Mohon tunggu...
faisal fahmi mrp
faisal fahmi mrp Mohon Tunggu... Pemula bersahaja

Searching.......

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Menjadi Pengembara di Pinggir Telaga

2 Mei 2017   11:10 Diperbarui: 2 Mei 2017   11:23 0 3 1 Mohon Tunggu...
Cerpen | Menjadi Pengembara di Pinggir Telaga
Rssing.com

Menjadi Pengembara dipinggir telaga.

Hari ini tepat jam 01.00 malam waktu Indonesia bagian barat, dimana banyak orang disekitar saya sedang asik terlelap tidur dikamarnya, eh malah saya asik menulis, tapi bukan masalah, lanjuuut.

Saya akan membahas tentang cerita seorang pengembara yang ingin berkelana jauh sampai dimana batas kemampuannya berkelana, dengan penuh upaya dan daya yang dia keluarkan agar pengembaraanya ini memberi hasil dan pelajaran yang baik buat dirinya.

Dipagi hari tepat pukul 2 malam, seorang lelaki berparas tinggi, putih, kurus, lusuh akan melarikan diri dari tempat pengasingannya, selama ini beliau dikenal dengan sosok yang penuh dengan kegembiraan ditempat ia diasingkan, bahkan tidak sedikit orang yang menyukai perangainya yang baik, tutur katanya yang santun, elok paras dan budinya membuat orang disekitarnya terpana akan kehadirannya, namun dibalik paras yang indah, dia tidak menyadari akan hal itu, maklum dia termasuk orang yang jarang bercermin dimasa itu.

Sunyi senyap waktu malam, suara jangkrikpun seakan menghantarnya untuk keluar dan pergi meninggalkan tempat itu, diambillah sebuah tempat perbekalan dengan memasukkan kain lusuh dan sepotong pakaian untuk dikenakannya dikala dia sedang berada jauh. Tidak ada yang tau maksud dia pergi untuk apa, bahkan dirinya sendiripun tidak tahu tujuan dia pergi melangkahkan kaki, yang difikirkannya hanya dia sendiri, dia tidak memikirkan orang lain, terlalu egois mungkin, tapi baginya hal itu merupakan kebebasan untuk mencari pelajaran alam.

Dia bergegas melarikan diri dengan langkah berirama cepat teratur, memandang kedepan lurus tanpa batas, tanpa melihat apa yang dia telusuri, bahaya atau tidak, buat dia tidak ada hal yang menakutkan selain kematian, dan tidak ada hal yang menyenangkan selain mendapat pelajaran hidup yang amat penting baginya dari pada koin emas. Dia terus berjalan dan berjalan tidak peduli gelap gulitanya malam yang menemani pelariannya, yang difikirkannya hanya jalan jalan dan terus berjalan sampai dia mendapatkan sebuah guru untuk mengajari kehidupan.

Matahari mulai menampakkan wujud dipagi hari, lelaki yang berkelana ini sempat memergoki datangnya matahari, dia melihat matahari dan memandanginya terus sampai kiblat pengembara ini tertuju kearah matahari yang telah hadir menggantikan malam untuk menemani perjalanannya, kemudian tidak berapa lama pengembara itu memilih untuk beristirahat, karena kaki yang gemetar sebagai pertanda bahwa ia sudah jauh berjalan dan harus segera mencari tempat untuk beristirahat, dilihat kekiri dan kekanan seakan mencari tempat berlindung memanjakan diri, kemudian dipilihnya sebuah pohon mahoni yang menjulang tinggi seperti baja, disandarkannya badan dan direbahkan tubuhnya seakan memeluk pohon itu, diletakkan kain perbekalan disamping tubuhnya yang bermandikan keringat, selang beberapa saat terpejamlah matanya pertanda dia sedang tidur akibat lelahnya perjalanan separuh malam.

Matahari melihatnya tertidur pulas sampai beberapa saat membangunkannya dengan sebersik sinar yang diselipkan dari balik daun mahoni seakan menyilaukan mata untuk membangunkan pengembara dan membuatnya tersadar dari tidur, pengembara itupun terbangun dan melihat disekelilingnya hutan yang begitu semak, bahkan matahari sudah sepenggalahan, nampaknya dia harus bergegas kembali.

Perut mulai memainkan suara untuk mengajak pengembara itu mencari makan sebagai modal untuk melanjutkan perjalanannya menelusuri belahan hutan, sang pengembara akhirnya memutuskan untuk mencari ikan karena terdengar ditelinganya percikan air yang deras yang letaknya dirasa tidak cukup jauh, dengan instingnya yang pintar diapun mengikuti panduan suara gemercak air itu untuk menuntun nya menemukan ikan yang ingin dicarinya sebagai pengganjal rongga perut yang kosong.

Tidak terasa lima menit dia berjalan, akhirnya ditemukann bentangan telaga yang cukup luas, air jernih sampai dia bisa bercermin di pinggiran telaga itu, bergegaslah kakinya untuk mendekati lebih dekat kepinggir telaga, sampainya dipinggir bibir telaga itu dia berfikir, seakan dia heran mengapa ada telaga dihutan ini, sebelumnya dia tidak pernah tahu ada bentangan air seluas ini, maklum karena dia berada di pengasingan sejak masih kecil, diapun merendam tangan dan kakinnya untuk menikmati sejuknya air telaga, sambil termenung memikirkan apa yang dilihatnya, maklum pemikiran pengembara ini memang cepat berkembang karena faktor kepiawaiannya memainkan pola tarian di otaknya.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk berfikir mencari ikan, malah seekor ikan bermain-main didekatnya, ikan inilah yang membuatnya terpancing untuk menjalankan niatnya setelah bangun tadi, dilihat sekelilingnya ada patahan ranting runcing seakan memanggilnya untuk membuat mata tombak buat penangkap ikan, dan akhirnya tidak menunggu waktu lama pemuda tersebut pun mengambil beberapa ranting tersebut , jleb jleb jleb, sipemuda pengembara itu tidak berfikir panjang, sekali lempar 15 tusukan jatuh menghujam telaga , telaga pun berbuih bahkan ikan kecil berlarian, hari itu tidak satupun ikan yang dia dapatkan, sampai perutnya makin mengeluarkan suara yang berdenging ditelinga, untuk mengajaknya mempercepat gerakannya menancapkan ranting lebih banyak lagi dengan maksud agar ikan lebih cepat tertangkap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x