kebaikan untuk umat. Sedangkan untuk kisah Pangeran Indra Mencari Putri Raja berisikan tentang perjuangan seorang pangeran yang bernama Pangeran Indra dalam mendapatkan kembali cinta sejatinya yaitu Putri Mayang Sari yang diculik oleh Raja Lawuk dari Kerajaan Gajah.

Untuk kisah Pengembaraan Syekh Ahmad Cerita Rakyat Dari Sumatra Utara terdiri dari beberapa bagian atau bab antara lain yaitu 1) Syekh Akhmad dan Keluarga Pergi Merantau 2) Perkenalan Syekh Akhmad dengan Penguasa Setempat 3) Syekh Akhmad Diajak Berperang 4) Perjalanan Syekh Akhmad Menapaki Hidup Baru 5) Kepulangan Syekh Akhmad ke Kampung Halaman Sementara untuk kisah Pangeran Indra Mencari Putri Raja juga terdiri dari beberapa bagian, antara lain yaitu 1)Pangeran Indra 2) Putri Mayang Sari Diculik 3) Kesatria Buruk Rupa 4) Pesta Perkawinan yang Gagal 5) Peperangan Melawan Raja Lawuk. Buku ini cocok untuk siswa kelas 4 (empat), 5(lima), dan 6 (enam) Sekolah Dasar (SD) karena seperti yang telah tertulis di sampul judul buku ini, bahwa sasaran pembaca buku ini adalah siswa kelas 4 (empat), 5(lima), dan 6 (enam) Sekolah Dasar (SD) dan juga isinya yang menarik karena dalam penyampaian ceritanya disertai gambar-gambar berwarna yang menarik.

            Buku ini sangat baik, karena buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang berwarna yang membuat buku ini menarik untuk siswa kelas 4 (empat), 5(lima), dan 6 (enam) Sekolah Dasar (SD). Hanya saja gambar-gambar tersebut tidak terdapat di setiap halaman tetapi hanya di beberapa halaman, akan lebih baik jika di setiap halamannya diberi gambar yang sesuai dengan cerita yang ada di halaman itu sehingga siswa ketika membaca akan lebih menarik karena ia akan berimajinasi lebih ketika membaca cerita tadi karena ia akan merasa seolah-seolah gambar itu adalah keadaan atau suasanan yang sebenarnya. Selain dilengkapi dengan gambar buku ini juga dilengkapi dengan bingkai-bingkai halaman yang bergambar dan berwarna sehingga membuat siswa menjadi lebih tertarik. Kemudian paragraf dan kalimatnya dijelaskan secara runtut dan sederhana sehingga mudah dimengerti. Namun, masih terdapat kata-kata yang tidak baku atau bahkan bukan bahasa indonesia seperti "berseliweran" di hal 16. Kemudian ada beberapa kata yang salah ketik seperti yang seharusnya diketik adalah "kepala" tetapi menjadi "kepada' pada kalimat di halaman 17 yang berbunyi "Kami maafkan. Kami juga mohon maaf sebelumnya karena bukan maksud kami berkunjung ke desa ini tanpa permisi, tetapi kami baru sampai dan kami belum sempat menemui kepada desa di sini.", kemudian yang seharusnya "sejak saat itu" menjadi "sejak itu" pada kalimat pada halaman 17 yang berbunyi "Sejak itu Syekh Akhmad tinggal di Desa Hinai. Syekh Akhmad pun berkata kepada pemilik sawah itu bahwa ia akan bertanggung jawab dengan tanaman padi yang rusak dan mendoakan agar sawahnya subur dan panen dengan hasil yang bagus.", juga terdapat yang seharusnya "Desa Sebata" tetapi menjadi "Desa Hinai" pada kalimat di halaman 17 yang berbunyi berbunyi "Sejak itu Syekh Akhmad tinggal di Desa Hinai. Syekh Akhmad pun berkata kepada pemilik sawah itu bahwa ia akan bertanggung jawab dengan tanaman padi yang rusak dan mendoakan agar sawahnya subur dan panen dengan hasil yang bagus.", alasannya adalah karena di halaman 15 yang berbunyi Syekh Akhmad cukup berhasil mendidik warga baik dalam bidang ilmu agama maupun pengetahuan di Desa Hinai. Setelah merasa cukup membagi ilmu, Syekh Akhmad pun pamit. Ia kemudian berpindah ke desa lain, desa yang lebih terpencil untuk menyalurkan profesinya sebagai dai. Syekh Akhmad dan keluarga kemudian berpindah-pindah ke desa-desa lain, desa yang lebih jauh ke arah hulu. Mereka menginginkan syiarnya sampai ke seluruh pelosok desa.Berangkatlah Syekh Akhmad ke Desa Setabat.".

            Pada akhirnya walau terdapat kekurangan buku ini sangat disarankan untuk dimiliki para guru dan juga para murid karena selain menarik, buku ini juga bisa untuk difungsikan meningkatkan minat baca siswa karena pada dasarnya dengan rasa mudah difahami dan juga menarik akan membuat siswa senang membacanya dan ketika rasa senang itu muncul maka siswa memiliki minat yang tinggi untuk membaca karena pada dasarnya jika kita ingin suka akan sesuatu maka kita harus senang dahulu seperti seseorang yang ingin bisa menaklukan matematika maka ia harus memiliki rasa senang terlebih dahulu. Alasan lain mengapa buku ini juga mengajarkan hal-hal yang baik kepada siswa yaitu semangat dalam menuntut ilmu dan menyebarkannya yang nantinya dapat membuat anak terinspirasi dan lebih bersemangat dalam menutut ilmu dan menyebarkannya.