Mohon tunggu...
Niken Novita Sariii
Niken Novita Sariii Mohon Tunggu... Lainnya - Berani menulis karena tahu, tapi bukan berarti tidak membutuhkan saran/kritik.

Tulislah apa yang telah kamu dapatkan. Ikuti alur jangan lupa bersyukur.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Stop Membenci! Tanah Air Butuh Cinta Kita

9 Mei 2020   15:31 Diperbarui: 9 Mei 2020   15:37 94
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Indonesia sebuah negara yang disebut surganya dunia, dengan segala keindahannya. Berjuta-juta penduduk mengadu nasib di tanah air ini. Banyak keberagaman, bukan hanya agama namun suku, adat istiadat, bahasa, kebiasaan yang semua perbedaan ini disatukan dalam semboyan "Bhineka Tunggal Ika". Pulau-pulau  membentang dari Sabang sampai Merauke menjadikan Indonesia negara yang unik. Bagaimana tidak unik, indonesia mempunyai banyak pulau namun ini bukan menjadikan permasalahan tetapi merekatkan persatuan.

Lebih dari tujuh puluh tahun merdeka, Indonesia masih berstatus sebagai negara berkembang. Banyak yang menginginkan Indonesia menjadi negara maju, bukan negara yang lekang oleh zaman. Namun, dalam beberapa tahun ini Indonesia mengalami banyak problematika yang bahkan sampai sekarang belum bertemu titik ujungnya. 

Belum lagi saat ini Indonesia harus menghadapi pandemi covid-19. Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu yang menggambarkan situasi saat ini. Lalu, bagaimana nasib indonesia kedepan?

Setidaknya pembelajaran mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan selama ini telah membuat saya berfikir tidak hanya melihat satu sudut pandang. Bahwa permasalahan yang ada mempunyai banyak faktor dan tidak semudah membalikkan tangan untuk menyelesaikannya.  

Banyak dari kita yang sering membahas polemik yang ada di negeri ini. Mulai dari hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, kartu sakti yang belum tepat sasaran, tingkah laku etika yang mulai diabaikan, tikus berdasi yang merajalela, perekonomian yang semakin melemah  hingga membahas lucunya negeri ini membebaskan para narapidana yang pada akhirnya dicari kembali karena berulah.

Beberapa permasalahan tersebut, tidak hanya berdampak pada pemerintahan namun menyeluruh sampai pada rakyat kalangan bawah. Jika hal ini tidak diatasi dengan tepat, maka Indonesia berada dalam zona kehancuran.

Sebagai rakyat kecil, tak punya nama, tak punya jabatan. Kita bisa apa?

Apakah kita harus membenci tanah air ini?

Di tengah carut-marutnya negeri ini pantaskan kita membenci negeri ini? marilah menengok kebelakang begitu besar perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan Indonesia. Masih banyak alasan untuk mencintai negeri ini tanpa membencinya. Mencintai tradisi dan kebudayaan misalnya, sebelum semuanya diklaim oleh negara lain. Beberapa contoh budaya yang di klaim negara lain ialah Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malasyia, kursi taman dengan ornamen ukir khas jepara dari Jawa Tengah oleh oknum warga negara perancis, pigura dengan ornamen ukir khas Jepara dari Jawa Tengah diakui oleh oknum warga negara Inggris, Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan diakui oleh perusahaan Jepang , dan masih banyak lagi.

Banyak dari kita terlalu sibuk memikirkan problematika negeri ini, tapi  tak bisa berbuat. Hanya diam, sambil rebahan membaca berita permasalahan negeri ini, lalu bergumam "sakjane ki pemerintah iso opo ora to!", sampai lupa bahwa ada yang perlu dilestarikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun