Mohon tunggu...
Fiksiana Community
Fiksiana Community Mohon Tunggu... Komunitas pecinta fiksi untuk belajar fiksi bersama dengan riang gembira

Komunitas Fiksiana adalah penyelenggara event menulis fiksi online yang diposting di Kompasiana, yang kini telah bertransformasi menjadi agen kepenulisan. Jika Anda memiliki naskah fiksi berkualitas dan bingung ingin menerbitkan ke mana, silahkan ke Fiksiana Community. Group kami: https://www.facebook.com/groups/Fiksiana.Community/ |Fan Page: https://www.facebook.com/FiksianaCommunity/ |Instagram: @fiksiana_community (https://www.instagram.com/fiksiana_community/) |Twitter FC @Fiksiana1 (https://twitter.com/Fiksiana1)

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

[Event Cerita Mini] Ketika Aku Kecil

3 Juli 2019   20:02 Diperbarui: 4 Juli 2019   15:44 0 15 17 Mohon Tunggu...
[Event Cerita Mini] Ketika Aku Kecil
foto dok. Kelas Inspirasi Kudus

Dear, Member Fiksiana Community...
Mimin udah pada turun gunung nihh, mau ngadain event lagi untuk teman-teman, dan ada hadiahnya pula.
Untuk event kali ini apa yaa? Hmmm...

Oh ya... Ketika Aku Kecil aja yaa.
Jadi, udah pasti kan teman-teman punya masa kecil yang indah, sulit, gembira, sedih, konyol, atau apa saja lah, yang penting bisa dituangkan dalam sebuah cerita. Boleh kenyataan (Real) atau ditambah-tambahin (Fiksi)

Untuk ketentuannya Mimin tulis di paling bawah aja yaa, karena sebelumnya Mimin udah gatel mau nulis dulu. Pokoknya, kalimat pembuka ditulis dengan kalimat, "ketika aku kecil, aku pernah...."
Ok... Berikut contohnya.

Lukisan Sederhana
Ketika aku kecil, aku pernah menggambar sosok Ayah yang sedang berdiri di pantai. Wajahnya menghadap lautan luas berwarna biru, tatapannya jatuh pada horison yang menjingga.

Aku gemar menggambar sejak usiaku enam tahun. Itu kata ayahku. Aku sendiri tidak terlalu mengingat sejak kapan aku mulai suka dengan pensil warna. Aku menggambar apa saja. Pohon jambu di halaman, bunga-bunga di teras rumah, juga menggambar Si Boleng, kucing peliharaan kami yang berwarna belang. Karena itulah, setiap kali aku meminta sesuatu, Ayah pasti akan memintaku membuat sebuah gambar dengan tema yang sudah beliau tentukan.

Seperti tempo hari aku meminta sepeda, Ayah memintaku untuk menggambar sosok Ibu yang sedang bersepeda. Pun saat aku meminta tas bergambar, Ayah memintaku untuk menggambar teman-temanku yang sedang bermain di halaman rumah. Jadi, tiap kali selesai menggambar, aku menunjukkannya pada Ayah, dan aku mendapat apa yang aku pinta beberapa hari kemudian. Semua hasil karya itu aku kumpulkan hingga tak terasa sudah menjadi satu buku besar. Beraneka lukisan yang digores dengan berbagai macam alat gambar, mulai dari pensil warna sederhana hingga cat air yang harganya lumayan menguras uang jajanku.

Awalnya aku heran, mengapa Ayah selalu memintaku menggambar sesuatu sebelum aku mendapat apa yang kuinginkan. Baru kusadari saat ini, mungkin kala itu Ayah hendak mengajariku untuk selalu berusaha atas apa-apa yang aku inginkan, di samping terus memupuk dan mengembangkan bakat yang ada pada diriku.

Suatu hari, aku mengingat kegembiraan saat bermain di pantai dengan Ayah dan Ibu. Aku menginginkan hal itu kembali. Kuutarakan keinginanku kepada Ayah. Beliau lalu menunjuk angka merah pada kalender, tanggal kami akan berekreasi ke pantai. Tentu saja Ayah mengajukan syarat padaku. Ayah ingin aku menggambar dirinya yang sedang berdiri di tepi pantai. Dalam waktu satu minggu itu aku berusaha untuk menggambar dengan baik.

Satu minggu kemudian, sehari sebelum keberangkatan ke pantai, gambarku selesai. Aku hendak menunjukkan hasil gambarku pada Ayah saat beliau pulang kerja. Aku bersiap menyambut kedatangannya dengan menggenggam selembar lukisan cat air, tetapi Ibu berkata supaya aku menunjukkan lukisan esok hari, hari keberangkatan kami ke pantai. Aku menurut. Aku baru memahami ucapan Ibu saat melihat Ayah di ambang pintu. Wajahnya agak pasi.

Ibu mengajakku ke rumah sakit. Aku melihat Ayah dibaringkan oleh paramedis di brankar untuk dibawa menuju suatu ruangan. Ibu meminta aku duduk menunggu. Dan, ketika aku hendak duduk, aku melihat Ayah mengangkat tangan kanan dan mengacungkan ibu jarinya untukku.
***
Aku duduk di depan laptop, memandangi layar bertuliskan sebuah cerita pendek berjudul Baby Shark Vs. Baby Octopus. Judul yang tertera huruf besar itu aku ganti menjadi Bayi Gurita yang Baik Hati. Sesaat kemudian, aku membawa laptop dan sebuah buku kliping keluar ruangan.

Lautan berpantai pasir putih tampak terbentang saat aku membuka pintu rumah. Butiran halusnya seakan berseru riang seiring desir ombak yang berkejaran. Aku meletakkan laptop dan buku kliping di sebuah meja, membuka bagian akhir buku itu, meletakkan dalam keadaan terbuka. Aku sangat menikmati pekerjaanku, dengan mulai membuat gambar di laptop untuk storyboard dari cerita yang sudah aku tulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2